Jalur Gaza, SPNA – Di banyak negara, listrik sering kali baru disadari keberadaannya ketika padam selama beberapa jam. Namun di Jalur Gaza, jutaan warga telah melewati sekitar seribu hari tanpa pasokan listrik yang layak. Bagi mereka, ketiadaan listrik bukan lagi sekadar persoalan layanan publik, melainkan krisis kemanusiaan yang merampas kenyamanan, pekerjaan, kesehatan, bahkan rasa aman.
Memasuki musim panas dengan suhu yang terus meningkat, penderitaan itu terasa semakin berat. Tenda-tenda pengungsian berubah menjadi ruang sempit yang menyimpan panas sepanjang hari. Ketika malam tiba, kegelapan menyelimuti kamp-kamp pengungsian tanpa penerangan, memaksa warga menjalani kehidupan yang semakin jauh dari standar hidup yang layak.
Di tengah situasi tersebut, listrik berubah menjadi barang mewah yang hanya dapat diakses sebagian kecil masyarakat.
Bagi keluarga-keluarga yang kehilangan rumah, pekerjaan, dan sumber penghasilan akibat perang, mendapatkan beberapa jam aliran listrik setiap hari merupakan kemewahan yang nyaris mustahil. Generator memang tersedia di sejumlah lokasi, tetapi biaya operasionalnya sangat tinggi karena harga bahan bakar yang terus melambung.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga surya yang semestinya menjadi solusi juga berada di luar jangkauan sebagian besar warga. Harga panel surya, baterai, hingga perangkat pendukung meningkat tajam, sedangkan ribuan keluarga kehilangan mata pencaharian dan tidak lagi memiliki kemampuan ekonomi untuk memasangnya.
Seorang perempuan pengungsi di Kota Gaza, Umm Ibrahim, mengaku sebagian besar penghasilan keluarganya habis hanya untuk memperoleh beberapa jam listrik dari generator bersama. Biaya listrik yang dihasilkan generator mencapai sekitar 35 shekel per kilowatt, angka yang dianggap mustahil dipenuhi setiap hari oleh sebagian besar keluarga.
Akibatnya, aktivitas sederhana seperti mengisi daya telepon genggam, menyalakan kipas angin, atau mengoperasikan peralatan rumah tangga dasar harus direncanakan dengan sangat cermat. Sesuatu yang di berbagai belahan dunia dianggap biasa, di Gaza berubah menjadi perjuangan setiap hari.
Kondisi yang sama dialami ribuan pengungsi di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis. Di sana, banyak keluarga tinggal di bawah tenda tanpa pendingin udara maupun kipas angin. Saat matahari mencapai puncaknya, suhu di dalam tenda meningkat drastis hingga menyerupai tungku.
Warga terpaksa menghabiskan siang hari berpindah-pindah mencari sedikit bayangan pohon atau tempat yang lebih teduh demi menghindari sengatan panas.
Tidak semua wilayah bahkan memiliki jaringan generator bersama. Dalam kondisi seperti itu, tenaga surya menjadi satu-satunya harapan, tetapi lagi-lagi tidak semua orang mampu memilikinya.
Dampak krisis listrik tidak berhenti pada kenyamanan hidup. Banyak warga kehilangan kemampuan untuk bekerja.
Alaa, seorang tukang cukur di Gaza, mengaku ketakutan terbesar yang dihadapinya bukan hanya sepinya pelanggan, melainkan ketidakmampuan mengisi ulang daya mesin cukurnya. Mesin cukur berbaterai yang sebelum perang dijual sekitar 100 shekel kini melonjak hingga mendekati 3.000 shekel akibat kelangkaan barang.
Bagi Alaa, habisnya daya baterai bukan sekadar gangguan teknis. Itu berarti usahanya berhenti total. Tidak ada pekerjaan, tidak ada pemasukan, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan setiap hari.
Kisah ini menggambarkan bagaimana krisis listrik ikut memperparah keterpurukan ekonomi masyarakat Gaza. Perang bukan hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memutus rantai penghidupan ribuan keluarga yang selama ini bergantung pada usaha kecil.
Penderitaan semakin terasa ketika malam tiba. Kamp-kamp pengungsian tenggelam dalam gelap gulita karena tidak tersedia penerangan umum. Jalan-jalan sempit antar tenda pengungsian hanya diterangi cahaya ponsel yang sewaktu-waktu dapat padam karena kehabisan baterai.
Bagi anak-anak dan lansia, kondisi ini menghadirkan risiko yang tidak kecil. Orang tua harus mengantar anak-anak menuju toilet umum tengah malam dengan penerangan seadanya.
Seorang pengungsi lainnya, Samer Al-Attar, mengatakan dirinya kehilangan pekerjaan setelah pabrik tempatnya bekerja berhenti beroperasi akibat perang.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis di Gaza tidak semata-mata diukur dari jumlah bangunan yang hancur atau korban jiwa yang berjatuhan. Di balik angka-angka tersebut, terdapat jutaan kisah tentang kehidupan yang perlahan kehilangan penopangnya.
Ketika listrik tidak tersedia, rumah sakit menghadapi ujian berat mempertahankan layanan medis, pelaku usaha kehilangan mata pencaharian, anak-anak kesulitan belajar pada malam hari, dan keluarga hidup dalam kegelapan yang mengikis rasa aman. Di banyak tempat, listrik identik dengan kemajuan. Di Gaza, listrik justru menjadi simbol harapan yang terus menjauh.
Seribu hari tanpa pasokan listrik yang memadai bukan sekadar statistik. Angka itu merepresentasikan seribu hari masyarakat menjalani hidup dalam keterbatasan ekstrem, berjuang menghadapi panas tanpa pendingin, gelap tanpa penerangan, serta ketidakpastian tanpa kepastian kapan keadaan akan membaik.
(T.RS/S:Palinfo)