Gaza, SPNA – Starbucks, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Kamis (25/09/2025), mengumumkan penutupan ratusan gerai sebagai bagian dari rencana restrukturisasi untuk menyelamatkan bisnisnya yang tengah terpuruk akibat kampanye boikot global.
Perusahaan menghadapi tekanan yang semakin besar akibat penurunan laba dan melemahnya permintaan, yang dipicu oleh boikot luas terhadap mereknya karena sikap perusahaan terkait perang Israel di Jalur Gaza.
CEO Starbucks, Kevin Johnson, mengungkapkan bahwa perusahaan akan menutup ratusan gerai pada bulan ini. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap lokasi-lokasi yang tidak memenuhi target kinerja keuangan atau gagal menyediakan lingkungan kerja yang layak bagi pelanggan dan karyawan. Dengan langkah ini, jumlah total gerai Starbucks secara global diperkirakan akan menyusut menjadi 18.300 gerai pada akhir September.
Selain itu, perusahaan juga mengumumkan putaran kedua pemutusan hubungan kerja (PHK) di kantor pusatnya, dengan sekitar 900 karyawan tambahan terdampak. Total PHK sejak awal tahun 2025 telah mencapai sekitar 1.900 karyawan.
Upaya restrukturisasi ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar 16,4 triliun rupiah, mencerminkan tekanan finansial serius yang dihadapi perusahaan. Meskipun demikian, harga saham Starbucks (kode saham: SBUX) tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam perdagangan pra-pasar, mengindikasikan ketidakpastian yang masih menyelimuti masa depan perusahaan.
Tantangan ini muncul di tengah boikot global terhadap Starbucks akibat tuduhan bahwa perusahaan memberikan dukungan finansial kepada Israel, termasuk kepada organisasi yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan militer Israel. Seruan boikot menyebar luas di media sosial, menyebabkan penurunan penjualan yang cukup tajam dan menambah beban bagi perusahaan yang sebelumnya telah terdampak krisis ekonomi global dan meningkatnya biaya operasional.
Dalam upaya merebut kembali kepercayaan pelanggan, Starbucks mengumumkan rencana untuk mendesain ulang lebih dari 1.000 gerai, dengan fokus pada peningkatan kenyamanan seperti kursi yang lebih ergonomis, lebih banyak colokan listrik, dan penggunaan warna interior yang lebih hangat. Selain itu, perusahaan juga melakukan pembaruan pada menu, termasuk memangkas 30 persen dari daftar menu sebelumnya dan meluncurkan produk-produk baru seperti croissant dan tambahan menu berprotein.
Meski berbagai langkah telah diambil, Starbucks masih menghadapi tantangan besar akibat penurunan laba, tingginya biaya operasional, dan tekanan publik yang berdampak langsung pada citra mereknya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan memerlukan strategi yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis dan membangun kembali reputasinya di pasar global.
Dengan perang di Gaza yang masih berlangsung dan meningkatnya seruan boikot terhadap perusahaan-perusahaan Barat yang dituduh mendukung Israel, masa depan Starbucks tetap diliputi ketidakpastian. Sementara perusahaan berusaha melewati masa sulit ini, tuntutan terhadap transparansi dan kejelasan sikap politik serta kemanusiaan dari para pelanggan pun terus meningkat.

Boikot Meluas
Aksi boikot terhadap Starbucks dan sejumlah perusahaan multinasional lainnya terus meluas sebagai respons atas dugaan dukungan terhadap Israel dalam konflik yang sedang berlangsung di Gaza. Di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, franchisee Starbucks, Alshaya Group, terpaksa memecat sekitar 2.000 karyawan akibat penurunan tajam dalam performa bisnis. Angka ini mewakili lebih dari 10 persen dari total tenaga kerja mereka yang berjumlah sekitar 19.000 orang.
Di Asia Tenggara, dampak boikot juga sangat terasa. Di Indonesia, Starbucks telah menutup sedikitnya 11 gerai sepanjang kuartal pertama 2025, sementara di Malaysia, sekitar 50 dari total 408 gerai ditutup. Pemilik waralaba Starbucks Malaysia, Berjaya Food Bhd, bahkan mengalami kerugian bersih yang signifikan selama beberapa periode terakhir.
Situasi ini turut memengaruhi rencana investasi; misalnya, General Atlantic menunda penjualan saham senilai 54 juta dolar AS (sekitar Rp885,6 miliar) di Map Boga Adiperkasa, operator Starbucks di Indonesia, sementara CVC Capital Partners menghentikan penjualan saham di QSR Brands, operator KFC dan Pizza Hut di Malaysia.
Boikot juga menyasar merek-merek lain seperti McDonald’s, PUMA, HP, Siemens, dan Nestle, yang dituduh memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan dukungan terhadap militer atau negara Israel. Di Asia, tekanan publik semakin kuat setelah munculnya informasi bahwa McDonald’s Israel membagikan makanan gratis kepada tentara Israel.
Aksi ini memicu gelombang kemarahan dan protes di berbagai negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia dan Malaysia. McDonald’s Indonesia mencoba meredam reaksi publik dengan memberikan bantuan kemanusiaan senilai Rp1,5 miliar kepada rakyat Palestina. Namun, langkah itu dinilai belum cukup membalikkan persepsi publik. Di Malaysia, operator McDonald’s dan KFC, QSR Brands, bahkan membatalkan rencana penjualan saham senilai lebih dari 1,2 miliar ringgit Malaysia (sekitar Rp4,2 triliun), akibat tekanan dari gerakan boikot.
Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas global terhadap Palestina kini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi nyata yang mampu mengguncang stabilitas korporasi multinasional.
Sementara itu, dengan dukungan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat, Israel telah membunuh lebih dari 65.000 penduduk Palestina sejak genosida dimulai hampir dua tahun lalu pada Oktober 2023, dengan rata-rata hampir 90 orang dibunuh setiap harinya di Jalur Gaza. Lebih dari 80 persen dari korban jiwa adalah penduduk sipil, termasuk sekitar 20.000 anak-anak.
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!