Jalur Gaza, SPNA – UNICEF menyatakan bahwa gencatan senjata tidak lebih dari sebuah “ilusi mematikan”, setelah sedikitnya 265 anak Palestina dilaporkan gugur dalam kurun waktu delapan bulan terakhir.
Juru bicara UNICEF, James Elder, dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (19/6), mengatakan bahwa kekerasan terhadap anak-anak Palestina terus dilakukan meskipun dunia internasional masih menyebut situasi di Gaza sebagai masa gencatan senjata. “Dalam periode yang seharusnya ditandai dengan penghentian agresi dan perlindungan warga sipil, rata-rata satu anak terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan,” kata Elder.
Elder menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai “ilusi yang kejam dan mematikan” serta mempertanyakan apakah kondisi itu masih layak disebut sebagai gencatan senjata ketika anak-anak terus kehilangan nyawa. “Ketika dunia terus berbicara tentang gencatan senjata, keluarga-keluarga di Gaza masih terus menguburkan putra dan putri mereka,” ujarnya.
Menurut UNICEF, anak-anak yang menjadi korban gugur tidak hanya berada di wilayah pertempuran, tetapi juga di tempat-tempat yang seharusnya aman seperti rumah, sekolah, dan ruang publik. Elder mengungkapkan sejumlah kasus yang terjadi pekan ini. Seorang balita berusia dua tahun ditembak mati oleh pasukan Israel. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun tewas setelah ditembak di dalam tenda pengungsian. Sementara seorang bocah berusia lima tahun dan ayahnya meninggal akibat serangan udara Israel.
“Dan daftar korban terus bertambah,” kata Elder.
Data UNICEF juga menunjukkan lebih dari 400 anak lainnya mengalami luka-luka sejak Oktober lalu. Banyak di antara mereka menderita cedera serius yang berpotensi menyebabkan kecacatan permanen.
UNICEF memperingatkan bahwa ratusan anak yang terluka saat ini membutuhkan evakuasi medis segera ke luar Gaza untuk mendapatkan perawatan yang memadai.
Namun, tindakan Israel yang membatasi masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis penting terus memperburuk kondisi mereka. Organisasi tersebut menilai situasi itu meningkatkan risiko infeksi, komplikasi kesehatan, hingga amputasi bagi anak-anak yang terluka.
Elder mencontohkan kasus seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang ditembak di bagian dada ketika berada di dalam tendanya. Dalam kasus lain, seorang balita perempuan berusia tiga tahun mengalami luka tembak di wajah akibat peluru yang ditembakkan dari drone quadcopter saat berada di dalam rumahnya.
Selain korban jiwa dan luka fisik, UNICEF menyoroti dampak psikologis yang mendalam terhadap generasi muda Gaza. Menurut Elder, anak-anak Palestina kini hidup dalam ketakutan yang terus-menerus akibat kehilangan anggota keluarga, pengungsian berulang, dan ancaman serangan yang tak kunjung berhenti.
“Bagi anak-anak Gaza, ketakutan, kehilangan, dan kekerasan telah menjadi sesuatu yang begitu konstan sehingga trauma bukan lagi sekadar episode dalam hidup mereka, tetapi telah menyatu dalam seluruh masa kecil mereka,” katanya.
UNICEF mendesak pemerintah dan lembaga internasional mengambil langkah konkret untuk menghentikan pembunuhan terhadap anak-anak dan memastikan perlindungan warga sipil sesuai hukum internasional.
Elder menegaskan bahwa kematian anak-anak yang terus terjadi selama masa yang disebut sebagai gencatan senjata seharusnya menjadi alarm serius bagi komunitas internasional.
“Tidak ada gencatan senjata yang dapat dianggap bermakna selama anak-anak masih terus dibunuh,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, UNICEF juga menyoroti situasi di Lebanon. Sejak eskalasi konflik pada 2 Maret lalu, sedikitnya 247 anak dilaporkan tewas dan 992 lainnya terluka akibat meningkatnya permusuhan di negara tersebut.
Pernyataan UNICEF muncul di tengah semakin banyaknya laporan organisasi kemanusiaan internasional yang memperingatkan bahwa kondisi di Gaza terus memburuk, sementara korban sipil, terutama anak-anak, masih terus berjatuhan meskipun berbagai kesepakatan penghentian pertempuran telah diumumkan.
(T.RS/S:MEMO)