PBB: 86 Ribu Keluarga Palestina di Gaza Bergantung pada Perempuan sebagai Pencari Nafkah

Setelah rumah-rumah dan layanan publik runtuh, serta suami meninggal dunia akibat genosida Israel, perempuan Palestina di Gaza memikul beban berat sebagai kepala keluarga. (Foto: Reuters).

Gaza, SPNA – Ribuan perempuan di Jalur Gaza harus memikul tanggung jawab berlipat ganda setelah kehilangan pencari nafkah akibat perang yang dilancarkan Israel. Di tengah situasi tersebut, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa terdapat sekitar 86 ribu keluarga di wilayah pesisir yang terkepung itu yang kini bergantung pada perempuan sebagai pencari nafkah tunggal.

Dalam laporan Al Jazeera, koresponden Rami Abu Taimeh mengisahkan perjuangan tiga perempuan di Kota Khan Younis, Gaza selatan. Mereka menghadapi tantangan berat untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari makanan, minuman, dan tempat tinggal hingga merawat anak-anak.

Nuzha Abu Mazkur, seorang ibu, menceritakan bagaimana dirinya terpaksa menanggung seluruh beban keluarga ketika sedang mengandung anak terakhirnya. Suaminya meninggal dunia ditembak tentara Israel saat berusaha mendapatkan makanan untuk keluarga mereka. Ia menggambarkan kehidupannya sekarang sebagai sesuatu yang “tragis”. Keadaan memaksanya mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah agar mereka bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan hidup adik-adik mereka.

Kisah serupa dialami Ilham, perempuan berusia sekitar 50 tahun. Setiap hari, ia harus berjuang keras untuk menyediakan makanan bagi keluarganya. Pekerjaannya mengharuskannya memecahkan kulit kacang pistachio selama berjam-jam, tanpa kesempatan untuk beristirahat dengan layak.

Meski hanya menerima upah yang sangat kecil, yakni 40 shekel Israel atau sekitar 230 ribu rupiah, Ilham tetap bertahan menjalani pekerjaan berat tersebut. Ia membutuhkan uang itu untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga sekaligus membayar biaya kuliah keempat anaknya agar mereka dapat melanjutkan pendidikan.

Di wilayah selatan Gaza, laporan Al Jazeera juga menggambarkan kehidupan Rim, seorang ibu yang berada dalam kondisi kemanusiaan yang sulit. Penderitaannya semakin berat karena suaminya telah empat tahun berada di luar Gaza untuk menjalani pengobatan. Rim pun harus menghadapi sendiri dampak perang dan pengungsian yang terus berulang.

Rim menggambarkan beratnya kehidupan anak-anaknya yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar. Keluarganya kini tinggal di tempat penampungan yang jauh dari standar kelayakan dan keamanan. Untuk mengganjal perut anak-anaknya, ia terpaksa hanya mengandalkan lentil rebus tanpa roti.

Kisah ketiga perempuan tersebut mencerminkan kehidupan ribuan keluarga di Gaza. Perang telah menjadi beban berat bagi perempuan yang terpaksa mengambil alih peran sebagai satu-satunya pencari nafkah. Menurut data PBB, sebanyak 67 persen keluarga di Gaza yang dikepalai perempuan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Meskipun demikian, di tengah kehancuran dan penderitaan, sebagian perempuan Gaza tidak menyerah. Laporan Al Jazeera lainnya mencatat bahwa kondisi yang serba sulit justru mendorong sejumlah perempuan merintis usaha kecil dari tengah reruntuhan. Mereka kembali menghidupkan kegiatan produksi rumahan dan membuka usaha pembuatan roti serta aneka kue. Upaya tersebut menjadi sumber harapan sekaligus cara untuk mempertahankan kehidupan ekonomi dan sosial keluarga mereka.

Inisiatif-inisiatif mandiri itu menunjukkan bagaimana perempuan Gaza terus berupaya membangun kehidupan di tengah keterbatasan. Dukungan kemanusiaan dan keteguhan untuk bertahan menjadi bagian penting dalam menghadapi pengepungan serta kelaparan.

Besarnya dampak perang terhadap perempuan dan anak perempuan juga tergambar dalam angka-angka. Dalam laporan berjudul The Cost of War in Gaza on Women and Girls atau Biaya Perang bagi Perempuan dan Anak Perempuan di Gaza, yang diterbitkan pada April 2026, UN Women memperkirakan lebih dari 38 ribu perempuan dan anak perempuan meninggal dunia akibat genosida Israel dalam periode Oktober 2023 hingga Desember 2025. Angka tersebut setara dengan rata-rata sekitar 47 orang per hari.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa perempuan yang selamat dari perang masih menghadapi berbagai ancaman setiap hari, mulai dari pengeboman, kelaparan, dan pengungsian berulang hingga pembatasan akses terhadap layanan dasar.

Kondisi tempat tinggal penduduk Palestina masih sangat memprihatinkan. OCHA menyebut sekitar 94 persen penduduk Gaza masih membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan rumah tangga dasar. Sekitar 65 persen rumah tangga masih bertahan di tenda atau tempat penampungan darurat yang hanya memberikan sedikit perlindungan dari cuaca.

Gencatan senjata belum mengakhiri dampak kemanusiaan dan material perang di Gaza, karena Israel masih terus melakukan serangan. Selain korban jiwa yang terus bertambah, jutaan warga masih menghadapi kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, keterbatasan layanan kesehatan, serta kebutuhan rekonstruksi yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.

(T.FJ/S: Aljazeera)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya