Beijing, SPNA – Pemerintah Cina, sebagaimana dilansir The Cradle, pada Kamis (05/02/2025), membatalkan seluruh investasi baru di Israel. Hal itu terungkap dari jawaban sebuah dana investasi Cina atas gugatan hukum yang diajukan sebuah permukiman Israel di wilayah utara negara tersebut.
Pemukim Israel di Kibbutz Hanita mengajukan gugatan terhadap dana investasi Cina, Ballet Vision, yang menguasai 80 persen saham pabrik lensa intraokular yang berlokasi di permukiman tersebut. Gugatan diajukan ke Pengadilan Distrik Tel Aviv dengan nilai tuntutan mencapai 11 juta dolar atau sekitar 184 miliar rupiah.
Dalam gugatan itu, pihak Kibbutz menuduh Ballet Vision menolak melaksanakan opsi pembelian sisa saham Hanita Lenses yang masih dimiliki permukiman tersebut.
Ballet Vision, dalam jawabannya, menyatakan bahwa Israel telah diklasifikasikan sebagai “wilayah berisiko tinggi” sejak pecahnya konflik besar pada 2023, sehingga seluruh investasi baru dari Cina ke negara tersebut dilarang.
“Sejak pecahnya pertempuran di Israel, pemerintah Cina telah menetapkan Israel sebagai zona berisiko tinggi (kategori merah) dan melarang seluruh investasi baru dari Cina di negara itu. Selama pembatasan ini masih berlaku, tidak ada kemampuan operasional yang realistis untuk melaksanakan opsi tersebut,” bunyi pernyataan Ballet Vision dalam surat balasan.
Gugatan menyebut bahwa pada 2021, Kibbutz Hanita menjual 74 persen saham Hanita Lenses kepada Ballet Vision senilai US$ 35 juta atau sekitar 587 miliar rupiah. Dari jumlah itu, sekitar 419 miliar rupiah dibayarkan kepada anggota kibbutz, sementara sekitar 167 miliar diinvestasikan ke perusahaan.
Gugatan juga menuduh bahwa dua kesepakatan pada 2022 dengan pihak Cina telah mengencerkan kepemilikan saham sehingga Ballet Vision memegang 80 persen saham produsen lensa Israel itu. Kibbutz Hanita mengeluhkan bahwa saham yang mereka miliki kini menjadi “tidak berarti”.
Selain larangan investasi oleh pemerintah Cina, Ballet Vision mengatakan bahwa Hanita Lenses mengalami kerugian operasional yang signifikan.
Direktur Ballet Vision sekaligus CEO pabrik tersebut, Liu Yuxiao, mengatakan pada Desember tahun lalu bahwa Hanita Lenses mencatat kerugian sekitar 251 miliar rupiah selama tiga tahun terakhir, serta utang sebesar 67 miliar rupiah, kondisi yang menyebabkan tekanan keuangan serius.
Liu menyatakan dia ditunjuk sebagai CEO pada Maret tahun lalu untuk mencoba mencegah kebangkrutan total, dan menambahkan bahwa perusahaan diperkirakan baru akan mencapai titik impas pada 2026. Ia menganggap pembicaraan mengenai pembelian saham saat ini masih “terlalu dini” dan bisa berdampak negatif pada proses pemulihan perusahaan.
Gugatan ini bertepatan dengan kekhawatiran meningkatnya potensi konflik antara AS dan Iran. Teheran telah bersumpah akan menyerang Israel serta basis militer AS di kawasan jika Washington melancarkan serangan.
Di beberapa pekan terakhir, sejumlah maskapai penerbangan internasional membatalkan penerbangan ke Israel dan mengeluarkan peringatan untuk menghindari wilayah udara Iran.
(T.FJ/S: The Cradle)