Geneva, SPNA – Kondisi kelaparan di Jalur Gaza untuk sementara berhasil ditekan seiring berkurangnya intensitas pertempuran dan membaiknya akses bantuan kemanusiaan serta distribusi pangan komersial. Meski demikian, situasi secara keseluruhan masih berada pada tingkat kritis, menurut temuan terbaru yang dirilis pada Jumat (19/12/2025), oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC).
IPC adalah sistem klasifikasi global yang digunakan untuk menilai tingkat keparahan dan skala kerawanan pangan serta gizi suatu wilayah secara objektif dan berbasis bukti.
IPC dikembangkan oleh sejumlah lembaga internasional, antara lain FAO, WFP, UNICEF, serta mitra pemerintah dan organisasi kemanusiaan, dan digunakan secara luas oleh PBB, pemerintah, serta lembaga bantuan sebagai dasar pengambilan keputusan.
IPC mencatat bahwa pada periode 16 Oktober hingga 30 November 2025, sekitar 1,6 juta orang atau 77 persen dari populasi yang dianalisis mengalami kerawanan pangan akut tingkat tinggi yang diklasifikasikan sebagai Fase 3 (Krisis) atau lebih buruk. Jumlah tersebut mencakup lebih dari 500 ribu orang yang berada pada kondisi Darurat (Fase 4) serta lebih dari 100 ribu orang yang menghadapi kondisi Katastropi (Fase 5), tingkat paling parah dalam klasifikasi IPC.
Meski sejumlah perkembangan terbaru di tengah gencatan senjata yang rapuh—termasuk usulan rencana perdamaian dan meningkatnya pasokan pangan—telah membantu meredakan kondisi paling ekstrem, IPC memperingatkan bahwa prospek ke depan tetap suram.
Pada periode 1 Desember 2025 hingga 15 April 2026, sekitar 1,6 juta orang masih diperkirakan menghadapi tingkat kerawanan pangan “krisis atau lebih buruk”. Angka ini mencakup sekitar 571 ribu orang dalam kondisi Darurat dan sekitar 1.900 orang dalam kondisi Katastropi. Meski menunjukkan penurunan pada kasus paling ekstrem, situasi tersebut belum mencerminkan pemulihan yang stabil.
“Dalam skenario terburuk, yang mencakup kembali pecahnya perang dan terhentinya arus bantuan kemanusiaan serta pasokan komersial, seluruh Jalur Gaza berisiko mengalami kelaparan hingga pertengahan April 2026,” demikian peringatan IPC.
Situasi gizi juga menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan analisis sebelumnya, namun tetap mengkhawatirkan. Hampir 101 ribu anak berusia enam hingga 59 bulan diperkirakan akan mengalami gizi buruk akut di seluruh Gaza hingga pertengahan Oktober 2026, termasuk lebih dari 31 ribu kasus gizi buruk parah. Pada periode yang sama, sekitar 37 ribu perempuan hamil dan menyusui juga diproyeksikan mengalami gizi buruk akut dan membutuhkan perawatan.
IPC menegaskan bahwa keberlanjutan akses kemanusiaan dan stabilitas keamanan menjadi kunci untuk mencegah kembalinya kondisi kelaparan serta bertambahnya korban jiwa.
Sementara itu, serangan artileri dan pemboman yang dilakukan oleh Israel dilaporkan masih terus berlangsung meskipun gencatan senjata telah diumumkan. UNRWA mencatat sejumlah fasilitasnya terkena serangan, mengakibatkan korban tewas dan luka-luka di tengah operasi militer Israel yang berlanjut.
Genosida yang dilancarkan Israel yang telah berlangsung selama lebih dua tahun ini dilaporkan telah membunuh lebih dari 70.669 penduduk Palestina, di mana lebih dari 20.000 di antaranya merupakan anak-anak. Ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga meninggal dunia.
Pimpinan Palestina di Gaza, Ghazi Hamad, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Selasa (16/12/2025), menegaskan bahwa pelanggaran serius Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza terus berlangsung. Ia menyatakan Israel tidak mematuhi satu pun ketentuan dalam kesepakatan tersebut dan telah memanipulasi seluruh isi perjanjian.
Ia menyebutkan jumlah pelanggaran Israel telah melampaui 813 kasus sejak perjanjian mulai berlaku pada 10 Oktober, dengan rata-rata sekitar 25 pelanggaran per hari. Pemimpin Palestina di Gaza, lanjutnya, telah menyerahkan laporan terperinci mengenai seluruh pelanggaran tersebut kepada para mediator dan kepada ruang operasi bersama.