Washington, SPNA – Warga Amerika Serikat ramai-ramai sejak Senin (26/01/2026), mulai menghapus aplikasi TikTok dari ponsel mereka dalam beberapa hari terakhir, menyusul perubahan dramatis dalam struktur kepemilikan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap sensor konten, khususnya terkait narasi politik dan konflik di Timur Tengah yang berkaitan dengan Palestina dan Israel.
Data dari Sensor Tower menunjukkan bahwa angka penghapusan aplikasi di AS melonjak hingga hampir 150 persen dalam lima hari terakhir dibandingkan tiga bulan sebelumnya setelah pengumuman perubahan struktural perusahaan. Banyak pengguna merasa ragu dengan masa depan platform ini di bawah kepemilikan baru yang sebagian besar dikendalikan oleh investor Barat.
Kepemilikan Baru TikTok AS
Sejak 22 Januari 2026, TikTok di AS beroperasi melalui perusahaan baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC, hasil restrukturisasi yang dipicu oleh tekanan politik dan undang-undang nasional di AS.
Platform itu kini mayoritas dimiliki oleh investor selain China mulai dari Oracle (perusahaan teknologi besar AS) yang memegang sebagian besar saham; Silver Lake, firma ekuitas swasta AS; MGX, firma investasi yang terkait dengan keluarga kerajaan Abu Dhabi; ByteDance, perusahaan asal Tiongkok, kini hanya memiliki 19,9 persen saham minoritas.
Para investor ini mengambil alih kendali atas moderasi konten, algoritme rekomendasi, dan penyimpanan data pengguna AS dengan alasan keamanan nasional. Berita dari media Arab dan internasional sebelumnya bahkan menyebut investor baru ini sebagai “miliarder pro-Israel dan keluarga kerajaan UAE” yang mengambil alih operasi TikTok AS.
Melalui kesepakatan senilai 14 miliar dolar yang dimediasi Presiden Donald Trump, perusahaan induk TikTok asal Cina, ByteDance, dipaksa memisahkan unit usahanya di Amerika Serikat menjadi entitas tersendiri. Perusahaan baru itu dikendalikan oleh konsorsium yang terdiri atas para miliarder Amerika Serikat dan keluarga kerajaan negara-negara Teluk.
Secara formal, kesepakatan tersebut diklaim berlandaskan alasan keamanan nasional dan perlindungan data. Namun dalam praktiknya, langkah ini dinilai lebih berkaitan dengan perebutan kekuasaan dan kendali atas salah satu platform paling berpengaruh bagi generasi muda dunia, serta bagaimana platform itu membentuk narasi politik, terutama terkait Israel.
Peran TikTok dalam menyiarkan gambar-gambar perang Israel di Gaza, serta dampaknya dalam menggeser opini publik di Amerika Serikat, disebut menjadi faktor kunci dalam tekanan politik yang akhirnya memaksa terjadinya penjualan tersebut.
Pemilik baru TikTok di Amerika Serikat mencakup sejumlah miliarder terkemuka yang dikenal pro-Israel, bersama sebuah dana investasi yang dikelola oleh keluarga penguasa Abu Dhabi.
Siapa Pemilik Baru TikTok di Amerika Serikat?
Pemilik baru TikTok di Amerika Serikat berasal dari gabungan tokoh teknologi berpengaruh, taipan media, serta perusahaan investasi besar. Konsorsium ini dipimpin oleh Larry Ellison, salah satu pendiri Oracle. Perusahaan tersebut sebelumnya telah mengelola data pengguna TikTok di AS dan kini akan mengawasi sistem komputasi awan serta algoritme platform tersebut.
Ellison dikenal sebagai salah satu penyumbang dana pribadi terbesar bagi militer Israel di dunia. Oracle juga tercatat bekerja sama dengan Israel dalam berbagai proyek pengawasan dan pertahanan, termasuk di wilayah Tepi Barat yang diduduki serta di Gaza. Dalam beberapa laporan, Ellison disebut telah lama menjalin hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Investor lain yang dikonfirmasi adalah Rupert Murdoch dan putranya Lachlan Murdoch, yang mengendalikan Fox News, New York Post, serta sebagian besar imperium media global News Corp.
Media-media milik keluarga Murdoch kerap dikritik karena secara konsisten membela Israel dan menyerang aktivisme pro-Palestina. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang potensi pengaruh mereka terhadap cara konten TikTok dikurasi atau disensor.
Nama lain dalam jajaran pemilik baru adalah Michael Dell, pendiri Dell Technologies. Perusahaannya diketahui telah memasok perangkat keras, data, dan kemampuan kecerdasan buatan kepada sektor militer dan keamanan Israel, sering kali melalui perusahaan rintisan berbasis di Israel.
Dell secara pribadi dikenal sebagai pendukung kuat ekosistem teknologi Israel. Perusahaannya juga disebut dalam laporan Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese sebagai salah satu aktor korporasi yang diduga meraup keuntungan dari pendudukan Israel atas Palestina.
Pemangku kepentingan penting lainnya adalah MGX, dana investasi yang diketuai Sheikh Tahnoon bin Zayed, penasihat keamanan nasional Uni Emirat Arab sekaligus saudara Presiden Mohammed bin Zayed.
MGX akan mengambil 15 persen saham dan satu kursi dewan direksi, menempatkan Abu Dhabi sebagai investor teknologi global yang selaras dengan Amerika Serikat dan Israel, yang hubungannya dinormalisasi oleh UEA pada 2020.
Selain itu, perusahaan ekuitas swasta Silicon Valley Silver Lake juga menjadi bagian dari kelompok investor, menambah pengaruh Wall Street dalam kesepakatan tersebut. Secara keseluruhan, Oracle, Silver Lake, dan MGX akan menguasai hampir setengah kepemilikan TikTok di Amerika Serikat.

Sangat Berkaitan dengan Gaza dan Israel
Menonjolnya peran TikTok selama perang di Gaza bukanlah kebetulan. Platform ini disebut-sebut menjadi salah satu alasan utama mengapa Washington mengambil langkah keras terhadap aplikasi tersebut.
Dengan kepemilikan kini berada di tangan tokoh dan institusi yang memiliki hubungan erat dengan Israel, banyak pihak memperingatkan potensi meningkatnya sensor terhadap suara-suara Palestina. Kekhawatiran ini menguat setelah para legislator Amerika Serikat menuduh TikTok menyebarkan narasi yang mereka sebut sebagai “pro-Hamas” dan “anti-Israel” kepada generasi muda di AS.
Kelompok pembela hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International, sebelumnya telah mendokumentasikan penghapusan konten secara luas di platform Meta dan media sosial lainnya. Mereka khawatir TikTok akan menempuh jalur serupa di bawah kepemimpinan barunya.
Aplikasi yang sebelumnya menjadi medium penting dalam menyiarkan penderitaan penduduk Palestina di Gaza itu dikhawatirkan kini akan dibentuk ulang, bukan untuk memperkuat suara dari wilayah konflik, melainkan untuk membungkamnya.
Isu Sensor dan Tuduhan Bias
Kekhawatiran terbesar di kalangan pengguna kini bukan sekadar soal privasi atau kepemilikan, tetapi dugaan sensor terhadap konten politik, khususnya narasi pro-Palestina. Di media sosial, sejumlah pengguna melaporkan bahwa konten bernada dukungan terhadap Palestina atau kritik terhadap Israel tidak tampil, sementara berita lain menyebut adanya pemblokiran akun jurnalis Palestina secara permanen.
Konten-konten lain yang menyentuh topik sensitif seperti politik Amerika, imigrasi, dan isu sosial lainnya juga dilaporkan mengalami pembatasan atau error tampilan setelah perusahaan berganti struktur kepemilikan.
Sebagai reaksi, sejumlah konten kreator dan pengguna besar menghapus akun TikTok mereka sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka sebut sebagai sensor dan bias editorial. Sebagian juga menyatakan bahwa TikTok kini lebih memprioritaskan kepentingan politik dan komersial tertentu di pasar AS.
Platform pesaing seperti UpScrolled juga mencatat lonjakan unduhan karena menjanjikan pengalaman tanpa sensor terhadap konten politik tertentu.

Jurnalis Palestina Peraih Penghargaan Diblokir Permanen dari TikTok
Jurnalis Palestina peraih penghargaan Emmy, Bisan Owda, mengaku akun TikTok-nya telah diblokir secara permanen, beberapa hari setelah platform media sosial itu diakuisisi oleh investor baru di Amerika Serikat.
Owda, yang juga merupakan kontributor AJ+ Al Jazeera dari Gaza, membagikan sebuah video melalui akun Instagram dan X pada Rabu, kepada pengikutnya bahwa akun TikTok miliknya telah dihapus.
“TikTok menghapus akun saya. Saya memiliki 1,4 juta pengikut di sana, dan saya membangun platform itu selama empat tahun. Saya mengira akun saya hanya akan dibatasi, seperti sebelumnya, bukan diblokir selamanya,” kata Owda dalam video yang direkam dari Gaza.
Dalam videonya, Owda menyinggung pernyataan terbaru dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Adam Presser, CEO baru TikTok Amerika Serikat, sebagai kemungkinan alasan di balik pemblokiran akun tersebut.
Netanyahu pernah bertemu dengan sejumlah influencer pro-Israel di New York pada September tahun lalu, dan menyatakan harapannya agar “pembelian” TikTok dapat terwujud.
“Kita harus berperang dengan senjata yang sesuai dengan medan pertempuran yang kita hadapi, dan yang paling penting adalah media sosial,” ujar Netanyahu.
“Pembelian paling penting yang sedang berlangsung saat ini adalah … TikTok,” tambah Netanyahu. “TikTok, nomor satu, nomor satu, dan saya berharap itu berhasil, karena bisa berdampak besar”.