Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan: Dukungan untuk Palestina Adalah Sikap Kemanusiaan

Pelatih timnas Mesir, Hossam Hassan, mengibarkan bendera Palestina saat merayakan kemenangan Mesir atas Australia lewat adu penalti. (MEMO)

Kairo, SPNA – Pelatih kesebelasan Mesir, Hossam Hassan, kembali menyuarakan dukungannya kepada rakyat Palestina jelang laga babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 melawan Argentina. Dalam konferensi pers, Selasa (7/7/2026), ia menyatakan bahwa kepeduliannya terhadap Palestina didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, bukan agama maupun politik.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan atas sikap Hassan setelah sebelumnya ia mendedikasikan kemenangan Mesir atas Australia kepada rakyat Palestina dan mengibarkan bendera Palestina saat merayakan keberhasilan timnya lolos ke babak berikutnya.

Hassan menilai tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza telah menunjukkan adanya standar ganda dunia internasional. Menurutnya, berbagai organisasi internasional dapat bergerak cepat ketika terjadi pelanggaran terhadap hak-hak hewan di negara-negara Barat, namun tidak memberikan respons yang setara ketika ribuan warga sipil Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban serangan.

Ia juga menggambarkan kondisi kemanusiaan di Gaza yang dinilai semakin memprihatinkan. Warga Gaza hidup tanpa tempat tinggal yang layak, kekurangan makanan, serta menghadapi penyakit dan kondisi cuaca ekstrem tanpa perlindungan memadai.

Hassan menegaskan bahwa dukungannya kepada Palestina berangkat dari rasa kemanusiaan. Ia mengajak masyarakat dunia membayangkan hidup tanpa rumah dan tanpa tempat berlindung agar dapat memahami penderitaan yang dialami warga Gaza. Menurutnya, dunia telah gagal memberikan perlindungan kepada rakyat Palestina di tengah besarnya jumlah korban sipil.

Di akhir konferensi pers, mantan penyerang legendaris Mesir itu menyerukan kepada seluruh atlet dunia agar menggunakan panggung Piala Dunia untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan mendukung hak rakyat Palestina untuk hidup dengan aman.

FIFA Tidak Menjatuhkan Hukuman

Di tengah polemik tersebut, FIFA memutuskan tidak mengambil tindakan disipliner terhadap Hossam Hassan atas aksinya membawa bendera Palestina seusai kemenangan Mesir atas Australia.

Keputusan itu muncul setelah sejumlah media dan kalangan politik di Israel mendesak FIFA menjatuhkan sanksi kepada pelatih Mesir tersebut. Harian Israel Hayom bahkan menyebut keputusan itu sebagai kegagalan upaya menghukum Hassan.

Dalam penjelasannya, FIFA menyatakan bahwa bendera Palestina tidak melanggar peraturan turnamen karena Palestina merupakan salah satu dari 211 asosiasi anggota FIFA. Oleh karena itu, pengibaran bendera Palestina tidak dikategorikan sebagai demonstrasi politik yang dilarang dalam kompetisi resmi.

Dengan keputusan tersebut, tidak ada proses hukuman disipliner yang dijalankan terhadap Hossam Hassan dan ia dipastikan tetap mendampingi tim nasional Mesir sepanjang sisa perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.

Kekalahan dari Argentina Tuai Kontroversi

Mesir harus mengakhiri perjuangan di Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar. The Pharaohs sempat tampil memukau dengan unggul dua gol berkat penampilan gemilang Yasser Ibrahim, Mostafa Ziko, serta aksi heroik kiper Mostafa Shobeir yang menggagalkan penalti Lionel Messi. Namun, jalannya pertandingan berubah setelah gol kedua Ziko dianulir VAR karena dugaan pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dalam proses serangan, keputusan yang kemudian memicu kontroversi.

Pelatih Hossam Hassan menilai pembatalan gol tersebut menjadi titik balik pertandingan. Ia juga mengklaim Mesir seharusnya mendapat hadiah penalti pada masa injury time, tetapi insiden itu tidak ditinjau VAR. Hassan menyebut timnya diperlakukan tidak adil dan mempertanyakan konsistensi kepemimpinan wasit, bahkan mengaku tidak akan lagi mengikuti Piala Dunia karena merasa kompetisi tersebut tidak menjunjung keadilan. Senada, Mostafa Ziko menyatakan kerja keras Mesir dirusak oleh keputusan wasit dan melontarkan tudingan bahwa trofi Piala Dunia seolah “sudah diarahkan untuk Argentina.”

Mantan wasit Liga Inggris Graham Scott dan mantan wasit FIFA Mark Clattenburg menilai intervensi VAR dalam pembatalan gol Mesir tidak tepat dan berpotensi menunjukkan standar ganda dalam penerapan aturan.  

Pada akhirnya, perjalanan Mesir di Piala Dunia 2026 dikenang bukan hanya karena penampilan heroik mereka dalam memberikan perlawanan sengit kepada juara bertahan, tetapi juga karena rangkaian kontroversi yang memicu perdebatan mengenai konsistensi penerapan VAR dan rasa keadilan di lapangan. 

Polemik Standar Ganda Global

Di luar pertandingan, Hossam Hassan sebelumnya telah menjadi sorotan dunia karena secara terbuka menyuarakan solidaritas terhadap rakyat Palestina atas dasar kemanusiaan. Meski tidak ada bukti yang mengaitkan sikap tersebut dengan keputusan-keputusan selama pertandingan, bagi banyak pendukung Mesir, berakhirnya perjalanan The Pharaohs di tengah polemik keputusan wasit semakin memperkuat narasi tentang standar ganda global yang juga tercermin dalam berbagai isu yang disuarakan Hassan.

(T.RS/S:AlJazera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya