Gaza, SPNA – Jalur Gaza membutuhkan sedikitnya 71,4 miliar Dolar AS untuk pemulihan dan rekonstruksi dalam 10 tahun ke depan pasca 24 bulan menghadapi agresi brutal Israel yang menghancurkan hampir seluruh sektor kehidupan. Angka ini terungkap dalam laporan akhir bersama Uni Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Bank Dunia yang dirilis Senin (20/4) seperti dilansir Middel East Monitor.
Laporan bertajuk Gaza Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA) itu menyebutkan, kebutuhan mendesak dalam 18 bulan pertama mencapai 26,3 miliar Dolar AS. Dana tersebut akan digunakan untuk memulihkan layanan dasar, membangun kembali infrastruktur vital, serta mendukung pemulihan ekonomi yang nyaris lumpuh.
Kerusakan fisik akibat perang ditaksir mencapai 35,2 miliar Dolar AS. Sementara kerugian ekonomi dan sosial diperkirakan sebesar 22,7 miliar Dolar AS. Sektor yang paling terdampak meliputi perumahan, kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan pertanian.
Sebanyak lebih dari 371.888 unit rumah dilaporkan hancur atau rusak. Dampaknya, lebih dari 60% warga Gaza kehilangan tempat tinggal. Di sektor kesehatan, lebih dari separuh rumah sakit tidak lagi berfungsi. Sementara di sektor pendidikan, hampir seluruh sekolah mengalami kerusakan.
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa ekonomi Gaza merosot hingga 84%. Dampak perang dinilai sangat destruktif menyebabkan kualitas hidup masyarakat, meliputi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, mundur 77 tahun ke belakang.
Krisis kemanusiaan semakin memburuk dengan sekitar 1,9 juta warga terpaksa mengungsi, banyak terpaksa harus mengungsi berulang kali. Sementara itu Kelompok rentan, perempuan, anak-anak dan penyandang disabilitas, menjadi pihak yang paling terdampak.
Laporan ini disusun sebagai dasar analisis untuk perencanaan pemulihan awal dan rekonstruksi, sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Uni Eropa dan PBB menekankan bahwa upaya pemulihan harus berjalan beriringan dengan bantuan kemanusiaan.
Selain itu, rekonstruksi disebut perlu mencakup Jalur Gaza dan Tepi Barat, serta dipimpin oleh otoritas Palestina. Upaya ini juga harus terhubung dengan proses politik yang lebih luas menuju solusi dua negara.
Laporan tersebut menekankan, keberhasilan rekonstruksi Gaza sangat bergantung pada sejumlah prasyarat. Di antaranya gencatan senjata yang berkelanjutan, akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, pemulihan layanan dasar, kebebasan pergerakan barang dan manusia, kejelasan tata kelola pemerintahan, serta dukungan pendanaan internasional dalam skala besar. Tanpa pemenuhan syarat-syarat tersebut, upaya pemulihan Gaza diperkirakan akan menghadapi hambatan serius dan akan kandas.
(T.RS/S:MEMO)