Tragedi di Gaza: Bantuan AS-Israel Picu Pembantaian Massal

Anak-anak Palestina menunggu makanan di titik distribusi bantuan di Nuseirat, Gaza Tengah, pada 11 Juni 2025 (Foto: AFP/Eyad Baba)

Gaza, SPNA – Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Palestina sebagaimana dilansir MEE, pada Senin (17/06/2025), serangan pasukan Israel terhadap penduduk sipil Palestina yang mencari bantuan di Jalur Gaza telah membunuh sedikitnya 338 penduduk sipil.

Dalam serangkaian serangan terbaru pada titik distribusi bantuan, setidaknya 20 orang Palestina dibunuh Israel dan lebih dari 200 lainnya terluka saat fajar pada hari Senin (17/06). Penduduk Palestina di Gaza terus menghadapi kelaparan ekstrem, akibat blokade Israel yang melarang masuknya makanan dan air bersih ke wilayah tersebut.

Hingga saat ini, hanya Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bantuan yang dikelola Amerika Serikat dan didukung Israel, yang diizinkan menyalurkan bantuan ke warga Palestina. Namun, pembantaian terhadap penduduk Palestina  yang sedang antre bantuan oleh tentara Israel dan pasukan bayaran yang bekerja sama dengan GHF telah terjadi setiap hari.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa 50 korban berada dalam kondisi kritis akibat penembakan langsung oleh tentara Israel terhadap penduduk sipil yang berkumpul di titik distribusi bantuan gabungan AS-Israel.

“Kami menyerukan kepada seluruh pihak terkait untuk segera mencari cara alternatif dalam mendistribusikan bantuan tanpa menyebabkan kematian atau luka serius terhadap warga yang kelaparan,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.

Selain jumlah korban jiwa, setidaknya 2.831 orang terluka dan 9 lainnya masih hilang di lokasi-lokasi distribusi bantuan.

PBB Sebut Skema Bantuan Ini “Mematikan”

Philippe Lazzarini, Kepala Komisioner UNRWA (badan PBB untuk pengungsi Palestina), mengecam sistem distribusi bantuan baru yang dibentuk oleh AS dan Israel. Ia menyebutnya sebagai “sistem distribusi yang mematikan”.

Pembantaian terhadap penduduk sipil yang sedang mencari bantuan ini menjadi pola kekerasan baru di Gaza, selain dari serangan udara dan penembakan yang terus berlangsung.

Menurut laporan Al Jazeera, setidaknya 43 penduduk sipil Palestina tewas pada Senin (16/06) pagi akibat serangan militer Israel. Total korban jiwa dalam perang Israel di Gaza kini telah mencapai 55.432 orang, dengan 128.923 lainnya terluka sejak konflik dimulai.

Sipil Selalu Jadi Korban Paling Besar

Pada akhir Mei lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana untuk membuka akses bantuan terbatas ke Gaza, dengan pengelolaan diserahkan kepada Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang dikendalikan AS dan didukung Israel.

Di tengah krisis kemanusiaan yang semakin parah akibat blokade dan pemboman Israel selama berbulan-bulan, inisiatif bantuan Israel-AS justru memperparah penderitaan rakyat Gaza.

“Tragedi terus terjadi tanpa henti, sementara perhatian dunia teralihkan ke tempat lain,” kata Lazzarini.

Ia menambahkan bahwa bantuan PBB, termasuk dari UNRWA, terus dibatasi, padahal ada banyak bantuan yang siap dikirim masuk ke Gaza. Selain itu, kekurangan bahan bakar parah juga membuat layanan penting tidak bisa berjalan.

“Pembunuhan dan perang hanya akan melahirkan lebih banyak perang dan pertumpahan darah. Penduduk sipil selalu menjadi korban pertama, dan korban paling besar,” tegas Lazzarini.
“Yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan politik, kepemimpinan yang kuat, dan keberanian. Sudah saatnya ada perdamaian yang langgeng di Gaza dan seluruh kawasan.”

Pemadaman Komunikasi Hambat Bantuan Medis

Sementara Gaza terus digempur, pemadaman komunikasi total kembali terjadi dan menghambat layanan darurat serta bantuan medis di seluruh wilayah yang diblokade.

Pada hari Kamis (12/06), semua layanan internet dan telekomunikasi darat terputus setelah Israel menyerang jalur utama serat optik terakhir yang menghubungkan Gaza ke dunia luar.

Dalam pernyataannya, Kantor Media Pemerintah Palestina menyebut pemutusan ini sebagai:

“Kejahatan yang disengaja untuk menutupi kebenaran dan memperdalam bencana kemanusiaan di Gaza. Gangguan komunikasi dan internet yang terus berulang tidak bisa dianggap sebagai kesalahan teknis biasa. Ini adalah tindakan yang direncanakan dengan tujuan memutus Gaza dari dunia luar, menyembunyikan kenyataan, dan mencegah rakyat dari akses terhadap informasi, bantuan, dan keselamatan dasar.”

Wilayah Gaza bagian selatan dan tengah kini ikut terdampak, menyusul kota Gaza dan wilayah utara yang sudah terputus sejak awal pekan. Setelah layanan komunikasi sempat kembali sebagian pada akhir pekan, gangguan baru kembali terjadi pada Senin, saat Israel melanjutkan operasi militer di wilayah tengah dan selatan Jalur Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat, secara keseluruhan, Israel telah membunuh lebih dari 54.900 penduduk Palestina di Jalur Gaza, termasuk setidaknya 16.000 anak-anak. Selain itu, di antara korban tersebut juga terdapat 1.400 tenaga medis, lebih dari 300 pekerja bantuan dari PBB, dan Lebih dari 220 jurnalis. Lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga meninggal, sementara hampir 125.000 lainnya mengalami luka-luka.

Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza, jumlah ini jauh melebihi total bom yang dijatuhkan di Dresden dan Hamburg dalam Operasi Gomorrah, serta London saat Blitz pada Perang Dunia II, yang seluruhnya berjumlah sekitar 32.300 ton.

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!