Jalur Gaza, SPNA – Krisis kesehatan di Jalur Gaza kian mengkhawatirkan. Bukan hanya obat-obatan yang sulit didapat, tetapi juga pemeriksaan laboratorium dasar yang sangat dibutuhkan untuk mengetahui penyakit pasien. Di banyak rumah sakit, dokter kini terpaksa merawat pasien tanpa hasil tes medis, hanya mengandalkan perkiraan dan pengalaman klinis.
Pemeriksaan penting seperti tes darah lengkap, kadar garam dalam darah, pemeriksaan kimia darah, tes bakteri, hingga layanan bank darah sebagian besar tidak tersedia. Jika pun ada, jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, banyak pasien tidak pernah benar-benar tahu penyakit apa yang mereka derita, dan dokter tidak memiliki cukup data untuk menentukan pengobatan yang tepat.
Di dekat ruang gawat darurat, Um Rama menggendong anak perempuannya yang berusia tujuh tahun. Berat badan anak itu turun drastis. “Dulu dia aktif. Sekarang berdiri saja sulit,” katanya. Putrinya sering demam tinggi dan tiba-tiba pucat karena kadar darah turun. Dokter meminta tes darah untuk memastikan penyebabnya, tetapi laboratorium tidak mampu melayani.
“Anak saya diberi antibiotik tanpa pemeriksaan,” ujar Um Rama. “Kadang membaik, lalu memburuk lagi. Saya takut terlambat mengetahui penyakit sebenarnya.”
Di Unit Hemodialisis (HD), Abu Muhammad, 56 tahun, menjalani dialisis dua kali seminggu. Namun yang paling membuatnya cemas adalah tidak adanya pemeriksaan penunjang. “Kami tidak tahu kondisi darah kami,” katanya. Sebelum perang, kadar garam dan obat selalu diperiksa. Kini, dokter hanya bisa menebak.
“Saya sering pusing dan kejang,” ujarnya. “Kalau kadar garam salah sedikit saja, jantung bisa berhenti.”
Seorang petugas laboratorium mengatakan persediaan peralatan diagnosis hampir habis. “Kami hanya bisa melayani beberapa kasus paling kritis setiap minggu,” katanya. Pasien lain tetap dirawat, meski tanpa kepastian hasil tes. “Resikonya besar, tapi kami tidak punya pilihan.”
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lonjakan besar penyakit menular, terutama hepatitis. Juru bicara kementerian, Khalil al-Daqran, menyebut jumlah kasus mencapai sekitar 70 ribu orang. “Ini penyebaran terburuk yang pernah terjadi,” katanya.
Masalahnya, sebagian besar pasien tidak bisa dipastikan status penyakitnya karena pemeriksaan laboratorium sangat terbatas. Dalam sehari, hanya beberapa sampel yang bisa diuji, sementara pasien datang puluhan orang. “Kami terpaksa memilih siapa yang paling kritis,” ujar al-Daqran.
Data kementerian menunjukkan sekitar 75 persen bahan pemeriksaan laboratorium habis. Persediaan bank darah hampir seluruhnya kosong. Pemeriksaan bagi pasien kanker, gangguan hormon, dan masalah ginjal praktis terhenti. Lebih dari separuh obat-obatan penting juga tidak tersedia.
Kondisi ini diperparah oleh pembatasan pengobatan ke luar Gaza. Sekitar seribu pasien dilaporkan meninggal dunia karena tidak mendapat izin berobat tepat waktu.
Musim dingin memperburuk keadaan. Ribuan warga hidup di tenda-tenda sempit tanpa air bersih dan sanitasi layak. Limbah menggenang di sekitar tempat tinggal. Anak-anak, lansia, dan orang sakit menjadi kelompok paling rentan.
“Kami menghadapi ancaman bencana kesehatan besar,” kata al-Daqran. Ia menyerukan bantuan mendesak untuk membuka akses obat, alat medis, dan bahan laboratorium.
Di Gaza hari ini, ruang perawatan bukan lagi tempat kepastian. Tanpa pemeriksaan medis yang memadai, banyak pasien hanya bisa berharap—bahwa perkiraan dokter cukup untuk menyelamatkan hidup mereka.