Jalur Gaza, SPNA – Musim dingin telah menjadi “tamu berat” bagi para pengungsi yang hidup dalam tenda-tenda lusuh di Rafah dan Khan Yunis, wilayah selatan Jalur Gaza. Musim yang tidak mengenal belas kasihan ini menyapu masuk ke tenda-tenda mereka tanpa ampun. Jeritan kesedihan terdengar di tengah malam, saat hujan deras menembus tenda-tenda yang tak lagi mampu melindungi para penghuninya.

Ahmed Khalifa (46 tahun) memandang anak-anaknya yang menggigil kedinginan tanpa pakaian kering untuk mengganti baju mereka yang basah kuyup. Dengan raut wajah penuh kesedihan, warga Palestina yang terpaksa bertahan hidup di dalam tenda pengungsi akibat serangan brutal Israel, mengisahkan bagaimana air hujan mulai merembes dari segala arah ke dalam tenda mereka saat malam. “Saya tahu tenda ini tidak mampu menahan hujan, tapi saya tidak punya uang untuk memperbaikinya,” ungkap Khalifa. Ini adalah ketiga kalinya dalam seminggu ia dan keluarganya harus menghadapi bencana ini tanpa solusi.
Di pagi hari, setelah melewati malam musim dingin yang berat, Khalifa memulai harinya dengan membuat penghalang pasir setinggi dua meter di sekitar tenda. Upaya itu dilakukan demi mencegah genangan air hujan mencapai tempat tinggal sementara mereka. Namun, ini hanyalah solusi sementara yang tak cukup menjamin kenyamanan atau keselamatan keluarganya.

Meskipun perang melanda, anak-anak pengungsi Gaza tetap belajar di sekolah darurat (Credit: BBC)
Derita Pengungsi di Tepi Pantai
Para pengungsi di tepi pantai menghadapi tantangan yang lebih berat. Gelombang laut yang semakin tinggi tidak hanya menggenangi tenda-tenda mereka, tetapi juga menghancurkan sisa perabotan dan barang-barang mereka.
“Kami telah menyerukan bantuan berkali-kali, tapi hingga kini tak ada yang benar-benar membantu kami keluar dari situasi sulit ini,” ungkap Muhammad al-Zamili (27 tahun).
“Kondisi ekonomi yang sulit semakin menambah beban. Saya bahkan tidak mampu membeli sepotong roti untuk istri dan anak saya,” tambah al-Zamili.
Lebih dari 100.000 tenda dilaporkan rusak akibat angin kencang dan gelombang laut. Di Mawasi Khan Yunis, tenda-tenda pengungsi tenggelam dan rusak, sementara harga bahan perbaikan seperti nilon dan selotip meroket hingga di luar jangkauan mereka.
Beberapa hari lalu, air laut membanjiri tenda-tenda pengungsi yang didirikan di pantai, merusak semua perabotan yang ada, dan hampir menelan korban jiwa. Para pengungsi mengimbau Palang Merah dan lembaga internasional lainnya untuk segera menyediakan bantuan, termasuk tenda-tenda baru dan tempat tinggal yang lebih layak.
Jumlah pengungsi di Jalur Gaza kini mencapai dua juta orang dari total populasi 2,3 juta sebelum perang. Sebagian besar dari mereka terpaksa berlindung di sekolah-sekolah, rumah kerabat, atau bahkan mendirikan tenda di taman, alun-alun, dan jalanan. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, dengan kekurangan air bersih, makanan, serta minimnya akses terhadap layanan kesehatan. Situasi ini diperburuk oleh penyebaran penyakit yang semakin meluas.
Bencana Kemanusiaan di Tengah Genosida
Perang yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan 44.382 warga Gaza, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 10.000 orang hilang, sementara puluhan lainnya meninggal akibat kelaparan. Kehancuran besar-besaran ini juga melibatkan kelaparan yang merenggut nyawa anak-anak dan lansia dalam salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di dunia.
Israel terus melanjutkan operasi militer yang mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk segera menghentikan pembantaian di Gaza. Selain itu, aksi penghancuran sistematis terhadap infrastruktur publik dan tempat tinggal warga semakin memperparah penderitaan para pengungsi.
Tanggung Jawab Hukum Internasional
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sebelumnya telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel dan mantan Menteri Keamanan Yoav Galant atas dugaan genosida di Jalur Gaza. Meski begitu, hingga kini tindakan nyata untuk menghentikan kejahatan tersebut belum terlihat.
Krisis ini memerlukan perhatian segera dari komunitas internasional. Dengan jumlah pengungsi yang terus meningkat dan kehancuran yang semakin meluas, Gaza menghadapi salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern. Seruan untuk tindakan nyata demi menyelamatkan jutaan nyawa tak bisa lagi diabaikan.
(T.RS/S:Wafanews)