Dua Tahun Agresi Gaza, 32% Warga Israel Alami Krisis Kesehatan Mental

Tel Aviv, SPNA – Sebanyak 32% warga Israel kini membutuhkan dukungan kesehatan mental setelah lebih dari dua tahun melancarkan perang di Gaza, seperti dilaporkan Maccabi Healthcare Services, Rabu (21/01/2025). Angka ini adalah yang tertinggi sejak survei tersebut dimulai.

Situasi lebih buruk terjadi pada anggota militer yang bertugas dalam setahun terakhir. Sebanyak 39% personel mengaku memerlukan bantuan psikologis, 26% menunjukkan gejala depresi, dan 48% mengalami gangguan tidur. Hal ini menunjukkan beban mental yang terus meningkat di tengah perang yang tak kunjung berakhir, sebagaimana dikutip Times of Israel.

Secara keseluruhan, kesejahteraan mental masyarakat Israel menurun, dengan 17% responden menilai kondisi psikologis mereka sedang atau buruk, naik dari 13% sebelum perang di Gaza dimulai pada 2023. Tekanan mental ini juga tercermin dalam kebiasaan merokok, 30% perokok menyatakan konsumsi rokok mereka meningkat akibat stres.

Dampak sosial perang pun mulai tampak dalam data demografi. Tingkat kelahiran di Israel pada 2025 turun 4% dibandingkan 2024, menunjukkan tekanan psikologis dan ekonomi yang lebih luas.

Militer Israel pada Selasa malam mengonfirmasi bahwa 21 personel mereka meninggal karena bunuh diri sepanjang 2025, menambah daftar panjang dampak tak kasatmata dari konflik berkepanjangan.

Perang Gaza sendiri telah menghancurkan kehidupan sipil di wilayah Palestina. Sejak Oktober 2023, lebih dari 71.200 warga Palestina gugur, mayoritas perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 171.200 lainnya terluka. 

Gencatan senjata 10 Oktober menghentikan serangan besar-besaran, namun serangan Israel tetap berlanjut, menelan korban jiwa lebih dari 400 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.100 orang dalam beberapa bulan terakhir, menurut otoritas kesehatan.

Laporan ini menambah bukti bahwa perang yang telah menghancurkan Gaza juga menciptakan tekanan psikologis besar bagi masyarakat Israel, sebuah potret krisis dua sisi yang terus menggelinding tanpa arah penghentian yang jelas.

(T.RS/S:Middle East Monitor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya