Ditulis oleh: Joseph Massad*
Tel Aviv, SPNA – Saat ini, mendukung Zionisme menjadi cara yang dianggap “terhormat” untuk bersikap antisemit (anti-Yahudi). Hal ini disambut baik oleh pemerintah Israel dan pendukung Zionis karena dianggap menguntungkan bagi negara mereka. Sebaliknya, sikap anti-Zionisme—yang dulu dianut banyak orang Yahudi hingga akhir Perang Dunia II—kini dicap oleh pendukung Israel sebagai bentuk nyata dari kebencian terhadap Yahudi.
Siapapun yang mengkritik Israel, memprotes serangan di Gaza, atau mendukung hak-hak warga Palestina, langsung dianggap sebagai pembenci Yahudi. Contohnya, setelah tragedi penembakan di Sydney yang menewaskan 15 orang, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menyalahkan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese. Ia menuduh keputusan Australia mengakui negara Palestina sebagai penyebab munculnya kekerasan tersebut.
Bukannya merasa bertanggung jawab atas citra Israel yang memburuk, Netanyahu malah menuduh dukungan terhadap Palestina sebagai “bahan bakar” bagi kebencian terhadap Yahudi di Australia. Padahal, Israel sering mengeklaim bahwa serangan mereka ke Palestina adalah demi membela seluruh umat Yahudi di dunia, yang justru membuat warga Yahudi di luar Israel ikut terkena dampaknya.
Israel mengeklaim mewakili semua orang Yahudi (padahal tidak pernah dipilih secara resmi oleh mereka), kelompok pembenci Yahudi pun percaya dan menyerang warga Yahudi di mana saja atas tindakan yang sebenarnya hanya dilakukan oleh pemerintah Israel.
Di sisi lain, kelompok anti-Zionis menegaskan bahwa Israel tidak berhak berbicara atas nama seluruh umat Yahudi. Bagi mereka, kejahatan atau prestasi Israel adalah urusan negara tersebut, bukan urusan agama atau bangsa Yahudi secara keseluruhan. Perbedaan inilah yang coba ditutupi oleh pendukung Zionis.
Kemarahan yang Pilih-Pilih
Ketika pendukung Israel merayakan perang sebagai pencapaian “bangsa Yahudi”, pemerintah Israel merasa bangga. Namun, ketika pengkritik menyebut perang itu adalah murni tindakan pemerintah Israel (bukan rakyat Yahudi), mereka langsung dituduh sebagai pembenci Yahudi.
Sikap pilih-pilih ini terlihat pada tokoh seperti Tucker Carlson dan Candace Owens. Dulu, saat mereka mendukung Israel, mereka dipuji. Namun saat mereka mulai mengkritik serangan di Gaza, mereka langsung dicap sebagai antisemit. Padahal, pandangan mereka terhadap orang Yahudi tidak berubah; yang berubah hanyalah sikap mereka terhadap kebijakan politik Israel.
Sebaliknya, kebencian nyata terhadap Yahudi justru dibiarkan jika pelakunya mendukung Israel. Donald Trump, misalnya, sering mengeluarkan komentar yang dianggap menghina Yahudi, namun ia tetap dipuja oleh pemimpin Israel sebagai “pahlawan besar sejarah Yahudi”. Ia bahkan dianggap paling layak menerima Nobel Perdamaian oleh parlemen Israel.
Contoh yang lebih parah adalah ketika Netanyahu memberi selamat kepada Jose Antonio Kast, pemimpin sayap kanan di Chile. Kast adalah pendukung Israel, namun ia juga pengagum diktator kejam dan putra dari mantan pejabat Nazi. Hal ini menunjukkan bahwa Israel tidak peduli pada latar belakang seseorang, selama orang tersebut mendukung agenda mereka.
Akar Zionisme
Sejak dulu, gerakan Zionisme sebenarnya sering bekerja sama dengan kelompok pembenci Yahudi. Namun, pendukung Zionis sekarang selalu memutarbalikkan fakta dan menuduh bahwa hanya kelompok anti-Zionis lah yang memiliki kebencian terhadap Yahudi.
Secara sejarah, banyak orang menolak Zionisme karena alasan kemanusiaan, demokrasi, atau ajaran agama Yahudi yang murni. Meski ada segelintir pengkritik yang memang benci Yahudi, fakta sejarah menunjukkan bahwa pendukung utama ideologi Zionis justru sering datang dari kalangan yang punya sentimen antisemit.
Theodor Herzl, pendiri organisasi Zionis, sendiri sering dituduh antisemit. Dalam bukunya, ia mengakui bahwa proyek Zionis sejalan dengan keinginan para pembenci Yahudi, yaitu mengeluarkan orang Yahudi dari Eropa dan memindahkan mereka ke tempat lain.
Herzl bahkan menghina bahasa Yiddish yang digunakan warga Yahudi saat itu dan lebih memilih bahasa Jerman. Dalam catatan pribadinya, ia merasa kebencian terhadap Yahudi itu “berguna” untuk membentuk karakter bangsa. Ia bahkan pernah menyebut sesama orang Yahudi yang mengkritiknya dengan sebutan kasar seperti “hama”.
Herzl sangat yakin bahwa pemerintah negara-negara yang membenci Yahudi akan sangat bersemangat membantu proyeknya. Ia menulis bahwa para pembenci Yahudi akan menjadi “teman dan sekutu yang paling bisa diandalkan”. Itulah mengapa pada tahun 1904, seorang pejuang hak sipil Yahudi menyebut Zionisme sebagai “sekutu abadi dari kebencian terhadap Yahudi”.
Kebencian yang Dianggap Wajar
Berbeda dengan PM Australia, Anthony Albanese, yang tidak pernah menghina Yahudi, Donald Trump justru sering melakukannya namun tetap dianggap teman oleh Israel. Trump pernah menyebut bankir nakal dengan istilah ejekan untuk Yahudi, namun hal itu dianggap biasa oleh pendukungnya.
Pada tahun 2019, di hadapan warga Yahudi Amerika, Trump dengan kasar menyebut mereka sebagai “pembunuh brutal” di bisnis properti dan memaksa mereka memilihnya. Banyak kelompok Yahudi tersinggung, akan tetapi pemerintah Israel tetap diam.
Bahkan saat pendukung Trump meneriakkan slogan anti-Yahudi di Charlottesville atau saat terjadi penembakan di sebuah rumah ibadah (sinagoge) di Pittsburgh, Netanyahu tidak pernah menyalahkan Trump. Hal ini berbanding terbalik dengan sikapnya kepada Albanese.
Anthony Albanese, yang pemerintahannya sangat pro-Israel, justru dimusuhi hanya karena ia mendukung kemerdekaan Palestina. Sementara itu, Trump tetap dianggap sebagai pendukung terkuat dan “orang yang paling tidak antisemit” di dunia menurut pengakuannya sendiri.
Rasisme Terhadap Yahudi
Netanyahu tidak pernah ragu bersekutu dengan orang yang benar-benar benci Yahudi asalkan mereka membela Israel. Misalnya, saat Uni Eropa membuat aturan baru tentang definisi antisemitisme yang juga melarang kritik terhadap Israel, pemerintah sayap kanan Austria (yang berisi anggota partai neo-Nazi) adalah yang paling semangat mendukungnya.
Di Hongaria, Netanyahu membela Perdana Menteri Viktor Orban yang dikenal rasis terhadap Yahudi. Netanyahu bahkan menegur duta besarnya sendiri karena sempat mengkritik Orban. Sebagai imbalannya, Orban menolak menangkap Netanyahu meski ada perintah dari pengadilan internasional.
Di Ukraina, Israel bahkan memberikan senjata dan dukungan kepada kelompok militer yang berpaham neo-Nazi. Pemimpin kelompok tersebut pernah terang-terangan mengatakan bahwa misi mereka adalah memimpin ras kulit putih untuk melawan bangsa-bangsa yang mereka anggap rendah, termasuk orang Yahudi.
Di Jerman, partai sayap kanan AfD yang menakutkan bagi komunitas Yahudi di sana justru sangat mendukung Israel. Mereka menganggap Israel sebagai model negara yang hebat karena mampu menjaga tradisi dan budayanya dengan ketat. Tokoh rasis Amerika seperti Richard Spencer juga memuji Israel sebagai panduan bagi perjuangan kulit putih. Para pemimpin Israel tidak pernah memprotes pujian dari kelompok rasis tersebut.
Salah Sasaran
Tindakan pendukung Israel yang menyamakan negara Israel dengan seluruh umat Yahudi adalah hal yang berbahaya. Dengan melakukan itu, mereka secara tidak langsung membuat seluruh rakyat Yahudi di dunia ikut disalahkan atas kejahatan perang yang dilakukan oleh negara Israel.
Terkait serangan di Sydney, pelakunya diduga adalah pendukung ISIS. Namun, ada cerita menarik: orang yang menyelamatkan banyak nyawa warga Yahudi saat itu adalah Ahmed al-Ahmed, seorang Muslim keturunan Suriah. Tapi, Netanyahu malah menyebut aksi heroik itu sebagai contoh “kepahlawanan Yahudi”.
Bagi Netanyahu, sulit diterima bahwa seorang pria dari Suriah—negara yang sering dibom oleh Israel—bisa menyelamatkan warga Yahudi. Ahmed adalah orang yang mampu membedakan antara warga Yahudi biasa dengan pemerintah Israel yang kejam, sesuatu yang tampaknya tidak bisa dipahami oleh Netanyahu.
Itulah sebabnya Netanyahu lebih memilih menyalahkan Perdana Menteri Australia. Padahal, Albanese tidak pernah menghina Yahudi, berbeda dengan para pemimpin pro-Israel lainnya yang justru sering mengeluarkan pernyataan rasis namun tetap dianggap kawan oleh Netanyahu.
___
*Joseph Massad adalah profesor politik Arab modern dan sejarah intelektual di Universitas Columbia, New York. Ia merupakan penulis berbagai buku serta artikel akademik dan jurnalistik. Karya-karyanya meliputi Colonial Effects: The Making of National Identity in Jordan (Efek Kolonial: Pembentukan Identitas Nasional di Yordania), Desiring Arabs (Hasrat Bangsa Arab), The Persistence of the Palestinian Question: Essays on Zionism and the Palestinians (Kegigihan Persoalan Palestina: Esai tentang Zionisme dan Palestina).
(T.FJ/S: MEE)