Kejahatan terhadap Anak Palestina: Mengapa Dunia Barat Membisu?

Yvonne Ridley

Yvonne Ridley adalah seorang jurnalis dan penulis asal Inggris yang memberikan analisis politik terkait isu-isu di Timur Tengah, Asia, dan Perang Global Melawan Teror. Karyanya telah muncul di berbagai publikasi di seluruh dunia, mulai dari The Washington Post hingga Tehran Times dan Tripoli Post, yang membuatnya meraih pengakuan serta penghargaan di Amerika Serikat dan Inggris. Setelah sepuluh tahun bekerja untuk media terkemuka di Fleet Street, ia memperluas cakupan pekerjaannya ke media elektronik dan siaran, termasuk memproduksi sejumlah film dokumenter tentang isu-isu internasional seperti Palestina, Guantanamo, Libya, dan Arab Spring.

Jalur Gaza, SPNA – Selama menjalani karir sebagai jurnalis, saya telah menyaksikan banyak kekejaman. Kejahatan terhadap anak-anak sering kali menjadi berita utama, memicu investigasi besar untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. Namun, sulit dipahami mengapa pembunuhan lebih dari 11.000 anak Palestina tidak menjadi berita utama di negara-negara yang mengklaim diri sebagai dunia “beradab” (Barat).

Apakah pembantaian anak-anak Palestina oleh militer Israel, menggunakan bom buatan Amerika Serikat dan Inggris, tidak dianggap sebagai kejahatan terhadap anak-anak?

Menurut laporan organisasi Every Casualty Counts, lebih dari 11.000 anak tewas selama dua setengah tahun pertama perang saudara di Suriah. Namun, berdasarkan laporan PBB tentang Anak-Anak dan Konflik Bersenjata, tak ada konflik lain dalam 18 tahun terakhir yang menewaskan lebih banyak anak dalam satu tahun dibandingkan genosida Israel di Gaza. Bahkan, analisis terbaru Oxfam menunjukkan jumlah wanita dan anak-anak yang tewas di Gaza akibat serangan militer Israel selama setahun terakhir melampaui angka pada konflik manapun selama dua dekade terakhir.

Di Mana Kemarahan Dunia Barat?

Kemarahan mungkin terlihat di jalan-jalan melalui protes jutaan orang, tetapi suara politisi dan media seolah-olah bungkam. Media Barat sering kali meliput pembunuhan anak oleh pelaku kekerasan dengan intensitas besar, namun kematian ribuan anak Palestina justru diabaikan. Pernyataan Joseph Stalin bahwa “satu kematian adalah tragedi, sejuta kematian adalah statistik” tampaknya mencerminkan kenyataan ini.

Sebagai contoh, kematian tragis seorang anak Palestina, Hind Rajab, nyaris dilupakan oleh masyarakat internasional. Padahal, kematiannya akibat kekerasan yang disengaja merupakan salah satu dari ribuan kasus serupa di Gaza. Hingga kini, lebih dari 11.000 anak Palestina telah tewas, dengan ratusan bahkan ribuan lainnya hilang di bawah reruntuhan rumah mereka. Tidak ada sekolah yang beroperasi di Gaza, sehingga keberadaan anak-anak yang hilang sering kali tak diketahui selain oleh keluarga terdekat mereka.

Bandingkan dengan kasus Baby P di Inggris, yang meninggal pada 2007 akibat kelalaian pihak berwenang. Kematiannya memicu gelombang kemarahan publik, pemecatan pejabat tinggi, dan perubahan besar dalam sistem perlindungan anak. Di Amerika Serikat, penyiksaan dan pembunuhan Sylvia Likens pada 1965 membawa perubahan hukum untuk mewajibkan pelaporan kecurigaan kekerasan terhadap anak. Kasus-kasus ini menunjukkan kekuatan media dalam mempengaruhi opini publik dan mendorong perubahan.

Namun, media arus utama tampaknya abai terhadap pembantaian anak-anak Palestina di Gaza. Politisi di negara-negara Barat terus membela tindakan Israel dengan narasi ‘’pembelaan dir’’, meski fakta menunjukkan Israel melakukan pelanggaran hukum internasional secara terang-terangan. Tuduhan anti-Semitisme sering kali digunakan untuk membungkam kritik terhadap Israel, sementara politisi yang didukung oleh lobi pro-Israel membenarkan pembunuhan massal ini.

Sampai kapan keheningan ini akan terus berlanjut? Sementara itu, anak-anak Palestina terus menjadi korban kejahatan yang tak termaafkan. Dunia harus bangkit untuk menghentikan tragedi ini.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya