Jalur Gaza, SPNA – Aktivis Yahudi penentang Zionisme, Eitan Bronstein Aparicio, percaya bahwa rezim apartheid Israel suatu hari akan runtuh dan telah berubah menjadi negara yang aktif melakukan genosida.
Aktivis kelahiran Argentina ini tumbuh dalam keluarga Yahudi yang pindah ke Israel saat ia berusia lima tahun. Setelah menjalani dinas militer wajib di tentara Israel, ia menolak untuk bertugas sebagai tentara cadangan di Lebanon dan Tepi Barat yang diduduki.
Lima tahun yang lalu, Aparicio memutuskan untuk tidak lagi tinggal di bawah kendali negara Yahudi tersebut dan pindah bersama keluarganya ke Brussels, Belgia. Di sana, ia bergabung dengan Aliansi Yahudi Anti-Zionis di Belgia. Dalam pidato di depan gedung Komisi Uni Eropa, Aparicio menegaskan bahwa Israel telah berubah menjadi negara genosida. Dia berjanji akan kembali ketika Palestina merdeka.
Menurutnya akar kekerasan di Israel terletak pada Zionisme dan proyek negara Yahudi. Menurutnya, tidak akan ada perdamaian dan keadilan bagi semua orang di Palestina atau Israel selama Zionisme masih bertahan. Aparicio juga menyoroti keterlibatannya dalam memperjuangkan hak-hak pengungsi Palestina dan mengingatkan tentang tragedi Nakba yang menimpa mereka, seperti dilansir TRT, Rabu (16/10/2024)
Runtuhnya Rezim Apartheid
Aparicio membandingkan Israel dengan rezim kolonial dan apartheid lainnya, terutama apartheid Afrika Selatan, yang runtuh karena tekanan internasional, boikot, dan sanksi. Ia yakin bahwa sebagian besar orang Israel yang memiliki pola pikir kolonial tidak akan mau hidup setara dengan warga Palestina. Namun, ia berharap akan ada orang-orang yang bersedia hidup berdampingan dengan Palestina ketika kemerdekaan tercapai. Aparicio dan istrinya pun telah berjanji untuk kembali ke Israel saat Palestina bebas.
Aparicio menekankan bahwa kunci untuk menghentikan rezim apartheid Israel adalah dengan tekanan internasional. Ia menyoroti pentingnya sanksi dan embargo senjata dari berbagai negara, termasuk PBB dan Uni Eropa. Aparicio menekankan bahwa sanksi harus diterapkan di semua tingkatan untuk menekan Israel dan menghentikan kebijakannya yang melanggar hak asasi manusia.
Sikap Barat dan Genosida
Aparicio mengkritik bungkam dan standar ganda negara-negara Barat, khususnya Uni Eropa. Menurutnya, Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar Israel, dan tutup mulut terhadap pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap Gaza, meski kerusakan dan korban di sana jauh lebih besar dibandingkan dengan invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini membuktikan rasisme Uni Eropa, di mana nyawa warga Palestina dianggap lebih rendah dibandingkan nyawa warga Israel, Yahudi, atau Eropa kulit putih.
Tragedi Pembantaian
Mengenai serangan Hamas pada 7 Oktober, Aparicio menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan kekalahan besar bagi Israel. Ia melihat pembantaian yang terjadi setelah serangan tersebut sebagai balas dendam dari Israel, bukan upaya untuk mengalahkan Hamas sepenuhnya. Pembalasan ini, menurut Aparicio, telah berubah menjadi genosida, dengan dunia menjadi atas pembantaian dan penderitaan warga Palestina.
(T.RS/S:TRTWORLD)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!