Jalur Gaza, SPNA – Blokade Israel terhadap Jalur Gaza semakin memperparah krisis di Gaza setelahPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan penutupan 170 dapur umum di wilayah tersebut akibat habisnya pasokan bantuan.
Penutupan tersebut terjadi setelah World Central Kitchen (WCK) menghentikan operasinya karena tidak lagi dapat memperoleh bantuan yang dibutuhkan dan mengancam akses pangan bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Dilansir Al Jazeera, Selasa (04/08), Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut penghentian operasi WCK merupakan kemunduran besar dalam upaya menekan kelaparan yang terus meluas di Jalur Gaza. PBB menegaskan bahwa Israel telah menghalangi organisasi tersebut memperoleh bantuan kemanusiaan yang diperlukan untuk.
Juru bicara OCHA di Gaza, Olga Cherevko, menyatakan kondisi di Gaza hancur akibat blokade yang terus berlangsung lebih dari dua bulan. Akibatnya bantuan kemanusiaan tidak lagi dapat masuk ke Gaza, sementara seluruh persediaan bantuan terus menipis.
“Kami kini memasuki bulan ketiga sejak Israel memblokade Jalur Gaza. Persediaan kami habis dengan sangat cepat. Kami membutuhkan hampir segalanya untuk membantu rakyat Gaza,” ujarnya.
Cherevko mengungkapkan lebih dari separuh dapur umum yang didukung PBB telah berhenti beroperasi karena tidak lagi memiliki bahan makanan. Dapur yang masih beroperasi pun terpaksa mengurangi porsi dan variasi makanan hingga batas minimum, sementara gudang bantuan hampir sepenuhnya kosong.
Selain bahan pangan, persediaan tenda, perlengkapan tempat tinggal darurat, dan berbagai kebutuhan bantuan lainnya juga hampir habis. “Saya dapat memastikan bahwa gudang-gudang kami hampir kosong,” terang Cherevko.
Krisis tersebut memperkuat peringatan PBB sebelumnya mengenai ancaman kelaparan massal di Jalur Gaza. Dalam laporan terbarunya, OCHA menyatakan sekitar 1,4 juta warga Palestina, atau sekitar 67 persen penduduk Gaza, kini mengalami kerawanan pangan.
PBB juga mencatat lebih dari 11 ribu warga menderita penyakit yang berkaitan dengan kekurangan gizi. Menurut OCHA, kondisi ketahanan pangan di Gaza telah berstatus darurat dan terus bergerak menuju fase kelima Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC), yaitu tingkat tertinggi yang menjadi indikator terjadinya kelaparan (famine) secara resmi apabila seluruh kriterianya terpenuhi.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza kembali mendesak komunitas internasional agar segera membuka akses masuk obat-obatan dan perlengkapan medis. Otoritas kesehatan setempat memperingatkan stok obat kanker, penyakit darah, obat untuk pasien ginjal, layanan kesehatan ibu dan anak, serta bahan pemeriksaan laboratorium berada pada tingkat kritis, sehingga mengancam keberlangsungan pelayanan kesehatan di seluruh Jalur Gaza.
(T.RS/S:Al Jazeera)