Lebih dari 22.000 Janda di Gaza: Perang Perparah Beban pada Perempuan Pencari Nafkah

Gaza, SPNA – Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina, pada hari Senin (04/04/2026), mengungkapkan bahwa perang di Jalur Gaza telah berdampak pada peningkatan jumlah perempuan yang menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Saat ini, tercatat lebih dari 22.000 perempuan di wilayah terblokade ini telah menjadi janda.

Dalam makalah analitis berjudul “Perempuan Pencari Nafkah di Jalur Gaza: Ekonomi Perang dan Reproduksi Kemiskinan Sosial,” lembaga ini mengungkap, hilangnya pencari nafkah keluarga akibat perang menyebabkan perubahan besar dalam struktur keluarga Palestina. Puluhan ribu anak juga kehilangan satu atau kedua orang tua.

Studi tersebut menjelaskan, pergeseran ini terjadi dalam konteks ekonomi perang yang runtuh, yang ditandai dengan rusaknya pasar tenaga kerja dan tingkat pengangguran yang sangat tinggi di kalangan perempuan. DI saat yang sama, ekonomi informal berkembang, dengan menempatkan perempuan sebagai pencari nafkah.

Perempuan di Gaza kini memikul tanggung jawab yang tumpang tindih. Menggabungkan dukungan ekonomi dengan pengasuhan, sementara sistem perlindungan sosial yang efektif sebagian besar masih belum ada. Hal ini semakin memperparah tekanan ekonomi, psikologis, dan sosial yang mereka hadapi.

Makalah tersebut menekankan bahwa perubahan ini bukanlah sementara. Kondisi ini mencerminkan restrukturisasi mendalam masyarakat yang dapat mereproduksi kemiskinan lintas generasi.

Mengatasi krisis ini, menurut makalah tersebut, membutuhkan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan perempuan pencari nafkah ke dalam upaya produksi dan rekonstruksi, memandang mereka sebagai peserta aktif dalam pemulihan sosial dan ekonomi, bukan hanya sebagai penerima bantuan.

Data lapangan lebih lanjut menyoroti skala bencana yang dihadapi perempuan di Gaza, yang telah menanggung beban kekerasan dan penderitaan yang paling berat. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 6.020 keluarga telah berkurang menjadi satu orang yang selamat, seringkali seorang perempuan atau anak-anak, sementara 2.700 keluarga telah sepenuhnya musnah dan dihapus dari catatan sipil.

Sementara itu, Kementerian Urusan Perempuan mengatakan bahwa pembunuhan para suami dan penahanan ribuan pria telah memaksa puluhan ribu perempuan menjadi pencari nafkah tunggal bagi keluarga mereka di bawah kondisi kemanusiaan dan ekonomi yang sangat sulit.

(T.RA/S: PIC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya