Yerusalem, SPNA — Mantan Direktur Mossad, Tamir Pardo, melontarkan kritik keras terhadap tindakan Israel di Tepi Barat yang diduduki. Ia menyamakan kekerasan pemukim terhadap warga Palestina dengan peristiwa Holocaust, dan mengaku merasa “malu menjadi seorang Yahudi.”
Pernyataan itu disampaikan Pardo saat mengunjungi desa-desa Palestina yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan. Ia menegaskan, apa yang disaksikannya di lapangan mengingatkan pada tragedi yang pernah menimpa bangsa Yahudi pada abad lalu.
“Yang saya lihat hari ini membuat saya merasa malu menjadi orang Yahudi,” ujarnya. Pardo juga memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan tersebut justru menjadi ancaman eksistensial bagi Israel sendiri.
Menurutnya, aparat penegak hukum Israel mengetahui praktik kekerasan yang dilakukan pemukim ilegal, namun memilih untuk tidak bertindak. Ia menyoroti meningkatnya serangan terhadap warga Palestina, mulai dari perusakan properti, pembakaran rumah, hingga pengusiran paksa.
Pardo memperingatkan, upaya menindak kelompok pemukim ekstrem, yang disebutnya bersenjata dan memiliki dukungan politik, berpotensi memicu konflik internal. “Mereka bisa memicu perang saudara,” katanya.
Ia juga menyinggung pengaruh tokoh sayap kanan dalam pemerintahan, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang dinilai memperkuat posisi kelompok pemukim.
Data di lapangan menunjukkan eskalasi serangan secara signifikan sejak Oktober 2023. Serangan oleh militer Israel dan pemukim di Tepi Barat telah menewaskan sedikitnya 1.154 warga Palestina, melukai lebih dari 11.700 orang, serta menyebabkan hampir 22.000 penangkapan, menurut data resmi Palestina.
Sementara itu, PBB menegaskan bahwa permukiman Israel di wilayah Palestina adala ilegal menurut hukum internasional. Saat ini, sekitar 750.000 pemukim Israel tinggal di 141 permukiman dan lebih dari 200 pos ilegal di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur yang dianggap sebagai wilayah pendudukan.
Peningkatan kekerasan dan ekspansi permukiman dinilai warga Palestina sebagai bagian dari upaya sistematis untuk memperluas kontrol wilayah. Pernyataan Pardo menambah daftar kritik dari dalam Israel sendiri terhadap arah kebijakan pemerintah di wilayah pendudukan.
(T.RS/S:MiddleEastMonitor)