Barghouti: Israel Gunakan Perang Iran untuk Mencengkram Palestina

Ramallah, SPNA  –  Di tengah hiruk-pikuk agresi yang dilancarkan Israel dan AS terhadap Iran, Israel diduga memanfaatkan pengalihan perhatian global untuk mempercepat penindasan terhadap rakyat Palestina. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Palestinian National Initiative, Mustafa Barghouti dalam wawancara dengan Al Jazera, Selasa (17/03/2206) . 

Barghouti menilai kondisi ini dimanfaatkan Israel sebagai “kesempatan emas” untuk memperkuat pendudukan dan meningkatkan kekerasan terhadap rakyat Palestina, di tengah minimnya perhatian dunia internasional. “Dunia sibuk dengan Iran, dan Israel menggunakan celah ini untuk membantai, menutup, dan menghancurkan kehidupan rakyat Palestina,” tegas Barghouti..

Operasi Brutal dan Taktik Penyamaran

Barghouti mengungkapkan peristiwa yang ia sebut sebagai “kejahatan biadab” di wilayah Tamun, Tepi Barat. Pasukan Israel menyamar dengan menggunakan kendaraan sipil Palestina sebelum menyerang sebuah keluarga tanpa ampun. Dua orang tua dan dua anak tewas di tempat, sementara dua anak lainnya terluka, salah satunya bahkan dipukul saat sudah dalam kondisi berdarah. Ia menegaskan, pola kekerasan ini bukan insiden tunggal. Serangan oleh tentara dan pemukim Israel terus terjadi, dari Abu Falah hingga Qaryut dan Masafer Yatta, dengan korban sipil berjatuhan hampir setiap hari.

Tepi Barat Dicekik, Kota-kota Jadi Penjara

Tekanan tidak hanya datang dalam bentuk peluru. Lebih dari 1.100 pos pemeriksaan dan ratusan gerbang militer kini mencekik mobilitas warga Palestina. Kota-kota di Tepi Barat praktis berubah menjadi penjara terbuka. Barghouti menyebut kota seperti Hebron kini nyaris lumpuh total, akses keluar-masuk dibatasi hanya beberapa jam per hari. Aktivitas ekonomi mati perlahan, sementara kehidupan sosial runtuh di bawah tekanan militer.

Penutupan Masjid Al-Aqsa di Bulan Suci Ramadan

Penutupan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ibrahimi tidak lagi bisa dibaca sebagai sekadar kebijakan keamanan. Ini adalah langkah ekstrem yang menciptakan preseden berbahaya, bahkan dalam sejarah panjang pendudukan sejak 1967, situasi seperti ini nyaris tak pernah terjadi.

Di Al-Aqsa, suasana yang biasanya hidup dengan lantunan doa dan langkah jamaah kini berubah sunyi dan mencekam. Gerbang-gerbang ditutup, akses diutup rapat, dan aparat bersenjata menguasai setiap sudut kompleks Al-Aqsa. Bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momentum spiritual justru berubah menjadi simbol pengekangan. 

Kondisi serupa terjadi di Masjid Ibrahimi, di mana pembatasan diberlakukan dengan intensitas tinggi, memutus akses jamaah dari tempat suci yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. Kebijakan ini, dalam pandangan banyak pihak, bukan sekadar pengaturan keamanan, melainkan bentuk kontrol total yang menyasar dimensi paling mendasar dari kehidupan masyarakat: keyakinan dan martabat.

“Ini bukan sekadar pembatasan,” tegas Mustafa Barghouti. “Ini adalah penghinaan terbuka terhadap hak beribadah.”

Gaza Tercekik Total

Di Jalur Gaza, situasi digambarkan semakin mencekik. Blokade diperketat, bantuan kemanusiaan terhambat, dan Perlintasan Rafah tetap tertutup. Serangan udara terbaru di Az-Zawayda menewaskan delapan personel polisi sipil—, ang oleh Barghouti ditegaskan tidak memiliki keterlibatan militer. “Tidak ada ruang aman. Tidak ada garis merah yang tersisa,” ujarnya.

Proyek Besar: Mengubur Negara Palestina

Di balik operasi militer, Israel juga mempercepat ekspansi permukiman ilegal. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengubur solusi dua negara. “Solusi dua negara praktis sudah mati,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa kegagalan proyek tersebut tidak berarti rakyat Palestina akan menyerah atau hengkang dari tanahnya.

Eskalasi Regional dan Retaknya Dukungan Global

Barghouti juga menyoroti bahwa perang yang lebih luas, melibatkan Iran dan Lebanon, berpotensi menjadi bumerang bagi Israel sendiri. Ia menilai tekanan ekonomi dan militer yang dihadapi Israel semakin berat, meski tidak sepenuhnya terekspos ke publik. Di sisi lain, ia mencatat mulai munculnya gelombang penolakan di Amerika Serikat terhadap perang tersebut, yang dapat menjadi tekanan politik bagi Washington untuk menghentikan perang.

Barghouti menyerukan dunia internasional untuk berhenti berpaling. Ia menuntut media global, lembaga HAM, dan negara-negara dunia untuk mengungkap dan menindak pelanggaran yang terus berlangsung. “Ini bukan sekadar konflik. Ini upaya sistematis menghapus sebuah bangsa,” tutupnya.

(T.RS/S:Aljazera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya