Musta’ribeen dan Geng Siluman Israel yang Merusak di Gaza

Pemimpin geng kriminal Yasser Abu Shabab, mendirikan pangkalan berbenteng di zona yang dikuasai Israel di Rafah, yang sekarang menjadi zona pembantaian. Kelompok ini beroperasi di bawah perlindungan militer Israel, yang secara rutin menjarah konvoi bantuan, terutama di daerah seperti Rafah timur dan Karem Abu Salem (Kerem Shalom).

Ditulis oleh: Abdal Jawad Omar*

Gaza, SPNA – Dalam sejarah panjang dan menyakitkan konflik Palestina dengan Zionisme, ada sedikit hal yang lebih mengguncang pikiran dan perasaan daripada kehadiran satuan pasukan khusus Israel yang menyamar sebagai orang Palestina. Pasukan ini dikenal sebagai “unit Arab” atau musta’ribeen, agen Israel yang berpura-pura menjadi warga local Palestina. Seringnya mereka adalah orang Yahudi keturunan Arab yang berbicara lancar dalam dialek Palestina dan meniru gaya hidup masyarakat setempat.

Para agen ini menyusup diam-diam, memata-matai dari dalam, dan sering melakukan penangkapan atau pembunuhan mendadak. Mereka tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga merusak rasa saling percaya dalam komunitas, dan membuat masyarakat sulit mengenali dirinya sendiri. Dengan cara ini, musta’ribeen bukan sekadar pasukan tempur, tetapi merupakan senjata infiltrasi yang menghancurkan cermin identitas bangsa Palestina.

Israel pertama kali membentuk unit-unit “Arab” ini untuk bisa melakukan operasi cepat di kamp-kamp pengungsi Palestina yang padat dan sulit dimasuki tentara berseragam. Pasukan ini menjadi jawaban untuk menyusup tanpa terdeteksi dan menangkap target sebelum mereka sempat melarikan diri.

Strategi penyusupan ini, yang sudah lama menjadi bagian dari kolonialisme Israel, kembali terlihat akhir-akhir ini. Dalam sebuah video dari Brigade Qassam Hamas, ada kelompok penduduk Palestina yang bekerja sama dengan militer Israel dan disebut musta’ribeen. Istilah ini biasanya digunakan untuk menyebut agen Israel yang menyamar, tapi di sini dipakai untuk menyebut kolaborator Palestina sendiri, hal ini sengaja dilakukan untuk mengaburkan batas antara pengkhianat dan musuh.

Bahwa Israel bisa menemukan orang-orang Palestina yang mau bekerja sama demi bertahan hidup bukanlah hal mengejutkan. Kolaborasi semacam ini sering lahir dari keputusasaan, tekanan mental akibat blokade berkepanjangan, atau keinginan kecil untuk mendapatkan kekuasaan dalam sistem penindasan. Namun terkadang, dorongan itu juga datang dari dalam komunitas Palestina sendiri. Ini adalah dampak dari kontradiksi besar: perjuangan yang juga harus memerintah, dan pemerintahan yang kadang justru menindas.

Salah satu sosok kolaborator paling terkenal di Rafah adalah Yasser Abu Shabab. Ia dulunya narapidana kasus penyelundupan narkoba, dan kini memimpin kelompok bersenjata yang menjarah bantuan kemanusiaan selama perang genosida yang tengah berlangsung. Kenaikannya menunjukkan bagaimana ikatan klan, kebutuhan bertahan hidup, oportunisme, dan dukungan diam-diam dari sebagian pihak di Otoritas Palestina menciptakan ruang bagi geng-geng semacam ini untuk muncul. Mereka tidak hanya memperburuk keadaan, tetapi juga menciptakan luka baru di tengah luka besar genosida.

Tujuan Israel Memanfaatkan Geng Kolaborator

Israel memanfaatkan kelompok-kelompok kolaborator ini untuk berbagai tujuan:

  1. Menghalangi bantuan kemanusiaan: Mereka merampas dan mengatur distribusi bantuan, mengubah bantuan menjadi alat kontrol.
  2. Memungut “pajak liar”: Mereka memeras ekonomi penderitaan, memposisikan diri sebagai perantara antara penduduk Palestina, penjajah, dan lembaga bantuan asing.
  3. Eksploitasi penderitaan: Mereka menawarkan makanan atau akses kepada warga kelaparan demi memancing kerja sama. Ini bukan sekadar bantuan — tapi alat untuk mengendalikan dan memecah solidaritas masyarakat.
  4. Alat propaganda: Video-video yang menampilkan mereka seolah membantu rakyat Palestina sengaja disebar untuk membangun citra palsu bahwa ada bentuk pemerintahan Palestina yang baru, lebih “patuh” dan tunduk pada Israel.

Tujuan utama mereka bukan sekadar menciptakan kekacauan, tapi membentuk ilusi bahwa mungkin saja ada tatanan lain di Gaza, meski tatanan itu adalah hasil penjajahan. Kehadiran mereka menumbuhkan rasa saling curiga dan mengganggu solidaritas yang rapuh.

Pada akhirnya, yang mereka dapatkan bukanlah kehidupan yang sebenarnya, hanya ilusi dari hidup. Mereka hidup di bawah bayang-bayang kekuatan Israel, menjadi boneka dalam sistem yang dirancang untuk melenyapkan rakyat Palestina dan identitas mereka.

Seperti banyak kolaborator lainnya, mereka membungkus pengkhianatan dengan nama-nama mulia, seperti “Pasukan Rakyat”, nama yang digunakan Abu Shabab untuk geng penjarahnya.

Kolaborator Tanpa Wibawa

Walaupun mereka berguna secara taktis bagi Israel, untuk mengalihkan bantuan, mengatur kelaparan, dan mengganggu penduduk Palestina, peran mereka terbatas. Mereka bukan aktor strategis. Wilayah gerak mereka sempit, pengaruh mereka parasit, dan mereka hanya bisa bertahan selama dilindungi oleh Israel.

Mereka adalah penjahat yang berubah menjadi kolaborator: ada yang kabur dari penjara Palestina di awal perang, ada yang pernah bekerja di Otoritas Palestina, dan ada pula yang diduga memiliki hubungan dengan ISIS. Mereka hidup dari perang, dari bantuan yang mereka rampas, dari senjata yang mereka terima, dan dari izin tidak resmi militer Israel.

Hal yang paling penting bagi Israel bukanlah keberhasilan mereka, tetapi pertunjukan mereka. Tujuannya bukan untuk menaklukkan Gaza, tapi untuk menciptakan gambaran bahwa masyarakat Palestina bisa dipecah dan dirusak. Mereka menjadi simbol keretakan, citra bahwa perlawanan Palestina bisa dihancurkan dari dalam.

Mereka tidak hadir untuk memerintah, tetapi untuk menghantui batas antara perlawanan dan pengkhianatan. Mereka menyebar rasa curiga yang melemahkan tekad bersama. Dalam hal ini, milisi kolaborator lebih mirip alat narasi ketimbang senjata militer. Mereka membantu Israel membangun cerita bahwa kehancuran Palestina adalah akibat dari dalam diri mereka sendiri, dan karena itu, pantas terjadi.

Meskipun demikian, mereka gagal menjadi bagian dari masyarakat Palestina. Berbeda dari mafia tradisional yang punya akar di keluarga atau kelas sosial, para kolaborator ini hidup dalam ruang tanpa kedaulatan. Mereka ditakuti, tapi tidak dihormati. Dikenal, tapi tidak diakui. Ada, tapi disangkal. Mereka adalah teknologi kolonial untuk memecah belah, geng tanpa loyalitas, mafia tanpa harga diri.

Anak-anak Palestina di Rafah mengantre pada 10 Februari 2024 di antara reruntuhan bangunan yang hancur untuk menerima makanan yang disiapkan bagi keluarga Palestina yang mengungsi ke Gaza Selatan akibat serangan Israel. (Foto: Belal Khaled/Anadolu via Getty Images)

Strategi Lama yang Diulang

Strategi memanfaatkan geng untuk menghancurkan persatuan Palestina bukan hal baru. Israel telah lama membina aktor-aktor lokal untuk mengelola dan mengganggu stabilitas Palestina. Di dalam wilayah Israel sendiri, kini muncul geng-geng kriminal di komunitas Arab yang tumbuh berkat dukungan diam-diam intelijen Israel dan pembiaran aparat hukum. Mereka bukan sekadar akibat dari kerusakan sosial, tapi hasil dari kekacauan yang sengaja diatur, untuk mengalihkan kekuatan masyarakat menjadi kekerasan antar sesama.

Hal yang sama terjadi pada Otoritas Palestina di Tepi Barat, yang kini menjadi contoh nyata budaya politik ala geng. Mereka berkuasa lewat bayang-bayang Israel dan memanipulasi sejarah nasionalisme untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka mendefinisikan ulang siapa yang disebut “pengkhianat” dan “pahlawan” demi menyamarkan watak geng mereka.

Inilah inti dari apa yang terjadi di Gaza saat ini: seperti bantuan kemanusiaan yang dipolitisasi, seperti genosida yang dilakukan terang-terangan, seperti tentara Israel yang bersuka cita di tengah kehancuran, semuanya kini terlihat jelas. Ini adalah perang tanpa selubung. Tak ada lagi tirai, tak ada dalih ideologi. Bentuk sosial kolaborasi ini, yang muncul secara kasar ke hadapan publik, menunjukkan kebenaran paling dalam dari perang ini.

Ini bukan hanya genosida. Ini adalah kekejaman yang vulgar dan tak tahu malu, perang yang tak lagi menuntut dunia untuk bertindak, tetapi hanya untuk diam. Hal yang kita saksikan bukan sekadar kehancuran Gaza, tapi juga kehancuran moral dunia yang tak lagi mampu membela nilai-nilai yang pernah dijunjungnya. Satu geng yang didukung Israel di Gaza mencerminkan banyak geng yang menguasai dunia hari ini.

___

*Abdal Jawad Omar merupakan sarjana dan ahli teori Palestina yang karyanya berfokus pada politik perlawanan, dekolonisasi, dan perjuangan Palestina.


(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!