Ahmed yang Penuh Kasih Sayang, Israel Bunuh Paramedis di Utara Gaza

Gaza, SPNA – Dokter Ahmed Talab Al-Najjar adalah contoh kebaikan, dihormati karena keberanian dan komitmennya. Seorang teman menggambarkannya sebagai “seseorang yang benar-benar baik dan teladan”. Ahmed merasakan tanggung jawab mendalam terhadap korban luka-luka dan sakit. Ia menolak untuk mengindahkan panggilan Israel untuk mengevakuasi utara Jalur Gaza.

Dibunuh Israel Saat Membantu yang Terluka

Pasukan Israel menargetkan dan membunuh Ahmed saat ia dalam perjalanan untuk membantu penduduk Palestina yang terluka. Utara Jalur Gaza masih tetap berada di bawah pengepungan ketat, dengan pemboman berat yang mencegah proses evakuasi korban luka-luka dan sakit. Meski dalam keadaan darurat, Ahmed dengan berani melanjutkan tugasnya.

Pada 15 Oktober 2024, pesawat tempur Israel membom rumah keluarga Al-Sayyid di Bi’r al-Naja, barat Jabalia. Ambulans dan tim pertahanan sipil tidak bisa mencapai mereka karena serangan yang terus menerus berlangsung.

Seorang Penyelamat yang Penuh Komitmen

Di usia 33 tahun, Ahmed mengabdikan dirinya untuk menyelamatkan orang lain. Teman-temannya mengungkapkan bahwa ia melanjutkan pekerjaannya meski dibombardir secara intens oleh Israel. Ghazi Al-Majdalani, seorang sahabat dekat, menekankan dedikasi tak henti-hentinya Ahmed untuk membantu korban luka-luka hingga akhir.

“Dia tidak pernah mendengarkan seruan Israel untuk evakuasi. Tanggung jawabnya terhadap korban luka-luka membuatnya tetap tinggal,” kata Al-Majdalani.

Selain memberikan bantuan medis, Ahmed mendokumentasikan serangan Israel, membagikan foto dan video kepada jurnalis untuk mengungkapkan kekejaman yang sedang berlangsung. Komitmennya terhadap kebenaran dan keadilan tak tergoyahkan.

Khalil Al-Najjar, saudara Ahmed, berbicara tentang jiwa kemanusiaan dan rasa kasih sayang saudaranya. Bahkan ketika keluarganya pindah ke selatan untuk menghindari kejahatan Israel, Ahmed memilih untuk tetap tinggal. Ia mengutamakan tugasnya untuk membantu korban luka-luka. Khalil mencatat bahwa Ahmed bekerja tanpa lelah untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi di antara korban luka-luka. Ia mempertaruhkan nyawanya hingga detik terakhir.

Belasungkawa dan Warisan Kebaikan

Penduduk Palestina di kamp pengungsi Jabalia sangat berduka atas syahidnya Ahmed. Mereka mengakui bahwa ini adalah kehilangan yang signifikan. Mereka mengaku bahkan Ahmed membagikan nomor ponselnya di media sosial, mendorong mereka yang terjebak di utara untuk menghubunginya jika membutuhkan bantuan medis darurat, ketika mengetahui bahwa tim penyelamat menghadapi hambatan dari Israel.

Ahmed al-Kahlout, direktur pertahanan sipil di utara Jalur Gaza, menyampaikan belasungkawanya di media sosial, menyatakan, “Semoga Allah merahmatimu, Ahmed yang penuh rasa kasih sayang. Kamu menghadapi bahaya tanpa rasa takut, menyelamatkan jiwa di tengah kekacauan. Amal baikmu tidak akan dilupakan”.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, juga mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menghalangi akses ke area yang membutuhkan evakuasi.

Direktur sementara Kantor Media Gaza untuk Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Inas Hamdan, menyoroti kondisi yang semakin memburuk di utara Jalur Gaza. Ia memperingatkan tentang risiko besar yang dihadapi warga sipil akibat operasi militer Israel.

“Kami telah memperingatkan tentang situasi yang parah di Jabalia. Tindakan Israel membahayakan puluhan ribu nyawa tak bersalah,” kata Hamdan.

Warisan kebaikan Ahmed Al-Najjar sebagai pahlawan kemanusiaan akan terus menginspirasi mereka yang berjuang untuk membantu orang lain, bahkan di tengah bahaya yang tak terbayangkan.

Genosida Masih Berlanjut

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Penduduk Palestina di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan dan Kesehatan yang memprihatinkan.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (17/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 42.438 orang dan 99.246 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, sekitar 90 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana 756 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

(T.FJ/S: TRT, MEMO)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!