Israel Manfaatkan Perang Iran untuk Menyerang dan Membunuh Penduduk Palestina di Tepi Barat

Mousa dan Omar Hamayel (keduanya berusia 39 tahun), berada di lokasi tempat Thaer Hamayel meninggal dunia dalam serangan pemukim teroris Israel di dekat Ramallah, pada Maret 2026. (Foto: Reuters/Ammar Awad)

Yerusalem, SPNA – Pada Ahad (08/03/2026) dini hari, penduduk Palestina di Abu Falah—sebuah kota kecil di dekat Ramallah, Tepi Barat yang diduduki—melihat sekitar 100 pemukim ilegal Israel berkumpul di sebuah bukit tak jauh dari rumah mereka.

Para pria bertopeng itu kemudian turun menuju kota dengan tujuan menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina dan mengusir para penghuninya.

Penduduk Palestina setempat sebenarnya sudah terbiasa menghadapi gangguan terus-menerus dari para pemukim ilegal Israel yang tinggal di pos-pos kecil di perbukitan sekitar. Namun mereka mengatakan belum pernah mengalami kekerasan dalam skala sebesar ini.

Kehadiran para pemukim bersenjata senapan M16 memicu kepanikan. Penduduk Palestina segera mengirimkan pesan darurat melalui grup WhatsApp desa. Sejumlah penduduk kemudian keluar dari rumah untuk menghadang para penyerang.

“Ketika para pemukim menyadari mereka tidak bisa membakar rumah kami, mereka mulai menembaki kami,” kata Omar Hamayel, seorang saksi mata, kepada Middle East Eye.

Dua kerabat Hamayel meninggal dunia dalam serangan tersebut: Fara Hamayel (57 tahun), dan Thaer Hamayel (30 tahun). Keduanya ditembak di kepala. Serangan itu juga menyebabkan tujuh penduduk Palestina lainnya terluka.

“Salah satu pria tertembak di paha. Saat ia terbaring terluka di tanah, para pemukim menyerangnya dengan batu, mencoba membunuhnya dengan pukulan dan lemparan batu. Penduduk lain berusaha menariknya dan menyelamatkannya,” ujar Hamayel.

Gas air mata ditembakkan ke pusat medis

Sekitar satu setengah jam kemudian, militer Israel tiba di lokasi. Mereka menembakkan gas air mata ke arah penduduk Palestina yang berkumpul di luar pusat medis untuk memeriksa kondisi kerabat mereka.

Salah seorang di antaranya, Mohammad Murra (54 tahun), ayah dari empat anak yang sedang tidur saat serangan terjadi, keluar dari rumahnya dan mengalami serangan jantung akibat menghirup gas tersebut. Ia dilarikan ke rumah sakit, tetapi dinyatakan meninggal dunia.

Setelah serangan itu, para aktivis menyebarkan rekaman video melalui WhatsApp yang menunjukkan sebuah pos pemukim ilegal Israel baru didirikan hanya beberapa ratus meter dari lokasi pembunuhan.

Tiga korban meninggal dunia di Abu Falah termasuk di antara enam penduduk Palestina yang terbunuh akibat serangan pemukim di berbagai wilayah Tepi Barat dalam sepekan terakhir. Kekerasan itu meningkat seiring berlangsungnya serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Serangan para pemukim teroris Israel ini tidak terkonsentrasi di satu wilayah, melainkan terjadi di sejumlah desa di seluruh Tepi Barat.

Beberapa hari setelah serangan terhadap Iran dimulai, pada dini hari 2 Maret, para pemukim teroris Israel menembak mati dua penduduk Palestina bersaudara, Muhammad dan Fahim Azem, di desa Qaryut, wilayah Nablus.

Beberapa hari kemudian, di Wadi Ar-Rahim di perbukitan selatan Hebron, seorang pemukim teroris Israel bersenjata membunuh Amir Muhammad Shanaran (26 tahun), serta melukai parah saudaranya, Khaled.

Ameen Shoman, anggota komite regional Fatah di Ramallah dan Bireh, mengatakan peningkatan serangan itu juga disertai percepatan pembangunan pos-pos pemukim ilegal Israel, khususnya di Area B dan C.

“Ribuan pohon telah ditebang dan ratusan kendaraan serta puluhan rumah penduduk Palestina dibakar,” kata Shoman kepada Middle East Eye.

“Mereka memanfaatkan situasi di lapangan untuk memaksakan kebijakan fakta di lapangan melalui perubahan geografis dan demografis di wilayah Palestina,” ujarnya.

Seorang perempuan Palestina duduk di dekat kendaraan yang dibakar oleh pemukim ilegal Israel di Susiya, Tepi Barat yang diduduki, 25 Februari 2026. (Foto: Reuters/Mussa Qawasma).

Kesempatan untuk Melakukan Pembersihan Etnis

Seorang pekerja lembaga swadaya masyarakat di Tepi Barat yang meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir akan pembalasan mengatakan skala dan tingkat kekerasan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saya tidak ingat ada satu pekan di mana enam orang dibunuh oleh pemukim di berbagai wilayah Tepi Barat. Sekarang jauh lebih sering terdengar kabar seseorang dibunuh atau terluka parah akibat serangan pemukim,” katanya kepada Middle East Eye.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.000 penduduk Palestina meninggal dunia akibat serangan pemukim teroris Israel dan tentara Israel di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Sekitar seperlima dari korban tersebut adalah anak-anak.

Yair Dvir, juru bicara organisasi HAM Israel B’Tselem, mengatakan lonjakan pembunuhan juga disebabkan para pemukim teroris Israel semakin sering menggunakan peluru tajam dan menargetkan desa-desa yang lebih besar di Area B, seperti Qaryut dan Abu Falah.

Sebelumnya, serangan pemukim teroris Israel lebih sering menyasar komunitas pedesaan kecil di Area C—wilayah yang mencakup sekitar 60 persen Tepi Barat dan berada di bawah kendali Israel. Kini, serangan meluas ke kota-kota yang lebih besar di Area B yang dikelola oleh Otoritas Palestina.

“Kami melihat para pemukim secara terbuka membicarakan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan pembersihan etnis,” kata Dvir.

Menurut B’Tselem, sekitar 57 komunitas Palestina telah dipaksa mengungsi sejak 7 Oktober 2023, empat di antaranya hanya dalam sepekan terakhir.

Setelah serangan Sabtu di Abu Falah, militer Israel mengeluarkan pernyataan yang menjanjikan “nol toleransi bagi warga sipil yang bertindak main hakim sendiri”. Namun selama bertahun-tahun para pemukim kerap melakukan penyerbuan dengan bekerja sama dengan militer.

Kini kerja sama itu tampaknya semakin erat. Para pemukim teroris Israel membentuk milisi sipil dan dipersenjatai dengan senjata setara militer.

Pada Senin, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengizinkan sekitar 300.000 pemukim ilegal Israel di lingkungan Yahudi di Yerusalem untuk membawa senjata api.

Jonathan Pollak, anggota jaringan aktivis akar rumput Palestina Sumud, melaporkan bahwa dalam sepekan terakhir para pemukim berpakaian sipil terlihat menjaga pos pemeriksaan bersama tentara Israel.

Ia juga mengatakan kendaraan lapis baja terlihat dikerahkan ke desa-desa.

“Hal seperti ini tidak kami lihat sejak Intifada Kedua,” kata Pollak. “Bahkan saat itu pun jarang. Kendaraan lapis baja berat biasanya digunakan di kota dan kamp pengungsi, bukan di desa.”

“Alasan taktisnya sama sekali tidak jelas karena mereka tidak melakukan apa pun,” ujarnya. “Sepertinya tidak ada tujuan selain meningkatkan eskalasi.”

Malak Beirat (26 tahun), mencium aroma suaminya, Thaer Hamayel, pada jaket yang ditinggalkannya sebelum ia meninggal dunia dibunuh oleh pemukim teroris Israel di desa Abu Falah. (Foto: Dokumentasi pribadi/Istimewa)

Wilayah Tanpa Hukum

Lembah Yordan yang berada di Area C memberikan gambaran jelas tentang arah masa depan Tepi Barat. Wilayah subur di sisi timur Tepi Barat itu dahulu dipenuhi komunitas penggembala Palestina dan direncanakan menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.

Kini sebagian besar wilayah itu telah dikosongkan dari penduduk Palestina akibat serangan hampir setiap hari oleh pemukim teroris dari pos-pos ilegal Israel di sekitarnya.

Selama puluhan tahun, berbagai kebijakan Israel juga membatasi akses penduduk Palestina ke lahan pertanian dengan menetapkannya sebagai “zona tembak” militer serta membatasi pasokan air.

“Mereka bisa mengambil wilayah yang sangat luas hanya dengan mengusir komunitas kecil,” kata Amos Goldberg, anggota jaringan aktivis Israel Jordan Valley Activists.

“Teror harian itu kini menjadi tak tertahankan. Wilayah ini sepenuhnya tanpa hukum.”

Operasi pengambilalihan tanah Palestina itu semakin dipercepat setelah peristiwa 7 Oktober 2023. Kini, proses tersebut hampir rampung.

Pada Januari lalu, 12 keluarga Palestina dipaksa meninggalkan desa Badui terakhir di Lembah Yordan bagian selatan.

Beberapa pekan sejak dimulainya perang terhadap Iran juga diwarnai serangkaian serangan terhadap komunitas di wilayah utara, tempat hanya segelintir komunitas Palestina yang masih bertahan.

Pada Selasa malam, para aktivis melaporkan para pemukim menyerbu rumah-rumah terakhir yang tersisa di komunitas Hammamat al-Maleh.

Dusun kecil itu mengalami delapan serangan hanya dalam dua pekan terakhir. Para pemukim teroris itu dilaporkan menyerang Haj Abu al-Raed yang berusia 74 tahun serta dua aktivis Israel.

Menurut laporan para aktivis, para penyerang “memecahkan kacamata lelaki tua itu dan memukulinya hingga berdarah”.

Beberapa hari sebelumnya, komandan Brigade Lembah Yordan, Brigadir Jenderal Gilad Shriki, mengunjungi sejumlah komunitas Palestina di Lembah Yordan Utara, termasuk Hammamat al-Maleh, dan memerintahkan mereka untuk pergi.

Shriki memperingatkan pasukannya sedang membangun penghalang yang akan menyegel aneksasi wilayah tersebut, memisahkannya dari bagian lain Tepi Barat dan mencegah para petani Palestina mencapai lahan mereka.

Penghalang pemisah sepanjang 22 kilometer di Lembah Yordan Utara itu disebut sebagai lonceng kematian bagi komunitas seperti Hammamat al-Maleh. Shriki mengatakan kepada komunitas Palestina yang tersisa agar segera pergi sekarang untuk menghindari penderitaan menyaksikan rumah mereka dihancurkan.

“Ini Area C,” katanya. “Tanah ini milik orang Yahudi.”

(T.FJ/S: MEE)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya