Yerusalem, SPNA — Konstelasi politik Israel mulai bergerak cepat jelang pemilu Oktober 2026. Dua figur utama oposisi, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, resmi menggabungkan kekuatan politik mereka dalam satu partai baru. Langkah ini bukan sekadar konsolidasi biasa, ini adalah manuver terbuka untuk menantang dominasi Benjamin Netanyahu.
Dalam pernyataan bersama, keduanya menegaskan penggabungan partai “Yesh Atid” dan “Bennett 2026” ditujukan untuk mengonsolidasikan suara oposisi dan mengunci kemenangan dalam pemilu mendatang. Nama partai baru belum diumumkan secara resmi, namun sejumlah media Israel menyebut “Beyahad” (Bersama) sebagai kandidat nama terkuat, sebuah simbol bahwa oposisi kini mencoba berbicara dalam satu suara.
Langkah ini langsung menuai respons positif dari barisan oposisi. Pemimpin partai Demokrat Yair Golan menyebutnya sebagai “angin segar” bagi blok anti-pemerintah. Senada, mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot menilai koalisi ini sebagai fondasi penting untuk merebut kekuasaan dari tangan pemerintah saat ini.
Secara hitung-hitungan politik, langkah ini cukup menjanjikan. Yesh Atid saat ini mengantongi 24 kursi di Knesset, sementara partai Bennett belum memiliki kursi. Namun survei terbaru menunjukkan partai Bennett berpotensi meraup hingga 20 kursi jika pemilu digelar lebih awal. Artinya, jika digabung, kekuatan ini bisa menjadi poros utama oposisi.
Bidik Pemerintahan Netanyahu
Sejumlah tokoh oposisi tak lagi berbasa-basi. Ketua Yisrael Beiteinu Avigdor Lieberman menegaskan bahwa target utama adalah mengganti “pemerintahan 7 Oktober”, stilah yang merujuk pada kabinet Netanyahu pasca-serangan Hamas 2023.
Sementara itu, Benny Gantz menyambut langkah tersebut, namun mengingatkan pentingnya membentuk pemerintahan luas yang tidak bergantung pada kelompok ekstrem. Di sisi lain, pemimpin partai Arab Ra’am Mansour Abbas mengungkapkan bahwa dinamika ini justru diikuti peningkatan serangan politik dari kubu kanan terhadap partainya.
Sejumlah survei memperlihatkan peta kekuatan yang kian kompetitif. Blok oposisi diperkirakan mampu menembus ambang 61 kursi, syarat minimal membentuk pemerintahan, sementara kubu Netanyahu tertahan di kisaran 49 kursi. Partai-partai Arab kembali menjadi “penentu permainan” dalam konfigurasi politik kali ini.
Serangan Balik Kubu Kanan
Kubu Netanyahu tak tinggal diam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung melancarkan serangan politik, menyindir aliansi tersebut sebagai skenario lama yang berpotensi terulang, sambil menyinggung kemungkinan kerja sama dengan partai Arab.
Partai Likud bahkan menuding penggabungan ini sebagai “akal-akalan politik” untuk menggaet suara kanan, serta memperingatkan bahwa koalisi tersebut akan bergantung pada pihak yang mereka cap sebagai “pendukung terorisme”.
Nada lebih keras datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang menuding langkah ini sebagai upaya “menjual negara”. Sementara Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyindir bahwa koalisi tersebut hanya akan menguntungkan partai Arab.
Menuju Pertarungan Terbuka
Dengan waktu yang kian mendekati Oktober, suhu politik Israel dipastikan terus memanas. Polarisasi makin tajam, garis pemisah antara kubu kanan dan oposisi semakin jelas. Aliansi Bennett–Lapid menjadi sinyal bahwa oposisi tak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan mulai merapatkan barisan.
Namun, jalan menuju kekuasaan masih panjang dan penuh tikungan. Dengan gaya politik agresif Netanyahu dan basis pendukung yang solid, pertarungan ini bukan sekadar soal angka di parlemen, melainkan perebutan arah masa depan Israel.
(T.RS/S:TRTArabic)