Di Antara Hujan dan Reruntuhan: Gaza Bertahan dari Beku dan Lapar

Jalur Gaza, SPNA – Malam-malam di Gaza kini tak lagi dibungkus doa, melainkan udara dingin yang menusuk tulang. Di antara reruntuhan bangunan yang dulu disebut rumah, ratusan ribu warga hidup tanpa atap, menanti hujan pertama musim dingin dengan rasa takut yang sama seperti mereka menanti serangan udara.

Di salah satu sudut Deir al-Balah, Abu Ahmad duduk bersila di samping api kecil yang ia nyalakan dari kayu jendela yang hancur. “Kami sudah berminggu-minggu tidur di jalan,” katanya lirih. “Mereka berjanji akan mengirim tenda dan selimut, tapi sampai hari ini, tak satu pun datang.”

Di pangkuan istrinya, Umm Ahmad, anak kecil mereka menggigil, demam tinggi tanpa obat. “Setiap malam aku takut dia tak bangun lagi. Aku cuma ingin satu hal, sebuah tenda untuk bertahana hidup.”

Janji yang Tak Datang

Menurut kesepakatan gencatan senjata, sebanyak 600 truk bantuan seharusnya masuk ke Jalur Gaza setiap hari. Namun, data dari UNRWA menunjukkan, jumlah itu tak pernah tercapai. “Yang masuk tak sebanding dengan kebutuhan,” kata juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna. “Ratusan ribu orang masih tanpa tenda, tanpa obat, tanpa makanan cukup. Semua bahan bantuan kami tertahan di perbatasan.”

Hingga akhir Oktober, kurang dari 1.000 truk bantuan berhasil masuk ke Gaza, hanya sekitar seperenam dari jumlah yang dijanjikan. Ribuan truk lain masih menumpuk di perbatasan Rafah dan Karm Abu Salim, termasuk lebih dari 6.000 truk bantuan UNRWA berisi bahan pangan dan perlengkapan musim dingin.

Di Khan Younis, antrean panjang tampak di depan truk kecil yang membagikan roti dan air. Abu Nasser, pengungsi dari Shuja’iyya, menatap kosong ke barisan yang tak bergerak. “Kami berdiri berjam-jam untuk sepotong roti atau jerigen air. Anak-anak menangis kelaparan, dan kami tak bisa berbuat apapun,” ujarnya.

Antara Politik dan Kemanusiaan

Di tengah situasi itu, bantuan terhambat oleh tarik-menarik politik. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, dalam kunjungannya ke Tel Aviv pekan lalu, menyatakan bahwa Washington “tidak akan mengizinkan UNRWA kembali beroperasi di Gaza,” dengan tuduhan lembaga itu berafiliasi dengan Hamas.

Pernyataan itu dibantah tegas oleh UNRWA. “Kami bekerja berdasarkan mandat PBB, bukan mandat politik,” kata Abu Hasna. “Bahkan Mahkamah Internasional telah menegaskan bahwa Israel wajib mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.”

Namun hingga kini, perbatasan Erez dan Zekim tetap tertutup rapat, membuat truk-truk berisi bantuan menunggu izin yang tak kunjung turun. Di lapangan, para relawan mencoba menutup kekosongan itu dengan segala keterbatasan.

Samar, seorang relawan muda, berdiri di antara tumpukan kardus selimut yang baru tiba. “Kami hanya punya beberapa ratus selimut untuk ribuan orang,” katanya. “Yang mereka minta bukan makanan lezat atau tempat tidur empuk, hanya sesuatu untuk melindungi anak-anak dari hujan.”

Musim Dingin yang Mengancam

Data dari Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) menunjukkan, sekitar 96 persen penduduk Gaza kini hidup dalam ketidakamanan pangan. Sebagian besar tinggal di tenda sementara atau reruntuhan bangunan tanpa pemanas, tanpa air bersih, dan tanpa sanitasi memadai.

Di tengah kehancuran itu, Adam, bocah sembilan tahun dari Khan Younis, bermain dengan batu kecil di jalan yang becek. “Ibu, kapan kita pulang ke rumah?” tanyanya pelan. Ibunya menunduk, tak sanggup menjawab.

Tak jauh dari situ, di Zawaida, mantan guru Abu al-Abed menatap sisa-sisa sekolah tempat ia dulu mengajar. Kini bangunan itu menjadi tempat perlindungan bagi puluhan keluarga. “Kami tidak minta banyak,” katanya, “hanya tempat yang bisa disebut rumah dan secangkir air bersih untuk anak-anak.”

Hingga pekan terakhir Oktober, langit Gaza semakin gelap, udara semakin dingin. Hujan pertama sudah turun di beberapa wilayah utara, menembus tenda-tenda plastik dan menyulap jalan menjadi lumpur. Di kota ini, menunggu bantuan telah menjadi kebiasaan, dan setiap kali suara truk terdengar dari kejauhan, orang-orang berlari dengan harapan yang sama: mungkin hari ini giliran mereka.

Namun seperti kata Abu Ahmad sambil menatap bara api kecil di depannya, “Kami tak lagi menunggu keajaiban. Kami hanya ingin malam tanpa hujan, dan pagi yang sedikit lebih hangat.”

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya