Peringati Genap 1 Tahun “Gencatan Senjata”, Israel Malah Bombardir Gaza dan Perluas Pendudukan

Penduduk Palestina di Gaza memeriksa bangunan yang telah dihancurkan Israel dan penanda Garis Kuning yang terus digeser ke dalam Gaza sehingga semakin mempersempit wilayah Gaza. (Foto: QNN)

Gaza, SPNA – Pasukan penjajah Israel memperluas wilayah kendalinya di Jalur Gaza dan meningkatkan serangan udara terhadap kawasan yang terkepung itu pada Minggu (11/10/2026). Eskalasi tersebut bertepatan dengan satu tahun pengumuman gencatan senjata yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, selama periode itu, Israel tetap melanjutkan serangannya yang disebut sebagai genosida, dengan jumlah warga Palestina yang meninggal dunia mencapai hampir 1.500 orang.

 

Media Arab48 melaporkan, militer Israel memperluas wilayah kendalinya di sebelah timur Kota Gaza pada Ahad, 11 Oktober 2026, setelah bergerak puluhan meter memasuki kawasan Syujaiya dan memindahkan blok-blok beton penanda Garis Kuning ke arah barat.

“Langkah ini membuat lebih banyak rumah warga Palestina masuk ke wilayah yang berada di bawah kendali Israel dan memaksa puluhan keluarga mengungsi. Peristiwa itu bertepatan dengan peringatan satu tahun perjanjian gencatan senjata,” demikian laporan Arab48.

Menurut media tersebut, kendaraan militer Israel bergerak melampaui posisi mereka sebelumnya di Syujaiya pada malam hari. Pergerakan itu berlangsung di tengah gempuran artileri dan tembakan senjata, sementara sejumlah pesawat nirawak terlihat terbang di atas kawasan tersebut.

Sejumlah sumber mengatakan warga terkejut ketika mendapati blok-blok beton penanda Garis Kuning telah dipindahkan ke posisi baru yang lebih jauh ke barat pada Ahad pagi.

Serangan artileri dan tembakan pasukan Israel menghantam tenda-tenda pengungsi Palestina serta sejumlah rumah warga. Sedikitnya dua orang terluka akibat serangan tersebut.

Dengan perluasan wilayah kendali terbarunya, Israel kini menguasai 63 persen wilayah Gaza, menurut laporan Arab48. Namun, angka mengenai luas wilayah Gaza yang diduduki Israel selama setahun terakhir bervariasi. Sejumlah laporan bahkan menyebut angka penguasaan mencapai 70 persen atau lebih.

Quds News Network (QNN) juga melaporkan serangan tersebut dan perluasan terbaru posisi pasukan Israel. Menurut media itu, pergerakan militer Israel memicu gelombang pengungsian baru ketika keluarga-keluarga Palestina mulai meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan diri dari serangan.

Pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Gaza. Sejumlah rumah hancur di Kota Gaza, termasuk di kawasan Syujaiya dan Rimal. Serangan juga menyasar Deir al-Balah, di Gaza bagian tengah.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza pada Ahad menyatakan tujuh penduduk Palestina meninggal dunia dan 28 lainnya terluka dalam 24 jam terakhir. Kementerian itu menambahkan, sebanyak 1.488 warga Palestina telah meninggal dunia sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.

Israel juga terus membunuh petugas penyelamat saat mereka menjalankan tugas di berbagai wilayah Gaza. Kondisi ini terjadi ketika sistem kesehatan di wilayah tersebut telah hancur akibat serangan selama dua tahun terhadap rumah sakit dan fasilitas medis.

Jumlah korban jiwa yang tercatat secara resmi telah melampaui 74.300 orang. Namun, sejumlah jurnal medis dan peneliti menilai kehancuran sektor kesehatan Gaza membuat otoritas setempat sangat kesulitan mendata jumlah korban secara akurat. Mereka memperkirakan jumlah kematian sebenarnya bisa jauh melampaui 100 ribu orang, bahkan mungkin mencapai ratusan ribu.

Ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang atau terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Sementara itu, blokade terhadap Gaza semakin diperketat, bertentangan dengan perjanjian gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat. Bantuan kemanusiaan yang masuk ke wilayah tersebut masih sangat terbatas. Pasukan Israel terus menghalangi masuknya peralatan dan perlengkapan medis yang sangat dibutuhkan warga, termasuk kursi roda dan berbagai kebutuhan lainnya.

Media Israel baru-baru ini melaporkan bahwa militer Israel hampir menyelesaikan pembangunan parit besar yang dirancang untuk membagi wilayah Gaza.

Garis Kuning semula dimaksudkan sebagai batas awal penarikan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahun lalu. Namun, sejak Washington meluncurkan rencana perdamaian pada Oktober 2025, yang disebut sebagai upaya perdamaian tetapi diiringi gencatan senjata yang terus dilanggar, pasukan pendudukan Israel justru bergerak melampaui garis tersebut dan membangun pos-pos militer permanen di sepanjang jalurnya, yang terus mempersempit wilayah Gaza.

Gencatan senjata belum mengakhiri dampak kemanusiaan dan material perang di Gaza, karena Israel masih terus melakukan serangan. Selain korban jiwa yang terus bertambah, jutaan warga masih menghadapi kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, keterbatasan layanan kesehatan, serta kebutuhan rekonstruksi yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya