PBB: 16.500 Pasien Gaza Terjebak Tanpa Perawatan, Evakuasi Harus Dipercepat

Jalur Gaza, SPNA – PBB melaporkan bahwa lebih dari 16.500 pasien Palestina masih membutuhkan perawatan medis di luar Jalur Gaza,   Kondisi kesehatan para pasien semakin mengkhawatirkan di tengah blokade ketat dan fasilitas medis yang lumpuh akibat perang berkepanjangan.

Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, mengumumkan bahwa pada Senin, 01 Desember 2025, tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berhasil mengevakuasi 18 pasien dan 54 pendamping mereka keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan yang tidak mungkin lagi diberikan di dalam wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa operasi evakuasi seperti ini mendesak untuk terus dilakukan karena ribuan pasien berada dalam kondisi kritis.

Dujarric menjelaskan bahwa PBB terus bekerja tanpa henti di tengah musim dingin yang menambah tekanan bagi warga Gaza yang telah dua tahun hidup dalam kelelahan akibat perang. Bantuan ribuan perlengkapan dasar, mulai dari sepatu, pakaian, selimut, hingga handuk, telah didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi.

Selain itu, pada akhir November lalu, PBB menyalurkan 160 “tenda kegiatan” yang memungkinkan ribuan anak mengakses layanan kesehatan mental, dukungan psikososial, serta pendampingan kasus. Program ini disebut penting karena anak-anak menjadi kelompok yang paling terpengaruh oleh trauma perang dan kondisi hidup yang tidak manusiawi.

Di sisi lain, Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak 10 Oktober, dan serangan-serangan yang berlanjut telah menewaskan serta melukai ratusan warga Palestina. Israel juga tetap membatasi masuknya makanan, obat-obatan, dan perlengkapan medis, membuat 2,4 juta penduduk Gaza terperosok dalam kondisi kemanusiaan yang sangat buruk.

Gencatan senjata tersebut awalnya diharapkan dapat menghentikan perang yang oleh banyak lembaga internasional disebut sebagai tindakan genosida. Sejak 8 Oktober 2023, perang itu telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 lainnya, mayoritas adalah anak-anak dan perempuan.

(T.RS/S:AnadoluAgency)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya