Israel Menculik dan Menangkap Sekitar 1 Juta Penduduk Palestina Sejak 1967

Tentara Israel menangkap penduduk Palestina ketika aksi demonstrasi di kota Hebron, Tepi Barat, menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, pada 7 Desember 2017. (Foto: Wisam Hashlamoun/Flash90)

 

Tel Aviv, SPNA – Berdasarkan laporan terbaru dari organisasi nirlaba American Muslims for Palestine, sebagaimana dilansir TRT pada Jumat (04/07/2025), Israel telah menculik dan memenjarakan sekitar satu juta warga Palestina sejak tahun 1967 — rata-rata 47 orang ditangkap setiap hari. Sistem penjara Israel disebut tetap menjadi “tulang punggung penjajahan” terhadap Palestina.

“Israel secara historis mempertahankan jumlah tahanan sekitar 6.000 orang dalam satu waktu. Jumlah ini sempat naik selama masa eskalasi konflik, akan tetapi kembali stabil dengan cepat,” tulis laporan berjudul Sejarah Penjara di Palestina yang Diduduki tersebut.

Jumlah tahanan melonjak hingga tujuh kali lipat setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023. Saat ini, hampir sepertiga dari total penduduk sipil Palestina yang ditahan di penjara Israel merupakan tahanan baru, dengan jumlah penangkapan meningkat dari 350 menjadi 2.373 orang per bulan.

Laporan ini juga menyoroti bagaimana Tel Aviv menjalankan sistem penahanannya melalui pembatasan gerak dan hukum yang sangat ketat. Sistem ini disebut bertahan berkat dukungan dana, senjata, dan perlindungan diplomatik dari Amerika Serikat.

Penjara-penjara Israel bagi warga Palestina telah lama dikenal sebagai tempat penderitaan yang luar biasa, tidak hanya karena penahanan tanpa pengadilan, tetapi juga karena perlakuan tidak manusiawi yang dialami para tahanan.

Berdasarkan berbagai laporan dari organisasi hak asasi manusia seperti B’Tselem, Addameer, dan Human Rights Watch, banyak tahanan Palestina termasuk anak-anak dan erempuan yang mengalami penyiksaan fisik, pelecehan psikologis, isolasi berkepanjangan, dan minimnya akses terhadap pengobatan. Beberapa bahkan melaporkan mengalami pemukulan, penelanjangan paksa, dan larangan kunjungan keluarga selama berbulan-bulan.

Setelah perang Gaza meletus pada Oktober 2023, kondisi ini memburuk secara drastis. The Washington Post dan Al Jazeera melaporkan bahwa tahanan Palestina yang dibebaskan menggambarkan pengalaman mereka sebagai “mimpi buruk”. Mereka dipaksa telanjang, disiksa, ditelantarkan tanpa makanan selama berhari-hari, dan bahkan dijadikan tameng manusia.

Para mantan tahanan mengaku dipaksa tidur di tanah tanpa selimut saat musim dingin, serta tidak diberi akses ke air bersih. Sementara itu, Associated Press melaporkan kematian Walid Ahmad, remaja Palestina berusia 17 tahun yang meninggal dalam tahanan tanpa pernah didakwa, sebagai simbol mengerikannya sistem penahanan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kondisi penjara semacam ini tidak hanya melanggar prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia, tetapi juga menimbulkan trauma jangka panjang bagi para korban dan keluarganya. Dengan ribuan orang yang ditahan setiap tahunnya, banyak di antaranya tanpa proses hukum, sistem penjara Israel dipandang oleh banyak pihak sebagai alat penindasan sistematis terhadap rakyat Palestina.

Tentara Israel menahan anak laki-laki Palestina ketika demostrasi menentang penduduk Israel di tanah Palestina, di kota Hebron, Tepi Barat. (Foto: Reuters)

Israel juga menerapkan sistem hukum tahanan administratif, khususnya terhadap penduduk sipil Palestina. Tahanan administratif adalah penahanan seseorang tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan tanpa batas waktu yang pasti, berdasarkan apa yang disebut sebagai “bukti rahasia” yang bahkan tidak diungkapkan kepada tahanan atau pengacaranya.

Di Israel, kebijakan ini diberlakukan berdasarkan perintah militer, terutama terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur. Perintah tersebut biasanya berlaku selama 6 bulan, tetapi dapat diperpanjang berulang kali tanpa batas, yang menyebabkan banyak orang-orang Palestina hidup bertahun-tahun di penjara Israel tanpa tahu apa kesalahan mereka.

(T.FJ/S: TRT, B’Tselem, Washington Post)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!