Ankara, SPNA – Menyusul protes global atas perlakuan tidak manusiawi mereka dalam tahanan, rezim pendudukan Israel akhirnya mendeportasi semua aktivis asing yang diculik oleh pasukan Israel dari armada bantuan menuju Gaza awal pekan ini.
Menurut sumber media yang berbeda, aktivis Global Sumud Flotilla, emuanya dideportasi dari Israel pada hari Kamis (21/05/2026).
Sebelumnya, Turki mengumumkan akan mengirim tiga pesawat sewaan ke Israel untuk memulangkan warganya dan negara-negara lain, termasuk warga negara Spanyol.
Yordania telah mengkonfirmasi bahwa dua warganya telah kembali ke rumah melalui penyeberangan selatan dengan Israel.
Sementara itu, Pusat Hukum untuk Hak-hak Minoritas Arab di Israel, Adalah, mengatakan kepada saluran satelit Al Jazeera bahwa sebagian besar dari sekitar 430 aktivis yang ditahan sedang diangkut ke Bandara Ramon di Israel selatan, dari mana mereka akan dideportasi. Sisanya akan dideportasi dari Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.
Dalam sebuah pernyataan, Adalah mengatakan telah menerima “konfirmasi resmi” dari Layanan Penjara Israel dan pejabat negara bahwa semua aktivis yang ditahan di fasilitas penahanan telah dibebaskan dan dipindahkan untuk dideportasi.
Adalah menambahkan bahwa tim hukumnya “secara aktif memantau proses transit untuk memastikan bahwa semua aktivis dideportasi dengan aman dan sepenuhnya tanpa penundaan lebih lanjut.”
“Mayoritas peserta dipindahkan ke Bandara Ramon untuk diterbangkan ke luar negeri,” kata kelompok itu.
Kelompok hak asasi manusia itu menggambarkan penahanan para aktivis sebagai melanggar hukum, dengan mengatakan “seluruh operasi, mulai dari intersepsi yang melanggar hukum di perairan internasional hingga penyiksaan sistemik, penghinaan, dan penahanan sewenang-wenang terhadap aktivis damai, merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.”
Adalah juga mengatakan bahwa sidang sedang berlangsung di Pengadilan Ashkelon untuk aktivis Zohar Regev, yang memegang kewarganegaraan Israel.
Kelompok hak asasi manusia itu mengatakan pihak berwenang Israel menahan Regev di bawah “tuduhan yang tidak berdasar dan kontradiktif” tentang “masuk ilegal ke Israel,” “izin tinggal yang tidak sah,” dan berusaha untuk mematahkan blokade Gaza.
Dikatakan bahwa Regev telah “diculik secara paksa” oleh militer Israel dari perairan internasional dan dipindahkan ke Israel “bertentangan dengan keinginannya” saat mencoba menantang “blokade yang melanggar hukum” di Gaza.
Adalah menambahkan bahwa tim hukumnya mewakili Regev di hadapan pengadilan dan menuntut “pembebasan segera dan tanpa syarat.”
Pada hari Rabu (20/05/2026), menteri keamanan sayap kanan Israel Itamar Ben Gvir memposting sebuah video yang telah mencetuskan kemarahan global. Para aktivis diberlakukan dengan tidak manusiawi. Tangan mereka diikat dan dipaksa untuk bersujud. Sontak hal ini memicu seruan untuk membebaskan dan mendeportase mereka dengan cepat.
Video tersebut diterbitkan setelah pasukan Israel mencegat kapal-kapal armada di perairan internasional dan menculik ratusan aktivis asing.
Dengan judul “Selamat datang di Israel,” rekaman itu menunjukkan Ben Gvir mencemooh dan mengibarkan bendera Israel di antara para aktivis yang ditahan saat mereka dipermalukan dan diserang oleh tentara Israel.
(T.RA/S: PIC, Anadolu Agency)
“Laa ya’lamul ghaiba illallah” (Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah)