Gaza, SPNA – Militer Israel telah menghancurkan lebih dari 1.500 bangunan di Jalur Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai bulan lalu, menurut citra satelit terbaru yang dianalisis oleh BBC Verify. Citra paling mutakhir diambil pada Sabtu, 8 November 2025.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tentara Israel meratakan seluruh kawasan permukiman hanya dalam waktu kurang dari sebulan, sebagian besar melalui proses penghancuran langsung.
“Penghancuran bangunan di Gaza oleh militer Israel masih berlangsung dalam skala besar,” demikian isi laporan investigasi tersebut.
BBC menggunakan algoritma pendeteksi perubahan untuk menganalisis foto radar yang diambil sebelum dan sesudah rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberlakukan. Analisis itu mengungkap tingkat kerusakan serta jumlah bangunan yang hancur secara nyata.
Citra satelit memperlihatkan bahwa banyak bangunan yang berada di luar Garis Kuning (batas wilayah yang disepakati Israel untuk menarik pasukannya sesuai perjanjian) juga turut dihancurkan.
Sejumlah bangunan yang dihancurkan bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan sebelumnya, misalnya di wilayah Rafah, Khan Yunis, dan beberapa bagian Kota Gaza.
“Menurut perjanjian, seluruh infrastruktur teror, termasuk terowongan, harus dibongkar di seluruh Gaza. Israel bertindak menanggapi ancaman, pelanggaran, dan keberadaan infrastruktur teror,” klaim militer Israel.
Rencana gencatan senjata Trump menyerukan penghancuran seluruh “infrastruktur teror” di bawah “pengawasan pemantau independen”. Namun, citra satelit dan kesaksian penduduk Palestina menunjukkan bahwa yang hancur bukan hanya infrastruktur militer, tetapi juga rumah warga sipil dan kawasan permukiman.
“Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata. Namun Washington enggan mengakuinya, bersikeras bahwa gencatan senjata harus tetap berlaku, bahkan ketika kenyataannya tidak demikian,” kata Dr. H. A. Hellyer dari lembaga kajian RUSI yang berbasis di Inggris kepada BBC.
Hugh Lovatt, Peneliti Senior Kebijakan di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, menilai bahwa aksi penghancuran ini akan terus menjadi masalah selama Israel belum sepenuhnya menarik diri dari Gaza, dan dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata.
Meski demikian, rencana AS tersebut tetap memberikan izin bagi Israel untuk mempertahankan kehadirannya di Gaza hingga seluruh kelompok perlawanan benar-benar dilucuti.
“Pada akhirnya, kesan bahwa Israel menunda penarikan pasukan dan berupaya menciptakan kondisi permanen di lapangan, seperti yang terjadi di Tepi Barat, akan menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan gencatan senjata,” tambah Lovatt.
Israel dilaporkan terus melanggar perjanjian gencatan senjata dengan terus melakukan serangkaian serangan udara dan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan. Sedikitnya 240 penduduk Palestina dibunuh Israel di Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan bulan lalu.
Serangan udara Israel kembali menghantam Kota Gaza pada Senin (10/11/2025), setelah malam sebelumnya melancarkan bombardemen hebat terhadap kota Khan Yunis di bagian selatan.
(T.FJ/S: The Cradle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!