Tel Aviv, SPNA- Israel Innovation Authority melaporkan bahwa sebanyak 8.300 pekerja di sektor teknologi telah meninggalkan Israel sejak dimulainya perang pada Oktober 2023.
Dilansir MEMO, laporan yang dirilis Rabu (9/4/2025) ini mencatat bahwa jumlah ini setara dengan 2,1% dari total pegawai di sektor teknologi Israel, sebuah angka signifikan mengingat Israel selama ini dikenal sebagai “Startup Nation” dan sangat bergantung pada industri tinggi untuk pertumbuhan ekonominya.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa pada tahun 2024 saja, sebanyak 5.000 tenaga kerja di sektor teknologi meninggalkan industri tersebut. Jumlah total pekerja teknologi di Israel menurun menjadi 390.847 orang, turun 1,2% dari tahun sebelumnya.
Lebih mencemaskan lagi, lebih dari separuh tenaga kerja teknologi yang dikaitkan dengan perusahaan-perusahaan Israel saat ini berada di luar negeri. Menurut laporan tersebut, 440.000 karyawan bekerja di luar Israel, dibandingkan dengan hanya 400.000 di dalam negeri.
Ini mencerminkan bahwa para profesional enggan untuk tinggal dan bekerja di Israel, terutama akibat ketidakstabilan politik dan ancaman keamanan yang meningkat.
Krisis Kepercayaan dan Keamanan
CEO Otoritas Inovasi Israel, Dror Bin, dalam pernyataannya menyebutkan bahwa situasi ini “menekankan kebutuhan akan investasi strategis dan keberanian politik” untuk membawa kembali tenaga ahli ke dalam negeri. Namun, kenyataannya, semakin banyak profesional teknologi yang memilih pergi, baik untuk alasan keamanan pribadi maupun protes diam terhadap kebijakan pemerintah Netanyahu yang memicu bencana kemanusiaan di Gaza.
Media Israel sebelumnya juga melaporkan gelombang perpindahan warga ke luar negeri sejak pecahnya perang, seiring meningkatnya kekhawatiran atas ancaman serangan balasan, ketidakpastian ekonomi, dan krisis politik internal yang terus memburuk.
Sementara itu, di pihak Palestina, perang brutal yang telah dilancarkan Israel telah merenggut lebih dari 50.000 nyawa warga Gaza, menurut data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan Palestina dan lembaga-lembaga HAM internasional seperti Euro-Med Monitor dan Medical Aid for Palestinians (MAP). Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, dan sistem kesehatan Gaza kini berada di ambang kehancuran total.
Lebih dari 70% dari total infrastruktur rumah sakit dan klinik telah hancur atau tidak dapat beroperasi, menurut laporan WHO dan OCHA. PBB menyebutkan bahwa lebih dari 1,9 juta orang hampir 90% populasi Gaza telah kehilangan tempat tinggal.