alur Gaza, SPNA – Sejumlah lembaga kemanusiaan internasional melaporkan bahwa 1,6 juta warga Gaza menghadapi kelaparan ekstrem, sementara 1.200 pasien dilaporkan meninggal akibat tidak mendapatkan akses perawatan medis di tengah blokade Israel yang terus berlangsung. Temuan itu disampaikan oleh UNRWA, organisasi keamanan pangan internasional, dan sumber medis setempat di Gaza pada Selasa.
Menurut laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC), sekitar 77% penduduk Gaza kini berada dalam kategori kerawanan pangan akut tingkat tinggi, di tengah hancurnya sistem distribusi pangan, terbatasnya akses terhadap bantuan kemanusiaan, serta rusaknya infrastruktur dasar akibat operasi militer Israel yang berlangsung lebih dari satu tahun.
UNRWA memperingatkan bahwa ribuan keluarga di Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan makanan yang jumlahnya sangat jauh dari cukup. Organisasi tersebut menegaskan bahwa krisis ini adalah buatan manusia dan dapat dihentikan jika akses kemanusiaan dibuka secara penuh tanpa hambatan.
Dr. Muhammad Abu Afash, Direktur Lembaga Bantuan Medis di Gaza Utara, melaporkan bahwa sedikitnya 1.200 pasien meninggal dalam beberapa bulan terakhir akibat tidak adanya obat-obatan, tidak berfungsinya peralatan medis, serta pelarangan Israel terhadap ribuan pasien untuk keluar dari Gaza demi mendapatkan perawatan lanjutan.
Ia menjelaskan bahwa 99% operasi ortopedi tidak dapat dilakukan karena tidak adanya peralatan. “Sebagian besar pasien luka berat kini berisiko mengalami cacat permanen atau infeksi mematikan,” ujarnya.
Di lapangan, tim pertahanan sipil terus melakukan evakuasi korban agresi Israel. Pada Selasa pagi, petugas berhasil mengevakuasi jenazah dari reruntuhan rumah milik Ahmad Abu Jalala di kawasan Al-Amal, Khan Younis, setelah rumah tersebut rata dengan tanah akibat serangan sebelumnya.
Gambar-gambar dari lokasi menunjukkan bangunan hancur total, dengan warga dan petugas bekerja menggunakan alat sederhana di tengah keterbatasan peralatan penyelamatan.
Laporan gabungan PBB menegaskan bahwa meskipun akses bantuan sedikit meningkat dalam beberapa pekan terakhir, kondisi keamanan dan pembatasan di perbatasan membuat distribusi bahan pangan tidak stabil. Jalan-jalan utama terputus, lebih dari 70% sistem air dan sanitasi tidak berfungsi, dan banyak dapur umum tutup karena kehabisan stok.
Sistem kesehatan juga berada di ambang kehancuran, rumah sakit kehabisan bahan bakar, generator rusak, dan unit perawatan intensif hanya berjalan sebagian.
WHO memperingatkan bahwa Gaza masih menghadapi kelaparan massal jika bantuan tidak meningkat secara signifikan. Lebih dari 100.000 anak dan puluhan ribu ibu hamil diperkirakan mengalami malnutrisi akut hingga awal 2026. Kondisi ini diperburuk oleh cuaca musim dingin, minimnya tempat tinggal, dan penyebaran penyakit.
Organisasi internasional kembali mendesak dibukanya jalur kemanusiaan tanpa hambatan serta penghentian serangan yang menargetkan infrastruktur sipil. UNRWA menegaskan bahwa “tanpa akses yang luas dan konsisten, seluruh populasi Gaza berada dalam bahaya nyata.”
Sementara itu, warga Gaza yang masih bertahan di kamp-kamp pengungsian berharap dunia internasional lebih tegas menekan Israel untuk mengakhiri blokade dan memberikan akses bagi para pasien yang membutuhkan perawatan mendesak.
(T.RS/S:Palinfo)