Haaretz: Ditembak Peluru Karet Sipir Israel, Narapidana Palestina Mengalami Kerusakan Alat Vital

Tepi Barat, SPNA – Sipir penjara Israel menembakkan peluru karet ke arah tahanan Palestina hingga menyebabkan luka parah. Menurut investigasi yang diterbitkan surat kabar Israel, Haaretz, pada hari Rabu (14/10/20260, insiden tersebut menyebabkan rusaknya alat vital salah seorang tahanan hingga harus dioperasi, sementara seorang tahanan lainnya mengalami patah kaki yang juga memerlukan tindakan pembedahan.

Dengan mengutip catatan medis, dokumen resmi, dan kesaksian para tahanan, Haaretz merinci penggunaan proyektil karet oleh personel Layanan Penjara Israel (IPS) di dalam fasilitas penahanan. Salah satu insiden melibatkan seorang tahanan Palestina yang ditembak di area selangkangan, setelah sebelumnya sempat dipukuli oleh penjaga.

Organisasi hak asasi manusia asal Israel, Physicians for Human Rights–Israel dan Public Committee Against Torture in Israel, mendokumentasikan sedikitnya 21 serangan peluru karet terhadap para tahanan sejak Israel memulai perang genosida di Gaza pada Oktober 2023.

Serangan-serangan tersebut terjadi di Penjara Ofer, Givon, Ketziot, Gilboa, dan Nitzan. Sebagian besar kasus yang terdokumentasi berlangsung pada akhir tahun 2025 hingga paruh pertama tahun 2026.

Tahanan Palestina Kehilangan Alat Vital akibat Dipukuli dan Ditembak

Salah satu kasus terparah terjadi di Penjara Ketziot, yang terletak di Gurun Negev, pada Juni 2026.

Menurut laporan Haaretz, seorang tahanan Palestina menderita luka berat setelah dipukul proyektil karet yang ditembakkan sipir Israel dan tepat mengenai alat vitalnya. Pria tersebut langsung dilarikan ke Soroka Medical Center di Beersheba. Di sana, tim medis menemukan bahwa alat vital korban telah hancur total sehingga harus diangkat melalui tindakan operasi.

Penembakan itu bukanlah kekerasan pertama yang dialami korban di bagian tubuh yang sama. Dalam kesaksian yang disampaikan kepada pengacaranya, tahanan tersebut mengaku sempat dipukuli di area selangkangan oleh sipir Israel sekitar satu minggu sebelum penembakan terjadi.

Ia menuturkan bahwa penganiayaan dimulai saat penggeledahan telanjang, tak lama setelah ia tiba di Penjara Ketziot.

“Merek melepaskan seluruh pakaian saya dan memaksa saya berjongkok,” kenangnya. “Saat saya berjongkok, salah satu penjaga menendang tepat di alat vital saya dan terus memukuli saya sambil memerintahkan saya untuk berpakaian kembali.”

Tahanan tersebut mengalami pembengkakan parah dan rasa sakit luar biasa. Meski telah meminta pertolongan medis, ia mengaku baru diperiksa di klinik penjara dua hari kemudian. Berdasarkan keterangannya, staf medis mendiagnosis adanya peradangan akut serta kandungan darah dalam urine, lalu meresepkan antibiotik.

Penjaga Menembaki Sel Penjara

Sekitar satu minggu setelah pemukulan awal, anggota Metzada—unit intervensi khusus Layanan Penjara Israel—menembakkan proyektil karet ke dalam sel tahanan. Tahanan tersebut menggambarkan proyektil itu berbentuk bola kecil menyerupai kelereng.

Ia menyebutkan bahwa dua tahanan lain sempat terkena lemparan atau benturan sebelum dirinya ditembak sebanyak dua kali. Satu proyektil menerobos masuk melalui celah jendela pintu sel dan mengenai alat vital yang sebelumnya telah terluka akibat pemukulan. Sementara itu, proyektil lainnya mengenai bagian belakang lutut kanannya.

Mengalami pendarahan hebat dan kesulitan berjalan, tahanan tersebut mengaku diseret sejauh kurang lebih 50 meter oleh para sipir menuju pintu masuk blok penjara.

“Ketika tiba di halaman, tidak ada tempat untuk bersandar hingga saya jatuh tersungkur ke tanah karena cedera,” kenangnya. “Pendarahannya sangat deras. Menurut penuturan tahanan lain, saya terlihat seperti hewan yang disembelih.”

Ia menambahkan bahwa para penjaga membelenggu tangan dan kakinya serta menutup matanya di tengah kondisi luka parah tersebut. Menurut kesaksiannya, seorang penjaga akhirnya memanggil bantuan untuk menghentikan pendarahan.

Tahanan itu sempat kehilangan kesadaran sebelum sampai di klinik penjara. Ia juga mengaku mengalami pelecehan verbal dan dimaki dengan sebutan “anjing” saat menjalani perawatan awal, sebelum akhirnya pingsan kembali dan dilarikan ke Rumah Sakit Soroka, tempat dokter bedah mengoperasinya untuk mengangkat testis yang hancur.

Tahanan Lain Mengalami Patah Kaki

Penyelidikan Haaretz juga mendokumentasikan kasus terpisah di mana seorang tahanan Palestina mengalami patah kaki akibat tembakan peluru karet hingga memerlukan tindakan operasi. Namun, catatan yang tersedia belum mengidentifikasi korban maupun memberikan rincian lebih lanjut mengenai kronologi penembakan tersebut.

Temuan surat kabar tersebut menyoroti bahaya penggunaan proyektil karet di dalam lingkungan penjara yang tertutup, tempat para tahanan memiliki ruang yang sangat terbatas untuk melindungi diri atau melarikan diri. Meskipun secara umum dikategorikan sebagai senjata non-mematikan (less-lethal), peluru karet tetap berisiko menyebabkan cacat permanen, cedera organ dalam yang parah, hingga kematian.

Kondisi Tahanan Palestina yang Kian Memburuk

Penyelidikan ini mengemuka di tengah maraknya tuduhan penyiksaan, penganiayaan, dan pengabaian medis di fasilitas penahanan Israel sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023.

Otoritas Israel telah menerapkan pembatasan ketat terhadap para tahanan Palestina, termasuk melarang kunjungan keluarga. Berbagai organisasi hak asasi manusia turut mengkritik regulasi dan langkah darurat Israel yang dinilai memperlemah perlindungan terhadap tindakan sewenang-wenang, isolasi berkepanjangan, serta pencabutan hak-hak dasar tahanan, sekaligus membatasi pengawasan independen terhadap fasilitas penahanan.

Berdasarkan data yang dirilis Kantor Media Tahanan Palestina, saat ini terdapat sekitar 9.400 warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Angka tersebut mencakup 94 perempuan, 350 anak-anak, 3.244 tahanan administratif yang ditahan tanpa proses dakwaan atau peradilan, serta 1.320 orang yang ditahan berdasarkan Undang-Undang Kombatan Ilegal (Unlawful Combatants Law) Israel.

Organisasi tersebut juga mencatat lebih dari 24.600 kasus penangkapan sejak Oktober 2023. Namun, angka-angka ini belum diverifikasi secara independen dalam laporan tersebut.

Bagi tahanan Palestina yang kehilangan alat vitalnya, rangkaian kekerasan berawal dari pemukulan saat penggeledahan telanjang, berlanjut pada penanganan medis yang tertunda, dan memuncak pada tembakan proyektil karet yang menghancurkan bagian tubuhnya yang telah terluka parah.

(T.RA/S: Days of Palestine)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya