Dari Pilot Hingga Profesor: Rakyat Israel Tolak Perintah Perang Netanyahu

Tel Aviv, SPNA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu  menyalahkan organisasi non-pemerintah yang mendukung penolakan terhadap layanan militer dan menyebut mereka sebagai bagian dari konspirasi yang bertujuan menggulingkan pemerintahannya.

Netanyahu dalam pidatonya, Jum’at (11/04/2025), menegaskan bahwa kelompok penentang perang akan segera dipecat.

Pernyataan ini disampaikan PM Israel tersebut muncul setelah sekitar 950 pilot cadangan Angkatan Udara Israel menandatangani petisi yang menyerukan untuk menghentikan perang. Media Israel juga melaporkan bahwa ratusan tentara cadangan dari angkatan laut dan unit intelijen turut bergabung dengan petisi serupa.

Protes terhadap kebijakan Netanyahu semakin meluas. Tentara cadangan yang terdiri dari pilot-pilot Angkatan Udara Israel, anggota Angkatan Laut, dokter militer, serta tentara intelijen mulai menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan perang yang berlarut-larut di Gaza.

Lebih dari 1000 pilot cadangan menandatangani petisi yang menyerukan penghentian perang, yang mereka anggap lebih mementingkan agenda politik pribadi daripada keamanan nasional Israel.

Selain itu, sekitar 2000 akademisi juga mendukung gerakan serupa. Mereka menuntut agar Israel segera menghentikan serangan, karena dampak kemanusiaannya yang sangat besar terhadap warga Gaza yang tidak bersalah.

Ketegangan internal dalam tubuh militer Israel semakin memuncak. Netanyahu yang merasa terancam oleh meningkatnya perlawanan, memutuskan untuk mencopot pangkat militer dari setiap individu yang menentang kebijakannya.

Dia menggambarkan mereka yang menentang perang sebagai “sekelompok rumput liar” yang didanai dari luar untuk menggulingkan pemerintah sayap kanan yang kini berkuasa.

Seruan perlawanan ini semakin memperburuk krisis kepercayaan di dalam militer Israel, dengan para tentara garis depan yang sebelumnya setia kini mempertanyakan tujuan perang ini dan dampaknya terhadap keamanan negara.

Krisis Kepemimpinan dan Dampak Politik di Israel

Di tengah kekacauan ini, Netanyahu semakin memperburuk krisis dengan menuduh bahwa elemen-elemen luar yang mendanai protes ini bertujuan untuk melemahkan posisi politiknya. Dengan menanggapi protes ini dengan keras, Netanyahu berusaha menguatkan kedudukannya di mata publik dan di dalam struktur militer, meskipun banyak yang mulai mempertanyakan keberlanjutan kebijakan perangnya.

Ketegangan ini juga mencerminkan perpecahan yang semakin dalam di dalam masyarakat Israel sendiri, dengan semakin banyak suara yang menuntut agar Israel menghentikan serangan yang hanya memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza.

Israel terus melancarkan serangan udara yang menghancurkan di wilayah Gaza, dengan serangan besar-besaran yang menargetkan kawasan-kawasan padat penduduk.

Lebih dari 12 orang tewas dalam serangan Israel yang menargetkan rumah-rumah di Khan Younis dan Beit Lahiya, wilayah Gaza Selatan dan Utara.

PBB dilaporkan semakin khawatir dengan kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza akibat blokade yang terus berlanjut. Pasokan makanan, air, dan obat-obatan semakin terbatas, sementara lebih dari 60.000 anak-anak Palestina dilaporkan menderita malnutrisi parah.

(T.RS/S:CNN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya