Washington, SPNA – Oracle Corp. akan merekonstruksi algoritma serta menyediakan keamanan data untuk versi TikTok AS yang baru, menyusul rencana penjualan aplikasi media sosial populer bermodal kepemilikan Tiongkok ini kepada investor AS. Hal ini dilaporkan Bloomberg pada Senin (22/09/2025).
Mengutip seorang pejabat Gedung Putih, media keuangan itu menulis bahwa pengaturan tersebut bertujuan untuk memastikan kendali AS atas algoritma TikTok, yang merekomendasikan video dan menentukan konten apa yang dilihat pengguna di AS.
Pemerintah AS telah menuntut agar ByteDance Ltd., perusahaan induk TikTok asal Tiongkok, melepaskan kepemilikannya atas anak perusahaan TikTok di AS.
Pada 2024, Kongres mengesahkan undang-undang “jual atau larang TikTok” setelah kelompok lobi Yahudi marah melihat banyaknya pemuda AS yang menyaksikan dan membagikan video pembantaian penduduk sipil Palestina di Gaza.
Akses ke TikTok sempat diblokir sementara bagi pengguna AS pada Januari ketika larangan mulai diberlakukan. Namun, Presiden Trump memperpanjang tenggat agar kesepakatan dapat dicapai, sehingga akses dapat dipulihkan hanya setelah satu hari.
Dalam perjanjian yang diusulkan, pemilik TikTok versi AS akan “menyewa salinan algoritma dari ByteDance yang kemudian akan dilatih ulang ‘dari nol’ oleh Oracle,” tulis Bloomberg mengutip pejabat Gedung Putih.
“Data pengguna AS akan disimpan dalam cloud aman yang dikelola oleh Oracle dengan kontrol yang ditetapkan untuk mencegah campur tangan asing, termasuk China,” tambah Bloomberg.
“Oracle, mitra keamanan AS, akan mengoperasikan, melatih ulang, dan terus memantau algoritma AS untuk memastikan konten bebas dari manipulasi yang tidak semestinya atau pengawasan,” menurut sesi tanya jawab yang menyertai komentar pejabat tersebut.
Trump bermaksud menandatangani perintah eksekutif pekan ini untuk meresmikan persetujuannya terhadap penjualan tersebut.
“Saya melakukan pembicaraan bagus dengan Presiden Xi dan, sebagaimana Anda ketahui, telah menyetujui kesepakatan TikTok, dan kini kami dalam proses,” ujar Trump kepada wartawan pada hari Jumat (19/09).
Oracle yang dikendalikan oleh pendirinya, Larry Ellison, sudah menyediakan layanan cloud untuk TikTok dan menyimpan data pengguna di AS serta negara lain sebagai bagian dari kemitraan multijuta dolar bernama “Project Texas”.
Larry Ellison merupakan salah satu tokoh Silicon Valley yang paling pro-Israel dan telah memberikan sumbangan besar kepada Friends of the Israel Defense Forces (FIDF).
Setelah dimulainya operasi militer Israel di Gaza, Ellison menjanjikan dukungan Oracle untuk Israel melalui infrastruktur cloud dan keamanan siber, menekankan komitmennya terhadap sektor pertahanan dan teknologi Israel.
Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) menyatakan bahwa perusahaan teknologi AS, termasuk Microsoft, Amazon, Google, Cisco, Oracle, dan IBM, “terlibat secara mendalam dalam kejahatan (termasuk apartheid dan genosida Palesina)” karena menyediakan infrastruktur cloud dan teknologi AI bagi Kementerian Pertahanan Israel.
Perusahaan media sosial, termasuk TikTok, mempekerjakan banyak mantan perwira intelijen dari Unit 8200 Israel.
Pemerintah Israel juga melobi perusahaan media sosial agar menghapus konten pro-Palestina, memberikan Tel Aviv pengaruh besar dalam keputusan moderasi (penyensoran) konten di platform media sosial besar AS.
Menurut sumber Sensor Tower yang dikutip media keuangan, TikTok memiliki sekitar 66 juta pengguna aktif harian (daily active users) di AS per kuartal ketiga 2025, menjadikannya salah satu aplikasi dengan penetrasi tinggi di negara itu. Di sisi pendapatan aplikasi (in-app revenue), TikTok mencatat US$ 1,3 miliar selama periode yang sama, menjadikannya platform utama dalam pasar monetisasi digital di AS.
Bahaya Bagi Palestina dan Pendukungnya
Pengambilalihan kendali algoritma TikTok oleh perusahaan teknologi pro-Israel seperti Oracle dapat berdampak serius bagi aktivis atau konten pro-Palestina.
Oracle, yang memiliki hubungan kuat dengan Israel dan tokoh-tokoh pro-Israel seperti Larry Ellison, kini berperan langsung dalam mengelola, memantau, dan melatih ulang algoritma TikTok versi AS. Ini membuka peluang besar terjadinya penyensoran sistematis terhadap konten yang dianggap “anti-Israel” atau mendukung narasi Palestina.
Beberapa laporan telah mengindikasikan bahwa platform media sosial besar secara historis sudah menyensor konten pro-Palestina. Sebuah laporan oleh The Intercept (2024) menunjukkan bahwa TikTok, Instagram, dan Facebook telah menurunkan jangkauan (shadow banning) terhadap tagar seperti #FreePalestine, menghapus video yang menampilkan kekerasan militer Israel meskipun sesuai pedoman komunitas, dan memblokir akun aktivis Palestina tanpa alasan yang jelas
Dengan Oracle sebagai operator algoritma, dan dengan riwayat dukungan kuat terhadap Israel, risiko ini semakin besar dan dilegitimasi oleh struktur kontrol resmi.
Selain itu, di bawah kesepakatan baru, semua data pengguna AS disimpan di cloud Oracle dengan keamanan tinggi dan pengawasan ketat. Meskipun diklaim untuk mencegah “pengaruh asing”, struktur ini bisa membuka pintu bagi pengawasan yang lebih besar terhadap aktivis pro-Palestina, apalagi jika dianggap “mengganggu stabilitas” atau “menyebarkan konten berbahaya”.
Risiko bagi aktivis meliputi identifikasi dan pelacakan akun berdasarkan pola konten atau afiliasi, pemadaman konten secara otomatis oleh sistem rekomendasi yang dilatih untuk “menghindari konflik politik sensitif”, dan potensi kerja sama antara Oracle dan lembaga penegak hukum dalam mengakses data pengguna aktivis dengan dalih “keamanan nasional”.
Mengacu pada temuan Access Now, sebuah organisasi digital rights, algoritma yang dirancang tanpa akuntabilitas dapat dengan mudah dimanipulasi untuk mendefinisikan konten solidaritas Palestina sebagai “ekstremisme” atau “konten bermasalah”, meskipun secara hukum tidak melanggar kebebasan berekspresi.
Salah satu bahaya yang lebih halus adalah pengaruh jangka panjang terhadap opini publik melalui bias algoritmik. Jika algoritma dilatih dengan dataset yang menormalkan narasi pro-Israel, maka video yang membingkai Israel sebagai korban akan lebih sering muncul, konten kejahatan terhadap warga Palestina akan ditampilkan secara “tersaring” atau dikaburkan, dan arasi pro-Palestina meski faktual akan tenggelam karena tak mendapat distribusi yang adil.
Hal ini dapat mengikis dukungan publik terhadap Palestina secara perlahan, terutama di kalangan generasi muda yang bergantung pada TikTok untuk informasi dan berita alternatif.
(T.FJ/S: The Cradle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!