Jalur Gaza, SPNA — Setelah lebih dari 71.000 warga Palestina menjadi korban kebrutalan dalam agresi Israel yang menghancurkan hampir seluruh wilayah Gaza, dan menyebabkan kelaparan massal serta penyebaran penyakit, Israel justru mengkhawatirkan rokok sebagai ancaman kesehatan baru terhadap warga Gaza.
Laporan media Israel yang dikutip RT Arabic, menyebut otoritas militer melalui badan Koordinator Aktivitas Pemerintah di Wilayah-Wilayah (COGAT) menetapkan bahwa rokok tidak termasuk produk kemanusiaan karena berbahaya bagi kesehatan. Keputusan itu terdengar nyaris ironis di Jalur Gaza yang luluh lantak akibat bom Israel, reruntuhan bangunan, kelaparan, dan minimnya pelayanan medis.
Kolumnis Yedioth Ahronoth, Nahum Barnea, bahkan menyindir keputusan tersebut sebagai bentuk “kepekaan kemanusiaan yang berlebihan.” Namun di Gaza, logika itu terasa terbalik, serangan bom dianggap kebutuhan perang, penghancuran rumah disebut alasan keamanan, tetapi sebatang rokok ditetapkan ancaman pembunuhan.
Paradoks tidak berhenti di situ. Air tercemar, wabah penyakit, dan kelangkaan obat-obatan justru tidak masuk dalam daftar “bahaya kesehatan”. Sebaliknya, tembakau justru diperlakukan sebagai ancaman utama.
Media Israel Israel Hayom melaporkan harga satu batang rokok melonjak hingga 15 dolar AS, sementara satu bungkus bisa mencapai 300 dolar. Akibatnya, banyak warga yang sebelumnya menghabiskan satu bungkus sehari kini harus berbagi satu batang dalam sepekan, bukan karena kesadaran hidup sehat, melainkan karena keterpaksaan ekonomi.
Kebijakan pembatasan itu juga memicu pasar gelap. Jaringan penyelundupan dilaporkan berkembang, melibatkan drone, jalur ilegal, hingga dugaan praktik korupsi. Bahkan, menurut laporan media Israel, seorang kerabat pejabat keamanan turut terseret dalam kasus penyelundupan.
Alasan lain di balik larangan tersebut disebut lebih politis, bahwa penjualan rokok dapat menjadi sumber pajak bagi Hamas. Di titik inilah, pertimbangan kesehatan tampak sesuai dengan kalkulasi ekonomi dan strategi tekanan politik.
Barnea menilai persoalannya bukan semata rokok, melainkan pola yang lebih luas, sistem yang menciptakan kehancuran, lalu mengklaim sedang memeranginya. Dari kekerasan di Tepi Barat hingga blokade barang di Gaza, kebijakan yang kontradiktif dinilai justru menormalisasi krisis.
Kenyataannya, warga Gaza tidak sedang memilih cara mati yang lebih sehat. Mereka berjuang untuk sekadar bertahan hidup di tengah perang berkepanjangan. Karena itu, kritik pun bermunculan bahwa Israel tidak terlalu peduli apakah warga Palestina hidup atau mati, yang penting bukan karena rokok.
Seperti disimpulkan seorang penulis Israel sendiri, persoalan Gaza bukanlah tembakau ataupun paru-paru. “Masalah sebenarnya adalah kanker,” tulisnya, sebuah metafora yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai sindiran terhadap kebijakan perang dan blokade yang terus berlanjut.