Tanpa Vaksin dan Obat, Influenza Mengintai Warga Gaza

Jalur Gaza, SPNA – Otoritas kesehatan di Jalur Gaza memperingatkan risiko meningkatnya kasus influenza seiring memasuki puncak musim penyakit, di tengah melemahnya daya tahan tubuh warga akibat perang, kelaparan, serta terbatasnya obat dan vaksin. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut situasi ini berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan jika tidak ada intervensi segera.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ahed Sammour, mengatakan ancaman utama bukan berasal dari mutasi virus, melainkan dari kondisi fisik masyarakat yang menurun drastis. “Warga yang keluar dari fase kelaparan tidak memiliki imunitas yang cukup. Influenza bisa berkembang cepat menjadi pneumonia atau gagal napas,” katanya, Sabtu, 10 Januari 2026.

Kementerian mencatat belum ada laporan kematian akibat influenza. Namun sejumlah pasien telah dirawat di unit perawatan intensif, dan puncak kasus diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari.

Keterbatasan pencegahan menjadi persoalan utama. Sekitar 12 ribu dosis vaksin influenza yang tersedia di Ramallah belum diizinkan masuk ke Gaza. Padahal, menurut Sammour, vaksin berperan penting menekan kasus berat dan kematian, meski tidak sepenuhnya mencegah penularan.

Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan obat. Banyak apotek kehabisan obat penurun panas, obat batuk, hingga antibiotik. Harga obat yang tersisa melonjak tajam, menyulitkan warga, terutama pengungsi dan kelompok rentan.

Di lapangan, sejumlah warga memilih menunda ke rumah sakit karena khawatir tidak mendapat perawatan memadai. Sebagian pasien baru datang ketika kondisi sudah memburuk, terutama dengan gejala sesak napas.

Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Muhammad Abu Salmiya, mengatakan kapasitas rumah sakit berada di ambang batas. “Kami kekurangan obat, alat bantu pernapasan, dan tempat tidur ICU. Sistem kesehatan tidak siap menghadapi lonjakan besar,” ujarnya.

Menurut Abu Salmiya, melemahnya imunitas akibat kekurangan gizi membuat infeksi pernapasan ringan sekalipun berisiko menjadi kondisi serius. “Kasus yang dulu bisa dirawat di rumah, kini berpotensi membutuhkan perawatan intensif,” katanya.

Otoritas kesehatan menegaskan situasi kesehatan di Gaza tetap rapuh selama pembatasan masuknya obat, vaksin, dan peralatan medis masih berlangsung. Mereka mendesak dibukanya akses kemanusiaan untuk mencegah dampak yang lebih luas selama musim influenza.

(T.RS.S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya