Akibat Blokade, Satu-satunya Pabrik Oksigen Gaza Utara Terancam Berhenti

Jalur Gaza, SPNA — Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan satu-satunya pabrik oksigen yang melayani Kota Gaza dan wilayah utara berada dalam kondisi kritis dan terancam berhenti beroperasi. Kerusakan berulang yang tidak dapat ditangani, akibat terbatasnya akses suku cadang di tengah blokade Israel, menjadi faktor utama yang memperburuk situasi.

Dalam keterangan resminya, otoritas kesehatan menyebut fasilitas tersebut sebagai sumber utama pasokan oksigen medis bagi rumah sakit dan pasien, khususnya mereka yang membutuhkan perawatan intensif dan dukungan pernapasan.

Namun, tekanan operasional yang tinggi dalam situasi darurat, tanpa dukungan teknis memadai, menyebabkan gangguan pada mesin terus terjadi. Di sisi lain, keterbatasan akses masuk peralatan dan komponen pengganti membuat upaya perbaikan tidak dapat dilakukan secara optimal.

Kementerian Kesehatan menegaskan, apabila pabrik ini berhenti beroperasi, pasokan oksigen medis akan terganggu secara signifikan dan beresiko mempengaruhi pelayanan kesehatan secara luas. Kondisi ini dinilai dapat membahayakan keselamatan pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi kritis.

Pihaknya juga menyerukan kepada komunitas internasional dan lembaga terkait untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk membuka akses bagi masuknya peralatan produksi oksigen baru serta menjamin kelangsungan distribusi oksigen medis ke fasilitas kesehatan di Gaza.

Krisis ini terjadi di tengah tekanan berkepanjangan terhadap sektor kesehatan di wilayah tersebut. Selama beberapa waktu terakhir, otoritas kesehatan Gaza berulang kali memperingatkan dampak pembatasan akses masuk obat-obatan, alat medis, dan kebutuhan penunjang layanan kesehatan lainnya.

Laporan resmi Palestina juga menunjukkan bahwa pembatasan terhadap suku cadang telah menghambat pemeliharaan berbagai peralatan penting, termasuk mesin medis dan kendaraan layanan darurat. Hal ini semakin membatasi kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan secara optimal.

Situasi tersebut berlangsung di tengah belum optimalnya pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025, yang antara lain mencakup pembukaan akses bantuan kemanusiaan, termasuk pasokan medis dan kebutuhan dasar lainnya.

Sejak agresi Israel pada Oktober 2023, sektor kesehatan di Gaza mengalami tekanan berat. Data Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu korban jiwa dan kerusakan luas pada infrastruktur sipil, termasuk fasilitas kesehatan. Dalam kondisi tersebut, keberlangsungan pasokan oksigen menjadi salah satu aspek krusial bagi kelanjutan layanan medis di wilayah itu.

(T.RS/S:MiddleEastMonitor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya