Ribuan Pasien Palestina di Gaza Sekarat, Israel Blokir Jalan Evakuasi Medis

Penduduk Palestina Hassan Qlob (18 tahun), terluka setelah ditembak Israel ketika mencari makanan. Ia menanti di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis hingga penyeberangan Rafah dibuka kembali untuk menjalani pengobatan ke luar negari, 15 Oktober 2025 (Foto: Reuters/Ramadan Abed).

Gaza, SPNA – Dari ranjang rumah sakit di Khan Younis, Baraa Abu Zaid menghitung hari, bukan dengan harapan sembuh, tetapi dengan ketakutan bahwa gilirannya untuk dievakuasi tak akan pernah tiba.

Dulu ibu Palestina dari tiga anak itu melarikan diri dari rumahnya di Rafah, Gaza selatan, ketika Israel melancarkan invasi darat ke wilayah tersebut pada pertengahan 2024. Tak lama kemudian, tenda keluarganya di Khan Younis dihantam serangan drone. Dua anaknya syahid seketika, sementara ia dan putra sulungnya, Obaida (13 tahun), menderita luka berat.

“Kami dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, tetapi kondisi kesehatan yang sangat buruk, ketiadaan obat-obatan dasar, dan runtuhnya sistem layanan medis membuat kami tak bisa mendapat perawatan yang layak,” ujarnya kepada Middle East Eye (MEE).

Dokter di rumah sakit yang kewalahan itu mengatakan keduanya membutuhkan operasi segera di luar negeri. Namun satu-satunya jalur keluar Gaza di perbatasan Rafah dengan Mesir, telah ditutup oleh militer Israel.

Permohonan evakuasi medis yang disiapkan Kementerian Kesehatan Palestina menjadi sekadar tumpukan berkas tanpa makna. Dalam waktu dua minggu, Obaida meninggal akibat luka yang dideritanya.

Seperti puluhan ribu penduduk Palestina di Gaza lain yang terluka parah, Abu Zaid sempat menaruh harapan pada perjanjian gencatan senjata antara Israel dan pejuang Palestina yang ditandatangani pada Oktober.
Sesuai kesepakatan itu, penyeberangan Rafah seharusnya dibuka kembali untuk memungkinkan penduduk Palestina yang terluka mendapat perawatan di luar negeri. Namun lebih dari sebulan berlalu, Israel menolak membuka jalur tersebut, salah satu dari banyak pelanggaran terhadap gencatan senjata.

“Saya merasa setiap hari kematian semakin dekat. Saya menderita beberapa luka yang membutuhkan operasi dan perawatan khusus. Nama saya ada dalam daftar pasien yang akan dievakuasi, tetapi saya takut tak punya cukup waktu untuk menunggu,” ujar Abu Zaid.

Terbaring di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, kondisi fisik dan mentalnya terus memburuk.

“Saya demam setiap hari, dan saya bisa melihat luka saya mulai terinfeksi karena tak ada obat. Semua ini mengancam nyawa saya,” katanya.

Derita dan Penantian

Abu Zaid hanyalah satu dari ribuan korban yang terjebak dalam krisis medis Gaza yang kian parah.
Sejak Israel melancarkan perang yang oleh banyak pihak disebut genosida pada Oktober 2023, sistem kesehatan Gaza mengalami kehancuran akibat serangan sistematis dan berulang.

Rumah sakit dibom dan digerebek, ratusan dokter serta tenaga medis dibunuh atau ditahan. Kini, hanya segelintir fasilitas kesehatan yang masih berfungsi sebagian, memberikan layanan minimal dengan bahan bakar dan pasokan medis yang sangat terbatas.

Serangan terhadap rumah sakit terjadi bersamaan dengan pengeboman tanpa henti yang membunuh dan melukai ratusan orang setiap hari, membuat sistem kesehatan yang tersisa nyaris lumpuh total.

Dalam dua tahun, Israel telah membunuh hampir 70.000 orang, sementara 10.000 lainnya masih hilang dan lebih dari 170.000 terluka. Lebih dari 7.600 orang yang terluka pada bulan-bulan awal perang berhasil dievakuasi ke luar negeri untuk berobat melalui perbatasan Rafah. Namun sejak invasi Israel ke Rafah pada Mei 2024, penyeberangan tersebut ditutup total, memutus hubungan Gaza dengan dunia luar.

Menurut Kantor Media Pemerintah Palestina di Gaza, lebih dari 9.300 warga Palestina yang sakit atau terluka meninggal sejak Oktober 2023 akibat runtuhnya layanan medis dan larangan evakuasi dari Israel.

Salah satu korban adalah Omar Abu Qasem (19 tahun). Kakaknya, Rajab Abu Qasem, menuturkan bahwa rumah keluarga mereka di Gaza tengah dibom, melukai ayah mereka secara sedang. Namun Omar mengalami luka berat dan luka bakar di seluruh tubuh.

“Ia tak bisa mendapat perawatan yang diperlukan karena kondisi medis yang kolaps dan banyaknya korban di rumah sakit,” kata Rajab kepada MEE.

“Kondisinya terus memburuk, dan ia meninggal setelah dua minggu penuh rasa sakit dan penantian.”

 

Bayi perempuan Palestina, Wateen al-Adasi, yang mengalami kondisi kulit akibat malnutrisi, sedang beristirahat di Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara, pada 2 Juli 2024. (Foto: Omar al-Qattaa/AFP)

22.000 Pasien Menunggu Evakuasi

Sekitar 22.000 orang masih tercatat dalam daftar tunggu untuk evakuasi medis mendesak, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza. Juru bicara Kantor Media Pemerintah Palestina di Gaza, Ismail al-Thawabteh, menyebut penutupan perbatasan dan blokade terhadap pasokan medis sebagai “kejahatan yang disengaja untuk memperpanjang penderitaan warga sipil,” menuduh Israel menggunakan penderitaan manusia sebagai alat tawar-menawar politik.

“Menghalangi pasien dan korban luka untuk mendapatkan hak mereka atas perawatan di luar negeri adalah ancaman nyata terhadap hidup mereka. Hal itu memperparah penderitaan mereka dan memperdalam krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah,” kata Thawabteh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 16.500 orang membutuhkan evakuasi medis segera, termasuk sekitar 4.000 anak-anak. Salah satunya adalah Kinan Abu Mohsen (9 tahun), yang memiliki serpihan logam tertanam di kepalanya. Ibunya mengatakan kondisi Kinan saat ini stabil, tetapi hidupnya berada dalam bahaya besar tanpa perawatan segera di luar negeri.

“Serpihan di kepalanya harus segera diangkat sebelum menyebabkan kelumpuhan permanen. Ia harus segera dirawat di luar negeri agar bisa diselamatkan. Saya menghabiskan malam di sisinya, menangis karena takut kehilangan anak saya,” ujarnya.

(T.FJ/S: MEE)

Timur Tengah, Palestina, Israel, Agresi Israel, Jalur Gaza, Pelanggaran HAM, Pelanggaran Hukum Internasional

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!