Bantuan atau Tempat Eksekusi? Penduduk Palestina Dibunuh Saat Antri Makanan

Penduduk Palestina membawa seorang pria yang terluka akibat tembakan Israel ketika menunggu di dekat pusat bantuan pangan ke rumah sakit Nasser di Khan Younis di selatan Jalur Gaza pada 17 Juni 2025. (Foto: AFP)

Gaza, SPNA – Setelah berkali-kali gagal menghubungi suaminya dari tenda darurat di Stadion Palestina, Gaza City, seorang istri akhirnya menerima kabar memilukan: suaminya dibunuh Israel di dekat titik distribusi bantuan.

“Hari Jumat itu (13/06/2025), ia berkata kepada istrinya bahwa ia akan mencari bantuan karena mereka kehabisan makanan. Biasanya ia tak membawa ponsel, tapi istrinya mengira ia hanya akan pulang terlambat karena ini adalah percobaan ketiga atau keempatnya, dan sebelumnya ia selalu pulang larut malam,” kata Ahmed Jendiya, kakak iparnya, kepada Middle East Eye.

Saat suaminya tak kunjung pulang, sang istri panik. Ia mencoba menelepon teman-teman yang biasa pergi bersamanya, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Ia tak bisa tidur selama dua hari, mencoba mencari tahu nasib suaminya, apalagi setelah mendengar kabar ada yang terbunuh di lokasi bantuan.

Jenazah Ditemukan di Bawah Jembatan

Sabtu malam (14/06/2025), keluarga Jendiya berangkat ke Gaza Tengah, berencana menginap agar bisa mencari jenazah di dekat titik distribusi sejak pagi. Mereka berjalan sambil menunjukkan foto Jendiya pada warga.

“Seorang pria Badui mengatakan ada lima jenazah di bawah jembatan Wadi Gaza, tapi karena lokasi itu sangat berbahaya, keluarga kami memberinya uang untuk mencarinya dan membawa jenazah jika ditemukan,” ujar Ahmed.

Pria itu masuk ke bawah jembatan hanya memakai pakaian dalam agar tidak jadi target sniper atau drone. Ia menemukan jenazah Jendiya dan mengembalikannya ke keluarganya. Wajah sebelah kiri Jendiya hancur, dan ada lubang besar di belakang kepalanya.

Keluarga yakin ia dibunuh menggunakan tembakan drone quadcopter.

Pada hari yang sama, setidaknya 66 penduduk sipil Palestina dibunuh oleh tembakan Israel di dekat titik distribusi bantuan yang dikelola Amerika Serikat.

Distribusi Bantuan AS-Israel Berujung Maut

Skema distribusi bantuan kontroversial ini dijalankan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang mulai beroperasi pada 27 Mei, setelah hampir tiga bulan Gaza dilarang menerima bantuan kemanusiaan.

PBB mengkritik keras GHF karena melibatkan perusahaan swasta dan tidak melibatkan lembaga resmi internasional. PBB menilai sistem ini justru mendorong pengungsian, kekerasan, dan memperparah penderitaan penduduk Palestina.

Dalam tiga minggu sejak dimulai, lebih dari 420 penduduk sipil Palestina dibunuh dan lebih dari 3.000 lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel di dekat tiga titik distribusi bantuan di Gaza bagian tengah dan selatan.

Pada Selasa pagi saja (17/06/2025), sedikitnya 80 warga Palestina tewas dan ratusan terluka saat mengantre bantuan di Khan Younis dan Rafah, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Kelaparan dan Penjarahan Bantuan

Sementara Gaza Utara masih sangat terbatas akses bantuannya, menyebabkan krisis tepung terigu yang parah. Beberapa truk bantuan yang membawa tepung kadang diizinkan masuk melalui perbatasan Zikim tengah malam, menuju gudang PBB.

Meskipun demikian, truk-truk ini sering diserbu warga kelaparan yang mencoba mengambil bantuan di tengah jalan, dan kadang juga dirampas oleh kelompok bersenjata.

Menurut UNOCHA, antara 19 Mei hingga 11 Juni pagi, sekitar 5.600 ton tepung gandum masuk ke Gaza. Namun, mayoritas bantuan ini tak sampai ke titik distribusi resmi, karena diserbu atau dijarah sebelum tiba.

Salah satu kelompok bersenjata yang diduga melakukan penjarahan adalah Popular Forces, dipimpin Yasser Abu Shabab, yang juga dituduh menjual bantuan PBB di pasar gelap dan bekerja sama dengan GHF dan Israel.

Penduduk Palestina membawa paket makanan yang didistribusikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Penduduk Palestina di Gaza sering dibunuh Israel ketika mencoba mengambil bantuan dari lokasi ‘distribusi bantuan’ yang dikelola GHF tersebut. (Foto: Omar Ashtawy/apaimages)

Israel Dituduh Gunakan Kelaparan sebagai Senjata

Pemerintah Israel juga dituduh oleh organisasi HAM menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, sementara penduduk Palestina, termasuk anak-anak, meninggal karena kekurangan makanan. Namun, bagi warga Gaza, pergi ke titik distribusi bantuan justru lebih berbahaya dari rasa lapar itu sendiri.

“Saya menolak pergi ke titik distribusi AS karena dua alasan. Pertama, tempatnya sangat jauh, saya harus berjalan 10 kilometer untuk mungkin hanya dapat satu kotak kecil bantuan. Kedua, tempat itu terasa seperti lokasi eksekusi. Kamu pergi mencari makanan, tapi tak tahu apakah bisa kembali hidup-hidup,” kata Ahmed.

Akibat krisis tepung, Ahmed pernah mencoba menunggu truk bantuan di Gaza Utara.

“Itu terjadi sehari sebelum kakak ipar saya dibunuh. Saya bermalam di rumah teman dekat lokasi. Tapi bagaimana saya bisa gambarkan suasananya? Api di mana-mana, kapal perang Israel menembak ke arah kerumunan. Kaki saya kaku karena takut. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa lari dan selamat.”

Pada hari Minggu saja, 12 penduduk sipil Palestina dibunuh, dan setidaknya 20 orang lagi dibunuh pada Senin dini hari (16/06) saat menunggu bantuan.

“Saya akhirnya pulang ke sekolah tempat kami mengungsi, dan saya bersumpah tidak akan pernah pergi ke titik-titik itu lagi, bahkan jika kami harus kelaparan. Demi satu karung tepung yang harganya kini mencapai 2.000 shekel (sekitar 9 juta rupiah), nyawa saya hampir hilang,” tambahnya.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!