938 Ribu Kaleng Susu Bayi Disandera Israel di Perbatasan Gaza

Anak Palestina yang mengalami malnutrisi akibat blokade Israel di Jalur Gaza.

Jalur Gaza, SPNA – Badan Anak PBB (UNICEF) memperingatkan, ribuan bayi di Jalur Gaza kini hidup di ujung tanduk akibat blokade ketat Israel terhadap pasokan gizi dan bantuan kemanusiaan yang vital bagi kelangsungan hidup mereka.

Dalam konferensi pers di Jenewa, juru bicara UNICEF Ricardo Pires mengungkapkan fakta mencengangkan: sebanyak 938 ribu kaleng susu bayi siap pakai masih tertahan sejak Agustus lalu di perbatasan Gaza, disandera oleh “pertimbangan keamanan” ala Israel. “Setiap jam keterlambatan berarti satu nyawa bayi dipertaruhkan,” tegas Pires. Kalimat yang mestinya mengguncang nurani, andai nurani itu belum mati.

Pires menambahkan, bukan hanya susu bayi yang dihalangi. Israel juga membatasi masuknya peralatan medis dasar seperti paket persalinan, kulkas bertenaga surya, suku cadang alat kesehatan, generator listrik, dan bahan penjernih air. Semua yang berkaitan dengan kehidupan tampaknya kini menjadi barang berbahaya di mata Israel, seolah oksigen pun perlu izin masuk.

UNICEF mencatat bahwa antara 12 Oktober hingga 10 November 2025, hanya 5.500 truk bantuan yang berhasil menembus Gaza. Jumlah itu mungkin terlihat besar di atas kertas, tapi untuk dua juta penduduk yang hidup di reruntuhan, itu hanya setetes air di padang pasir. Sementara truk-truk berisi bahan makanan bergizi dan obat-obatan penting terus terparkir di perbatasan, menunggu izin yang tak kunjung turun.

Meski dihadang berlapis-lapis birokrasi dan militer, UNICEF bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra lokal tetap berjuang. Mereka berhasil memasukkan satu juta dosis vaksin untuk melindungi anak-anak Gaza dari polio, campak, dan pneumonia, penyakit yang kembali mengintai karena perang dan kekurangan gizi.

Kampanye imunisasi darurat yang dimulai pekan lalu menargetkan lebih dari 40 ribu anak di bawah usia tiga tahun, generasi kecil yang selama dua tahun terakhir kehilangan hak dasar untuk sekadar divaksin.

Pada hari pertama, sekitar 2.400 anak berhasil divaksinasi. Program ini akan berlangsung hingga Januari 2026, melibatkan 149 fasilitas kesehatan dan 10 unit klinik keliling dengan dukungan 450 tenaga medis yang dilatih UNICEF. Sebuah upaya yang nyaris heroik melawan sistem yang tampaknya lebih takut pada susu dan vaksin daripada pada penderitaan massal.

Pires menutup konferensinya dengan nada getir: “Membuka jalur bantuan tanpa hambatan adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka dan mengembalikan harapan bagi anak-anak Gaza.” Tapi di tengah dunia yang lebih sibuk dengan wacana diplomasi daripada tangisan bayi kelaparan, kata “harapan” terasa seperti kemewahan yang sudah lama tak bisa dibeli.

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya