Gaza, SPNA – Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza tampaknya siap untuk beroperasi kembali setelah terhenti selama lebih dari dua tahun akibat genosida dan blokade Israel, ungkap Komite Nasional untuk Administrasi Gaza pada hari Sabtu (24/01/2026).
“Warga Jalur Gaza, kami membawa kabar baik bahwa ada jaminan dan kesiapan bagi pembangkit listrik untuk melanjutkan operasinya,” kata Ali Shaath di platform media sosial facebook.
Ia menambahkan, “Bersamaan dengan upaya bersama pihak internasional terkait energi surya, kami bekerja sama dengan penyedia listrik untuk memulihkan pasokan listrik sesegera mungkin.”
Shaath tidak memberikan rincian tentang bagaimana listrik akan dipulihkan, mekanisme yang terlibat, atau jadwal prosesnya.
Sejak dimulainya genosida Israel pada Oktober 2023, Israel telah memutus pasokan listrik ke Gaza dan mencegah masuknya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit listriknya, meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu.
Sebelum terjadinya genosida, ketersediaan listrik di Jalur Gaza diperkirakan sekitar 212 megawatt, kurang dari setengah dari sekitar 500 megawatt yang dibutuhkan untuk memastikan pasokan listrik 24 jam.
Kurangnya listrik di Jalur Gaza telah menimbulkan dampak buruk di seluruh wilayah tersebut, terutama memengaruhi penyedia layanan vital dan rumah sakit.
Selama dua tahun genosida, Israel juga menargetkan jaringan listrik, menghancurkan sekitar 5.080 kilometer (3.157 mil) saluran listrik dan 2.285 transformator distribusi listrik di atas dan di bawah tanah, menurut kantor media Gaza. Total kerugian di sektor listrik Gaza diperkirakan sekitar $1,4 miliar.
(T.RA/S: MEMO)