Israel Masih Menargetkan Pekerja Kemanusiaan di Gaza

Penduduk Palestina mengiringi jenazah Majdi Mustafa Aslan (54 tahun), di Rumah Sakit Syuhada al-Aqsha, yang meninggal dunia akibat tembakan Israel saat mengemudikan konvoi evakuasi medis WHO di Khan Younis, selatan Jalur Gaza, pada 6 April 2026. (Foto: Ahmed Ibrahim/APA Images)

Gaza, SPNA– Majdi Aslan (54 tahun), tengah mengemudikan truk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 6 April lalu ketika militer Israel menembaknya hingga meninggal dunia di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Aslan merupakan sopir utama dalam konvoi WHO yang sedang mengevakuasi pasien Palestina yang terluka menuju Mesir dan negara lainnya.

Berdasarkan protokol yang berlaku, konvoi tersebut sebenarnya telah mengantongi izin koordinasi dari militer Israel. Namun, tentara Israel mencegat mereka di jalan utama Salah al-Din, menembaki sang sopir, dan memblokade pergerakan konvoi.

Raed Aslan, staf WHO lainnya yang berada dalam konvoi tersebut, mengungkapkan kepada Mondoweiss bahwa kendaraan mereka telah ditandai dengan logo WHO yang mencolok di bagian depan, samping, dan belakang.

“Tidak ada kendaraan yang bisa lewat tanpa koordinasi resmi dengan pihak Israel. Ada tiga orang di dalam kendaraan saat tank Israel mencegat kami,” ujarnya dari Rumah Sakit Syuhada al-Aqsha di Deir al-Balah.

“Ia membayar harga mahal demi kerja kemanusiaan kami,” tambah Raed.

Konvoi yang membawa 17 pasien tersebut akhirnya terpaksa berbalik arah kembali ke rumah sakit di Gaza. Dr. Fathi Lulu dari RS Syuhada al-Aqsha menegaskan bahwa penargetan terhadap pegawai WHO ini akan berdampak buruk pada kemampuan koordinasi evakuasi medis di masa depan.

Memasuki bulan ketujuh “gencatan senjata,” Israel terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza sembari melancarkan serangan udara dan insiden perbatasan yang menelan korban jiwa saban hari. Korban jiwa mencakup perempuan, anak-anak, pekerja bantuan, hingga jurnalis.

Pembatasan ini kian mencekik sejak pecahnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dengan dalih “keamanan”. Blokade kemanusiaan yang terus berlanjut ini terkadang bermanifestasi dalam insiden kekerasan yang nyata seperti pembunuhan Majdi Aslan, tetapi lebih sering terjadi secara senyap.

Januari lalu, Israel melarang aktivitas 37 organisasi bantuan internasional di Gaza dan Tepi Barat. Kebijakan ini memukul warga Gaza yang mayoritas bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup.

“Kami mengamati penurunan signifikan dalam kemampuan organisasi internasional untuk bekerja di Jalur Gaza,” kata Ismail Thawabta, Direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza. “Penurunan ini bukan hal alami, melainkan hasil langsung dari tindakan Israel yang menargetkan operasi organisasi-organisasi tersebut.”

Sejumlah organisasi, seperti Program Pangan Dunia (WFP) dan UNRWA, telah mengurangi layanan mereka akibat tekanan dan pembatasan Israel. Pasokan tepung WFP menyusut 30 persen, sementara toko roti binaan WFP memangkas produksi roti hingga 50 persen di tengah kelangkaan kritis air dan susu bayi.

Abdulnasser Ajrami, Ketua Asosiasi Toko Roti di Gaza, menyebutkan bahwa pengurangan pasokan tepung dan solar telah menurunkan produksi roti dari 300 ton menjadi 200 ton per hari. Sementara itu, UNRWA mengumumkan pengurangan layanan sebesar 20 persen akibat tekanan politik dan ekonomi. Jonathan Fowler, Direktur Komunikasi UNRWA, menyatakan bahwa organisasi tersebut memang sengaja ditargetkan untuk melumpuhkan kinerjanya.

Dampak Blokade Kemanusiaan

Dampak blokade ini kian terasa nyata bagi penduduk Gaza. Hamouda Hussam (43 tahun), menceritakan bahwa banyak dapur komunitas atau “Tekiya” yang menjadi garda terdepan melawan kelaparan kini terpaksa tutup. Dapur-dapur ini kesulitan beroperasi karena prosedur “koordinasi” yang memberatkan dari otoritas Israel.

Di toko-toko roti, antrean kini bisa memakan waktu hingga 10 jam. Hussam sendiri mengaku sering pulang dengan tangan hampa.

“Semua selalu bermula dari roti. Jika barang kebutuhan pokok langka, roti adalah pertanda pertamanya,” ujarnya kepada Mondoweiss.

Hussam menambahkan bahwa masyarakat Gaza sepenuhnya bergantung pada organisasi yang kini dimusuhi Israel. “Jika WFP mengurangi pasokan, kami tidak bisa memberi makan anak-anak. Jika WHO tutup, kami tidak bisa mengobati yang sakit. Lantas, apa yang diinginkan Israel dengan memerangi organisasi-organisasi ini?”

Penduduk Palestina mengantre untuk mendapatkan roti di toko roti setempat di tengah kelangkaan roti di Gaza menyusul pembatasan masuknya bantuan ke Jalur Gaza oleh Israel, pada 6 April 2026. (Foto: Tariq Mohammad/APA Images)

Ia menjawab pertanyaannya sendiri: “Untuk membiarkan penduduk Palestina menuju ketidakpastian dan merampas kemampuan mereka untuk memberi makan diri sendiri.” Menurutnya, hal ini terlihat jelas dari siapa yang menjadi target Israel: petani, pabrik, hingga orang-orang yang bercocok tanam di lahan mereka sendiri.

Hussam merasa geram karena kelangkaan ini semakin nyata bahkan sejak minggu pertama perang melawan Iran. Hal ini menyingkap fakta betapa totalnya ketergantungan warga Gaza terhadap kerja sama Israel dengan organisasi internasional.

“Israel membiarkan kami tetap hidup dari hari ke hari, dan ketika mereka menghentikan bantuan meski sebentar, semua orang langsung berada di ambang kelaparan,” pungkasnya.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya