Jalur Gaza, SPNA – Sekitar 2.000 pasien kanker di Jalur Gaza dilaporkan gugur selama tiga tahun agresi Israel. Kekurangan obat-obatan, rusaknya peralatan medis, dan terhambatnya akses pengobatan di luar Gaza memperburuk kondisi ribuan pasien lainnya.
Direktur Pusat Penanganan Pasien Kanker Gaza, Muhammad Ibrahim Abu Nada, mengatakan angka kematian pasien kanker meningkat dari rata-rata satu orang menjadi tiga orang per hari dibandingkan sebelum perang. Ia memperingatkan bahwa rumah sakit tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengobatan pasien akibat keterbatasan obat, perlengkapan medis, dan bahan bakar.
Menurut Abu Nada, sekitar 21.000 pasien dari berbagai penyakit membutuhkan perawatan di luar Gaza. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.500–4.000 orang merupakan pasien kanker yang memerlukan pengobatan khusus.
Namun, pembatasan perjalanan dan terbatasnya layanan medis membuat banyak pasien kesulitan memperoleh perawatan yang tidak tersedia di Gaza. Keterlambatan diagnosis dan terputusnya terapi semakin memperbesar risiko penyakit berkembang.
Dari 36 rumah sakit di Gaza, tidak satu pun beroperasi dengan kapasitas penuh. Hanya 19 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian, menurut Abu Nada.
Abu Nada mengungkapkan sekitar 78 persen perangkat pencitraan medis di Gaza tidak lagi berfungsi. Dari 14 perangkat mamografi untuk mendeteksi kanker payudara, hanya tiga yang masih beroperasi.
Keterbatasan tersebut menghambat pemeriksaan dini, padahal diagnosis yang terlambat dapat membuat kanker berkembang dan semakin sulit ditangani. Pasien juga menghadapi kesulitan memperoleh kemoterapi, radioterapi, dan operasi.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada Oktober, yang diperingati secara global sebagai Bulan Kesadaran Kanker Payudara atau Pink October. Di Gaza, upaya penanganan kanker tidak cukup melalui kampanye kesadaran, tetapi juga membutuhkan alat diagnosis, obat-obatan, dan layanan pengobatan yang memadai.
Abu Nada menyerukan penyediaan obat-obatan dan perlengkapan medis, pemulihan perangkat pemeriksaan, serta pembukaan akses bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza.
Bagi pasien kanker, keterlambatan pengobatan dapat memperburuk kondisi dan mengurangi peluang bertahan hidup. Karena itu, pemenuhan kebutuhan medis dan kelancaran evakuasi menjadi langkah mendesak untuk menyelamatkan ribuan pasien yang masih menunggu perawatan.