Yerusalem, SPNA – Ketika dunia merayakan Hari Anak Sedunia pada hari Rabu, (20/11/2024), penting untuk melihat lebih dekat kesehatan mental anak-anak Palestina di Yerusalem dan bagaimana mereka terpengaruh secara negatif oleh tekanan psikologis yang meningkat akibat situasi kekerasaan dan ketegangan di Kota Suci Yerusalem sejak terjadinya genosida Gaza pada 7 Oktober 2023.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Net, spesialis pendidikan khusus, Shaimaa Abdul Rabah, yang menyelenggarakan kegiatan relaksasi psikologis untuk anak-anak, berbagi wawasan mengenai dampak mendalam perang terhadap kesehatan mental anak-anak. Ia memulai dengan mengatakan bahwa anak-anak di Yerusalem sangat terpengaruh oleh meningkatnya ketegangan dan kekerasan di wilayah tersebut.
Tekanan Psikologis yang Meningkat pada Anak-Anak Yerusalem
Menurut Shaimaa, anak-anak ini hidup di bawah tekanan psikologis yang semakin meningkat akibat situasi keamanan yang tegang, seringnya pemeriksaan militer, dan penutupan jalan, yang membatasi kebebasan mereka untuk bergerak dan memengaruhi kemampuan mereka untuk menikmati masa kecil secara normal.
Dampak Perang: Anak-Anak dalam Keadaan Tertekan
Gerakan Global untuk Hak Anak melaporkan bahwa 164 anak Palestina dibunuh Israel di Tepi Barat sejak genosida dimulai di Gaza, termasuk 22 anak di Yerusalem. Selain itu, data dari Komite Tahanan Palestina menunjukkan bahwa 350 anak Yerusalem yang berusia di bawah 18 tahun telah ditangkap, termasuk 35 anak di bawah usia 12 tahun selama periode yang sama.
Trauma dan Kejutan Psikologis di Kalangan Anak-Anak Yerusalem
Shaimaa menyoroti peningkatan trauma psikologis di kalangan anak-anak ini. Ia mengatakan bahwa anak-anak terpapar adegan kekerasan dan pertempuran dalam lingkungan mereka. Paparan ini menyebabkan penurunan kesehatan mental dan memengaruhi perilaku sosial mereka.
“Dengan berkurangnya kesempatan untuk pendidikan dan bermain dengan aman, tantangan terhadap perkembangan sehat mereka semakin meningkat. Hal ini membutuhkan upaya besar dari keluarga, komunitas lokal, dan institusi untuk menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk mengurangi dampak psikologis dan sosial dalam kehidupan sehari-hari mereka,” kata Shaimaa.
Kehilangan Rasa Aman: Dampak Jelas pada Perilaku Anak-Anak
Shaimaa, yang selalu merujuk pada dirinya sebagai ibu dari dua anak, Kanze dan Kinan, menjelaskan bahwa kehilangan rasa aman di kalangan anak-anak Yerusalem terlihat jelas dalam perilaku mereka sehari-hari di lingkungan yang dipenuhi rasa takut dan kecemasan. Beberapa anak menunjukkan perilaku isolasi, lebih suka tetap dekat dengan anggota keluarga dan menghindari tempat terbuka atau keramaian yang dapat memicu rasa takut.
Sejak perang genosida Israel dimulai di Jalur Gaza, banyak anak yang mengalami gangguan tidur seperti insomnia atau mimpi buruk. Selain itu, terjadi peningkatan kecemasan dan ketidakstabilan psikologis, dengan beberapa anak menunjukkan perilaku agresif sebagai saluran untuk stres dan kemarahan internal mereka terhadap teman sebaya atau anggota keluarga.
Dampak Jangka Panjang Trauma: Risiko Kesehatan Mental
Shaimaa menekankan bahwa anak-anak yang hidup dalam ketakutan dapat mengembangkan kecemasan kronis, depresi, dan gangguan psikologis lainnya. Hal ini melemahkan kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan hidup dan membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan psikologis di masa depan.
Ia juga menunjukkan bahwa pengalaman ketakutan yang terus-menerus memengaruhi struktur otak, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan. Ini berdampak negatif pada fungsi kognitif mereka, kemampuan untuk fokus, dan belajar. Ketakutan juga merusak rasa percaya diri, menciptakan rasa ketidakamanan sosial, yang menghambat pembentukan hubungan sehat dengan orang lain karena anak melihat dunia sebagai tempat yang penuh dengan ancaman.
Strategi Intervensi Efektif untuk Mendukung Anak-Anak Yerusalem
Ketika ditanya tentang strategi intervensi yang dapat diambil untuk membantu anak-anak Yerusalem dalam keadaan sulit ini, Shaimaa menekankan pentingnya memberikan dukungan psikologis dan sosial. Ia menguraikan beberapa pendekatan utama:
Harapan untuk Anak-Anak Yerusalem: Jalan ke Depan
Sebagai penutupan, Shaimaa menegaskan bahwa menyediakan strategi pendukung ini dapat membantu anak-anak Yerusalem menghadapi kenyataan sulit mereka dan beradaptasi dengan cara yang sehat. Upaya ini dapat memberikan harapan dan rasa aman meskipun tantangan besar terus mereka hadapi.
Dengan mengatasi kebutuhan psikologis yang krusial ini, kita dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Yerusalem, memberdayakan mereka untuk sembuh dan berkembang, meskipun di tengah konflik yang berkepanjangan.
(T.FJ/S: Aljazeera)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!