Mengenal Gaza Cola, Minuman Pro-Palestina yang Menantang Dominasi Coca-Cola

Kaleng Cola Gaza dijual selama aksi protes Pawai Nasional untuk Gaza pada 7 September 2024 di London, Inggris, Inggris Raya (Foto: Leon Neal/Getty)

London, SPNA – Di tengah-tengah genosida penduduk Palestina di Gaza yang didukung Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa dan termasuk perusahan-perusahan internasional, aktivis dan pembuat film Palestina, Osama Qashoo, meluncurkan minuman soda, Cola Gaza, sebagai produk alternatif pengganti minuman soda pro-Israel. Produk ini resmi dijual publik pada Agustus 2024 di London.

Ia mendesainnya sebagai alternatif sahabat bumi, “bebas genosida” (genocide-free), untuk Coca-Cola, terutama karena keterlibatan perusahaan besar tersebut di Atarot, pemukiman Israel yang dianggap ilegal oleh hukum internasional.

Wadahnya berwarna merah menyala dengan motif ke­ffiyeh dan bendera Palestina, serta tulisan “Cola Gaza” dalam kaligrafi Arab. Meski rasanya manis-asam dan mirip minuman kola biasa, Qashoo menekankan bahwa kemasannya dan narasi di baliknyalah yang membuat Cola Gaza bermakna: sebagai simbol protes etis dan panggilan agar konsumen “memeriksa bisakah uang mereka mendukung pembantaian”.

Sejauh ini lebih dari 500.000 kaleng telah terjual dalam hitungan bulan pertama, didistribusikan lewat restoran Hiba Express dan gerai komunitas Muslim di Inggris. Harga jualnya cukup tinggi: sekitar £12 (US$15) untuk enam kaleng, sementara Cola biasa dijual £4,70 (US$6).

Siapa di Balik Gaza Cola dan Apa Tujuannya?

Adalah Osama Qashoo (43 tahun) adalah pendiri jaringan restoran Hiba Express dan berperan aktif sejak lama dalam gerakan pro-Palestina seperti ARM (Asian Relief Movement), ISM (International Solidarity Movement), serta Flotilla Kebebasan Gaza. Ia merintis Cola Gaza bukan hanya sebagai bisnis, semua laba dikembalikan untuk membangun kembali Rumah Sakit al‑Karama Hospital di Gaza yang dihancurkan Israel.

“Kami menginginkan rasa tanpa rasa bersalah, bebas genosida, rasa kebebasan sesungguhnya,” kata Qashoo.

Qashoo menolak suntikan dana untuk Cola Gaza dari institusi besar agar tidak kehilangan kontrol narasi simbolik minuman ini.

Selain Cola Gaza, muncul banyak produk alternatif pro‑Palestina dan lokal yang menggantikan merek besar Barat, di antaranya:

  • Salaam Cola (UK/Turki), didirikan oleh Aykiz Shah pada Nov 2023, menyisihkan 10% laba untuk bantuan Palestina.
  • Palestine Cola (Swedia), dibuat oleh Palestina Drinks di Malmö sejak Maret 2024; hasilnya dialokasikan untuk upaya kemanusiaan.
  • Chat Cola (Tepi Barat), merek lokal Palestina yang melaporkan kenaikan penjualan 40% sejak serangan Oktober 2023, populer di Ramallah dan wilayah sekitarnya.
  • Matrix Cola (Yordania), diproduksi oleh Defaf Al‑Nahrayn Company sejak 2008; sejak Oktober 2023 permintaannya melonjak 200% dan kini dipasarkan ke 45 negara.
  • Spiro Spathis (Mesir), perusahaan soda tertua Mesir; penjualan naik 300% sejak kampanye boikot terhadap merek Amerika/Israel.
  • Mecca Cola (Prancis/UAE), dirilis tahun 2002 oleh Tawfik Mathlouthi; 10% laba disumbangkan ke Palestina dan lembaga social.
  • Mojo (Bangladesh), kampanye donasi ke Gaza; penjualannya melonjak saat boikot minuman Barat.
Osama Qashoo, pencipta Cola Gaza, di Palestine House di London. (Foto: Christian Sinibaldi/The Guardian)

Mengapa Penting?

Cola Gaza bukan sekadar produk, tapi simbol perlawanan, dukungan hak asasi, dan pesan global terhadap korporasi besar. Bersama Salaam Cola, Palestine Cola, Chat Cola, Matrix Cola, Mecca Cola, dan Mojo, mereka menggantikan konsumsi minuman Barat serta menyalurkan dana ke Palestina. Ini membuktikan bahwa pilihan sederhana seperti segelas soda bisa punya dampak kemanusiaan, ekonomi, dan politik.

Minuman lokal ini adalah alat perlawanan simbolis terhadap perusahaan global yang dipandang ikut membiayai atau mendukung militer Israel. Boikot secara signifikan meningkatkan pangsa pasar berbagai merek lokal di wilayah Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Dana keuntungan produk seperti Cola Gaza, Salaam Cola, dan Palestina Cola disalurkan langsung untuk membangun rumah sakit dan mendukung penduduk sipil Palestina di Gaza.

Produk ini membawa pesan politik “rasa kebebasan” dan mengiingatkan publik akan dampak dari konflik. Cola Gaza menegaskan, “ini bukan sekadar minuman”, melainkan alat kampanye dan pengingat moral.

Produk Boikot di Indonesia

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu Palestina, berbagai produk makanan dan minuman yang terafiliasi dengan Israel mulai menjadi perhatian. Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 83 Tahun 2023 serta rekomendasi berbagai gerakan boikot seperti BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), masyarakat dihimbau untuk menghindari konsumsi produk yang secara langsung atau tidak langsung mendukung pendudukan Israel. Beberapa di antaranya adalah merek-merek global yang beredar luas di Indonesia.

Produk minuman bersoda seperti Coca-Cola, Sprite, Fanta, dan Minute Maid termasuk yang paling sering diboikot karena perusahaan induknya diketahui memiliki operasi di pemukiman ilegal Israel. Pepsi juga termasuk dalam daftar boikot karena memiliki hubungan dengan perusahaan di Israel. Selain itu, jaringan kedai kopi Starbucks menjadi sasaran boikot publik karena dianggap tidak bersikap netral dan cenderung berpihak pada Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.

Jaringan restoran cepat saji seperti McDonald’s, KFC, Burger King, Pizza Hut, dan Papa John’s juga banyak diboikot karena diketahui pernah memberikan dukungan berupa makanan gratis kepada tentara Israel. Produk-produk lainnya yang juga masuk daftar boikot antara lain Nescafé, Milo, Dancow, dan Bear Brand yang merupakan bagian dari grup Nestlé. Nestlé memiliki sejarah dukungan terhadap Israel dan memiliki saham di beberapa perusahaan makanan yang berbasis di negara tersebut.

Beberapa camilan populer seperti KitKat, Cadbury, Oreo, Pringles, dan Lays juga direkomendasikan untuk dihindari. Produk-produk ini berasal dari perusahaan multinasional seperti Mondelez dan PepsiCo yang dilaporkan memiliki afiliasi bisnis di Israel. Di sektor minuman ringan dan energi, merek seperti Nutriboost dan Mizone juga menjadi sorotan. Selain itu, beberapa produk Israel murni seperti SodaStream, Eden Spring, dan Sabra (hummus) juga beredar di pasar global dan dihimbau untuk tidak dikonsumsi sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

(T.FJ/S: Aljazeera, Anadolu, Ethical Unicorn, The Guardian, Detik)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!