Dari 11 September Hingga 7 Oktober: Perang Palsu Barat Melawan Teror Mulai Hancur

John Stuart Mill, dikutip oleh Eileen Sullivan dalam buku “Liberalisme dan Imperialisme: Pembelaan JS Mill terhadap Kekaisaran Inggris,” menyebut “Kolonialisme adalah urusan bisnis terbaik yang dapat dilakukan oleh ibu kota negara tua dan kaya. Aturan moralitas internasional yang sama tidak berlaku antara negara beradab dan bangsa barbar”.

Peristiwa 11 September 2001 dimaksudkan untuk memaksakan dan mengabadikan paradigma Istimewa baru pada abad ke-21 yang masih muda antara “negara beradab dan bangsa bar-bar”. Namun, sejarah memutuskan sebaliknya.

Dianggap sebagai serangan terhadap Tanah Air Amerika Serikat, 11 September 2001 segera memicu Perang Global Melawan Teror (GWOT), yang diluncurkan pada pukul 11 ​​malam di hari yang sama. Awalnya diberi nama “The Long War” atau “Perang Panjang” oleh Pentagon, istilah tersebut kemudian disensor oleh pemerintahan Barack Obama sebagai “Operasi Kontingensi Luar Negeri (OCO)”.

Perang Melawan Teror yang dibuat AS menghabiskan dana delapan triliun dolar yang terkenal tidak dapat dilacak untuk mengalahkan musuh bayangan. Perang ini telah membunuh lebih dari setengah juta manusia, yang sebagian besar adalah umat Islam dan lalu berkembang menjadi perang ilegal melawan tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim. Semua ini tanpa henti dibenarkan atas dasar “alasan kemanusiaan” dan diduga didukung oleh “komunitas internasional”—sebelum istilah ini juga diubah namanya menjadi ”tatanan internasional berbasis aturan”.

Manfaatnya untuk Siapa?

Siapa yang akan menang tetap menjadi pertanyaan terpenting terkait semua hal yang berkaitan dengan 11 September 2001. Jaringan erat neokonservatis yang sangat mendukung Israel yang ditempatkan secara strategis di seluruh lembaga pertahanan dan keamanan nasional oleh Wakil Presiden, Dick Cheney, yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dalam pemerintahan George W Bush Senior, mulai bertindak untuk memaksakan agenda yang telah direncanakan sejak lama dari Proyek untuk Abad Amerika Baru (PNAC). Agenda yang luas ini telah menunggu pemicu yang tepat yaitu “Pearl Harbor baru” untuk membenarkan serangkaian operasi perubahan rezim dan perang di sebagian besar Asia Barat dan negara-negara Muslim lainnya, yang membentuk kembali geopolitik global demi keuntungan Israel.

Pengungkapan yang terkenal oleh Jenderal Amerika Serikat, Wesley Clark, tentang rencana rahasia rezim Cheney untuk menghancurkan tujuh negara Islam besar selama lima tahun, dari Irak, Suriah, dan Libya hingga Iran, menunjukkan kepada kita bahwa perencanaan tersebut telah dilakukan sebelumnya. Negara-negara yang menjadi sasaran ini memiliki satu kesamaan: mereka adalah musuh bebuyutan negara penjajah Israel dan pendukung kuat hak-hak Palestina.

Kesepakatan yang manis, dari sudut pandang Tel Aviv, adalah bahwa Perang Melawan Teror akan membuat Amerika Serikat dan sekutu-sekutu baratnya memerangi semua perang berantai yang menguntungkan Israel ini atas nama “peradaban” dan melawan “orang-orang barbar”. Orang-orang Israel tidak bisa lebih bahagia atau puas dengan arah yang dituju ini.

Tidak mengherankan bahwa 7 Oktober 2023 adalah gambaran cermin dari 11 September 2001. Negara penjajah itu bahkan mengiklankan ini sebagai “11 September” Israel sendiri. Persamaan berlimpah dalam lebih dari satu cara, tetapi tentu saja tidak seperti yang diharapkan oleh para penganut Israel dan komplotan ekstremis yang memimpin Tel Aviv.

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya