Israel Rampas 60 Persen Wilayah Gaza, Netanyahu Tolak Penarikan Pasukan

Jalur Gaza, SPNA Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pasukan Israel menguasai sekitar 60% wilayah Jalur Gaza dan menegaskan tidak akan menarik diri dari area yang kini berada di bawah kendali militernya. Pernyataan itu menegaskan sikap Israel yang berpotensi menghambat pelaksanaan gencatan senjata dan memperpanjang operasi militernya di Gaza.

Netanyahu menyampaikan klaim tersebut saat mengunjungi Gaza, Rabu (2/9/2026). Dalam video yang diunggah melalui Telegram, ia tampak mengenakan rompi antipeluru dan mengatakan Israel akan mempertahankan posisinya hingga Hamas dilucuti serta Gaza tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi Israel.

“Kami menguasai 60% wilayah Gaza dan tidak akan mundur,” kata Netanyahu.

Klaim tersebut tidak disertai penjelasan independen mengenai wilayah yang dimaksud maupun dasar penghitungan luas area yang disebut berada di bawah kendali Israel. Area itu merupakan bagian dari posisi militer Israel dalam tahap pertama rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Rencana tersebut mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap dan paralel dengan proses pelucutan senjata Hamas.

Namun, Netanyahu menuntut Hamas dilucuti terlebih dahulu sebelum Israel menarik pasukannya. Sikap itu berpotensi mengubah mekanisme kesepakatan yang dirancang berlangsung bertahap menjadi tuntutan yang harus dipenuhi secara sepihak.

Netanyahu juga mengklaim pasukan Israel menangkap kepala badan keamanan internal Hamas sehari sebelumnya. Ia mengatakan informasi dari pemeriksaan terhadap pejabat tersebut akan digunakan dalam penyelidikan intelijen Israel.

Dalam kunjungan itu, Netanyahu didampingi Kepala Staf Angkatan Darat Israel Eyal Zamir, menurut laporan Kanal 12 Israel. 

Hamas menyatakan bersedia membahas pelucutan senjata dengan syarat penarikan pasukan Israel dari Gaza dilakukan secara bertahap dan teratur. Sikap tersebut bertolak belakang dengan tuntutan Netanyahu yang menginginkan Hamas dilucuti sepenuhnya sebelum Israel menarik pasukannya.

Netanyahu sebelumnya menolak rencana 15 poin untuk Gaza dan tetap menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat utama. Padahal, peta jalan yang dikeluarkan Board of Peace pada 31 Juli menetapkan pelucutan senjata dan penarikan pasukan Israel berlangsung secara bertahap serta paralel.

Perbedaan posisi itu menunjukkan rapuhnya proses gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025. Di tengah upaya mediator mempertahankan kesepakatan, Israel terus dilaporkan melakukan pelanggaran yang menambah jumlah korban di Gaza.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran Israel sejak gencatan senjata menyebabkan 1.262 warga Palestina tewas dan 4.168 lainnya terluka.

Perang Israel di Gaza yang berlangsung sejak 8 Oktober 2023 dengan dukungan Amerika Serikat telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya. Sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut juga menghancurkan sekitar 90% infrastruktur di Gaza.

(T.RS/S: Anadolu Agency)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya