Solidaritas Global untuk Palestina Terus Tumbuh, Supermarket Italia Hentikan Produk Israel

Roma, SPNA – Sebuah jaringan supermarket di Italia, pada Selasa (24/06/2025), mengumumkan bahwa mereka telah menghentikan penjualan produk-produk asal Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza, yang saat ini sedang menghadapi kekerasan dan blokade bantuan kemanusiaan dari Israel.

Keputusan ini menjadi langkah pertama dari peritel makanan besar di Italia. Coop Alleanza 3.0 menyatakan akan menarik produk Israel seperti kacang tanah, saus tahini, dan alat pembuat air soda merek SodaStream dari rak-rak tokonya.

Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa beberapa supermarket kini mulai menjual minuman bersoda Cola Gaza yang pro-Palestina. Coop Alleanza 3.0 merupakan koperasi terbesar dalam jaringan Coop Italia, dengan hampir 350 toko yang tersebar di delapan wilayah Italia, mulai dari Friuli-Venezia Giulia di utara hingga Puglia di selatan.

“Kami tidak bisa tinggal diam melihat kekerasan yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Kami bersatu menyerukan penghentian segera operasi militer,” ujar pihak koperasi.

Jaringan supermarket Coop di kota Florence dan wilayah tengah Italia seperti Tuscany, Lazio, dan Umbria juga sudah berhenti menjual produk-produk dari Israel. Namun, juru bicara menyatakan bahwa langkah ini bukanlah boikot resmi terhadap produk Israel.

Selama lebih dari 20 bulan serangan di Gaza oleh Israel, sejumlah peritel dan konsumen di berbagai negara telah menyuarakan protes mereka.

Pada hari yang sama, jaringan perusahaan ritel makanan asal Inggris, Co-op Group, juga mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan pembelian produk dari Israel dan 16 negara lain yang dianggap terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional.

Cola Gaza, minuman alternatif pengganti Coca Cola yang pro-Israel. (Foto: Aljazeera)

Solidaritas Global untuk Palestina Terus Tumbuh

Sementara itu, perusahaan eskrim internasional, Ben & Jerry’s, melalui dewan independennya, menyatakan bahwa operasi militer Israel di Gaza merupakan bentuk genosida. Meskipun sempat berselisih dengan perusahaan induknya, Unilever, dewan Ben & Jerry’s tetap tegas menyuarakan penolakan terhadap pendudukan dan kekerasan di Palestina.

Di sektor teknologi, sejumlah perusahaan seperti Microsoft, Amazon, Google, dan Palantir menghadapi tekanan publik karena keterlibatan mereka dalam mendukung militer Israel melalui penyediaan layanan AI dan cloud. Di internal Microsoft sendiri, ratusan karyawan melancarkan protes terhadap kerja sama perusahaan dengan militer Israel.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perusahaan-perusahaan besar seperti Lockheed Martin, Caterpillar, Volvo, dan Raytheon juga dituduh mendapatkan keuntungan dari konflik yang terjadi, dan diminta untuk menghentikan kerja sama mereka.

Tekanan Ekonomi untuk Israel

Aksi boikot ini tidak hanya berdampak secara moral, tetapi juga ekonomi. Israel mengalami tekanan ekonomi yang signifikan akibat kampanye boikot yang terus meluas. Intel, salah satu investor terbesar di sektor teknologi Israel, menunda investasi senilai 25 miliar dolar AS karena situasi politik yang tidak stabil.

Di sisi lain, ribuan bisnis lokal di Israel dilaporkan bangkrut sejak awal serangan besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023. Selain itu, kampanye global BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) diperkirakan telah mengurangi potensi investasi asing dan merugikan ekonomi Israel hingga miliaran dolar.

Perusahaan-perusahaan Barat yang menunjukkan keberpihakan terhadap Israel juga menanggung kerugian besar. Starbucks kehilangan nilai pasar sekitar 11 miliar dolar AS akibat boikot konsumen, terutama di negara-negara mayoritas Muslim. McDonald’s mengalami penurunan nilai pasar sekitar 7 miliar dolar AS setelah diketahui memberikan makanan gratis kepada tentara Israel.

Coca-Cola dan PepsiCo juga mengalami penurunan pendapatan yang signifikan, terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Pendapatan Coca-Cola di kawasan EMEA menurun hingga 35%, sementara laba PepsiCo anjlok hampir 58%.

Fenomena boikot global terhadap Israel dan perusahaan-perusahaan yang mendukungnya menunjukkan kekuatan solidaritas konsumen dalam membentuk arah kebijakan perusahaan. Aksi yang dimulai dari supermarket, restoran, hingga perusahaan teknologi ini menjadi bukti nyata bahwa dunia tidak lagi tinggal diam terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Dalam dunia yang semakin terhubung, pilihan konsumen dapat menjadi senjata ampuh dalam perjuangan kemanusiaan.

Ketika Coop Alleanza 3.0 mengambil langkah sederhana dengan menarik produk dari rak, mereka tidak hanya menunjukkan solidaritas, tetapi juga memperlihatkan bahwa suara konsumen dan dunia usaha bisa menciptakan dampak besar. Dengan tekanan ekonomi yang terus meningkat dan opini publik yang berubah, Israel kini dihadapkan pada tantangan besar, bukan hanya di medan perang, tetapi juga di ranah ekonomi global dan kepercayaan internasional.

(T.FJ/S: Quds News, Reuters, The Guardian)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!