Pergi Pakai Baju Sekolah, Pulang Berbalut Kain Kafan: Israel Bunuh Siswi Palestina di Kelas

Ritaj Abdulrahman Rihan (9 tahun) meninggal dunia setelah dibunuh oleh pasukan penjajah Israel saat berada di ruang kelas di Kota Gaza pada 9 April 2026. (Foto: MEE/Hani Abu Rezeq)

Gaza, SPNA – Ritaj Abdulrahman Rihan tengah berlatih operasi pengurangan bilangan empat digit dalam pelajaran matematika di Beit Lahia, Gaza Utara. Gurunya memberikan soal kepada para murid dan meminta mereka mengerjakannya.

Ritaj menuliskan soal tersebut, akan tetapi ruang untuk jawaban di kertasnya tetap kosong—yang kemudian justru dipenuhi noda darahnya.

Siswi Palestina berusia sembilan tahun itu syahid setelah ditembak di kepala oleh pasukan Israel yang ditempatkan di sekitar lokasi, saat ia sedang mengikuti pelajaran bersama sekitar 40 murid lain di Sekolah Abu Ubaida Bin al-Jarrah pada Kamis (09/04/2026).

Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, akan tetapi dinyatakan meninggal sebelum kedua orang tuanya sempat berpamitan.

“Setiap hari, saya mengantar anak saya ke sekolah agar ia bisa belajar seperti anak-anak lain di dunia,” kata ayah Ritaj, Abdulrahman, kepada Middle East Eye.

“Hari ini, sekitar satu jam setelah saya menurunkannya, saya menerima kabar bahwa anak saya telah terbunuh. Saya tidak pernah membayangkan akan menerima kabar kematiannya saat ia berada di tempat belajar. Itu guncangan yang tak terlukiskan.”

Keluarga tersebut sebelumnya tinggal di tenda darurat setelah rumah mereka hancur dalam serangan Israel. Meski demikian, mereka tetap berusaha menyekolahkan Ritaj dengan berjalan sekitar satu kilometer setiap hari menuju sekolah.

Anak Pertama

“Saya ingin dia belajar dan bersekolah seperti anak-anak lain di dunia. Kami juga memiliki anak lain berusia empat tahun. Tapi Ritaj adalah anak pertama kami, kebahagiaan pertama kami,” ujar Abdulrahman.

“Kami senang dia telah tumbuh dan tetap hidup serta sehat setelah dua tahun perang, sehingga bisa membawa tas sekolah dan buku. Ia akhirnya kembali ke sekolah. Ia cerdas dan sangat mencintai sekolah.”

“Seharusnya berada di wilayah aman”

Selama dua tahun terakhir, Ritaj tidak dapat bersekolah akibat serangan besar-besaran Israel dan berulangnya pengungsian keluarga. Tahun ajaran ini menjadi pertama kalinya ia kembali bersekolah setelah kesepakatan gencatan senjata.

Meski kegiatan belajar berlangsung di bangunan rusak atau tenda darurat, sang ayah menyebut itu masih lebih baik daripada tidak bersekolah sama sekali.

Sekolah tersebut berada di wilayah yang disebut relatif aman di Gaza Utara, sekitar dua kilometer dari “Garis Kuning” yang diberlakukan Israel.

Batas tersebut ditetapkan secara sepihak dan ditandai militer Israel di dalam Jalur Gaza sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober. Garis itu menetapkan sejumlah besar wilayah sebagai zona terlarang, melarang warga Palestina—dengan ancaman tembakan mematikan—untuk memasuki wilayah di utara, selatan, dan timur. Namun, unit artileri dan penembak jitu Israel yang ditempatkan di sepanjang “Garis Kuning” secara rutin melepaskan tembakan ke permukiman penduduk Palestina yang disebut sebagai zona aman.

“Sekolah ini seharusnya berada di wilayah aman. Tidak dekat dengan Garis Kuning, karena itu kami merasa cukup tenang untuk mengirimnya belajar,” kata ibu Ritaj, Ola, kepada MEE.

“Saya memakaikannya baju, menyisir rambutnya, dan mengikatnya untuk sekolah pagi ini. Ia kembali kepada saya dalam keadaan tak bernyawa, dengan wajah penuh darah. Saya masih tidak bisa memahami kenyataan ini.”

“Ritaj anak yang ceria dan baik. Ia tidak pernah menyusahkan saya dan selalu menjawab ‘ya, Mama’ untuk semua hal. Sampai sekarang saya masih melihat wajahnya. Saya tidak percaya ia telah pergi.”

Ola Rihan memegang buku catatan berlumuran darah milik putrinya, Ritaj Abdulrahman Rihan, yang meninggal dunia akibat setelah ditembak pasukan penjajah Israel saat mengerjakan soal matematika. (Foto: MEE/Hani Abu Rezeq)

“Ini Bukan Tinta, Ini Darah Anak Saya”

Bersama jasad Ritaj, Ola juga menerima buku catatan milik putrinya. Ia membukanya dan mencari apa yang sedang dipelajari anaknya sebelum terbunuh.

“Ini buku catatannya, dan ini pelajaran yang sedang ia pelajari hari ini, tapi tidak sempat selesai. Ini halaman yang ternoda darah anak saya. Ini bukan tinta; ini darah anak saya,” ujarnya sambil memegang halaman yang berlumur darah kepada MEE.

“Buku ini adalah bukti terbesar kejahatan Israel terhadap anak-anak kami.”

Pasukan Israel disebut telah membunuh dan melukai puluhan penduduk Palestina di dekat “Garis Kuning” atau di wilayah yang dianggap relatif aman sejak Oktober 2025, dalam dugaan pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata.

Seiring perluasannya, batas militer tersebut disebut terus bertambah setiap bulan, menggusur ribuan penduduk sipil yang sebelumnya diizinkan kembali ke rumah mereka berdasarkan perjanjian gencatan senjata.

Dalam sejumlah kasus, pasukan Israel juga meratakan wilayah yang telah berada di bawah kendalinya, dengan rumah dan bangunan warga dibom segera setelahnya.

“Itu guncangan yang tak terlukiskan karena kami tak pernah membayangkan kehilangannya dengan cara seperti ini, apalagi kami mengira kami aman di sini. Ritaj adalah hal paling berharga dalam hidup saya. Ia bagian dari jiwa saya,” kata Ola.

“Kami telah membelikan gaun dan sepatu itu agar ia memakainya ke pernikahan pamannya minggu depan. Ia sangat bahagia dan bersemangat memakainya. Tapi ia tidak pernah sempat memakainya. Hari ini, ia kembali kepada saya dalam kain kafan.”

Sebelum kehilangan Ritaj, Ola juga telah kehilangan ibunya, saudara perempuannya, anak-anak saudara perempuannya, serta pamannya dalam serangan Israel.

“Kami tidak ingin kehilangan lagi. Satu demi satu kejutan duka, kami sudah kelelahan,” ujarnya.

“Anak-anak kami terus terbunuh, bahkan setelah mereka akhirnya bisa bersekolah. Penjajah (Israel) ingin menghentikan proses pendidikan. Ia tidak ingin satu generasi tumbuh terdidik dan mampu.”

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya